In

IKIGAI

Saya menemukan IKIGAI saya, Klik untuk melihat hasil lengkap saya!: Temukan diagram IKIGAI saya, keseimbangan sempurna dari apa yang saya sukai, apa yang saya kuasai, apa yang bisa saya bayar dan apa yang dibutuhkan dunia.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In me selftalk

Egois

Awalnya saya benci orang egois. Saya heran, saya nyinyir, saya menghindar. Namun tiba-tiba saya merasa, egois itu bentuk pertahanan diri. Iya, kadang kita perlu egois untuk menyelamatkan diri. Saya mulai memahami rasanya, when no one care about youYour life.

Solusinya? 

Belajarlah egois. Cuma kamu yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri, disaat ga ada yang peduli, kamu sendiri yang harus peduli. Sampai kapan harus ngeduluin urusan orang lain? Sampai kapan harus terus ngalah? Udah deh, mulai mikir urusan mu sendiri. Kepentinganmu. 

Prioritas? 
Diri kamu.

Jangan berhenti jadi orang baik. Ada yang berbisik. 

Apa iya, sedikit egois untuk diri sendiri membuatmu jadi orang jahat? Serius?
Terus selama ini emang ada yang memperjuangkan dirimu? Emang ada yang sekedar nanya apa kabarmu dengan tulus? Gak cuma kepo atau basa basi? atau bahkan cuma prolog dilanjutkan minta tolong de el el. 
Cobalah diinget.

Orang lain juga perlu tau, kamu sedang tidak baik-baik saja. Orang lain juga harus belajar ngertiin kondisimu. Orang lain juga harus tau kamu manusia biasa.

Gak papa.

Kurang-kurangilah merasa bertanggung jawab akan hidup orang lain. Berhentilah memikirkan apa yang orang lain pikirkan, rasakan, ucapkan. Mulailah memikirkan dirimu, masa depanmu.
Bukan menyerah, sungguh.
Kamu lelah.

Oke baik.

Ijinkan saya egois.
Sekali saja.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In finance Inspirasi me

Sandwich Generation, Berkah atau Musibah?


Kemarin lagi rame di twitter bahas tentang hubungan ortu dan anak, antara anak itu rezeki atau punya anak itu pilihan. Merembet ke bahasan ortu yang jadi parasit saat anak itu gede. Lanjut terus bahas toxic parents, bla bla bla.
Hebohlah warganet, dan respon yang diberikan pun beragam. Oke cek dulu deh ni twitnya


Dan kalo diperhatikan respon yang muncul memang tergantung apa yang masing-masing warganet alami sendiri. Subjektif sekali memang.


Kamu gimana?
Pernah dalam posisi terjepit seperti ini?
Antara kebutuhan orang tua, diri sendiri atau bahkan anak atau keluarga barumu. Yup ini lah Sandwich Generation. Generasi yang membiayai hidup ortu atau mertua sekaligus memikirkan rumah tangga sendiri.



Dikutip dari The Asian Parent Indonesia, istilah Sandwich Generation pertama kali dikenalkan oleh Dorothy A. Miller, tahun 1981 melalui jurnalnya yang berjudul The Sandwich Generation : Adult Children of the Aging. 
Dalam jurnalnya, Dorothy menyebut mereka yang termasuk Sandwich Generation adalah orang dewasa yang menanggung hidup anak-anak mereka, juga menanggung hidup orangtua mereka.
Hal ini membuat mereka rentan mengalami tekanan atau stress. Kondisi ini memang rentan dirasakan karena selain menjadi tulang punggung bagi orang tua atau keluarga pertama, mereka juga pemberi nafkah utama dalam hidup anak-anak mereka sendiri. Tekanan ini jika tidak ditangani akan memunculkan beragam masalah. Mulai dari terganggunya pekerjaan, pergaulan, bahkan memicu konflik dalam kehidupan rumah tangga.

See?

Gimana menurutmu? Can you relate?




Di masyarakat kita dimana ikatan kekeluargaan masih kental, rasa tanggung jawab anak terhadap ortu jadi hal yang wajib dilakukan. Terlepas bagaimana orang tua kita dahulu mendidik atau merawat kita, stigma wujud bakti anak itu ya ngurusin ortu, keuangan salah satunya. Kan udah dirawat, dididik, disekolahin sampai sukses, gantian dong kamu yang sekarang nafkahin ortu, biayain adek, dsb.
Namun semakin kesini muncul istilah toxic parents, ketika keluarga broken home semakin banyak, ortu yang memperlakukan anaknya seenaknya secara verbal, psikis maupun kekerasan fisik. Banyak cerita tentang gimana dari kecil diperlakukan kasar, dan trauma terbawa sampai si anak dewasa, atau saat kecil ditinggal orang tua begitu saja, tinggal dengan nenek atau keluarga jauh, saat dewasa ortu tiba-tiba balik membawa masalah segudang.
Udah kaya sinetron aja kan. Dan cerita riil seperti ini gak cuma satu dua case, buaanyaak.
Begitulah, tumbuh dalam keluarga yang baik dan utuh itu saat ini suatu privilege, kawan.




Kalau saya?
Awal-awal punya penghasilan, saya punya idealisme tinggi dalam mengatur keuangan. Saya bebas, mandiri, punya banyak rencana besar, dan suka mencoba berbagai hal. Pada saat itu kondisi ortu masih sehat dan keduanya punya dana pensiun cukup. Dan saya bersyukur ortu gak pernah minta apa pun untuk kebutuhan mereka, tapi saya cukup tahu diri untuk sekedar memberi hadiah atau membayar uang berobat atau belanja untuk keduanya. Malahan mereka yang selalu mengingatkan jangan lupa sedekah, qurban, nabung buat umroh, nabung buat beli tanah, dll. Intinya buat kebutuhan saya sendiri.

Malah pas udah pindah kerja di Jakarta, dan tinggal ngikut Saudara dimana harus berangkat kerja subuh-subuh dr JakBar ke Jaksel, mereka yang khawatir nyuruh cari kosan deket kantor. Biaya ngekos dibayarin ortu dulu. Lah saya mah ngitung ongkos yak, ngekos di Jakarta itu  jutaan, gimana ceritanya mau hemat coba. Selama masih bisa ada pilihan gratis ya saya milih jalan Subuh lah. Haha.
Belajar dari ortu yang gap usia anak-ortu cukup jauh, empat puluh tahun bro! Saya melihat bagaimana mereka mengatur penghasilan, mengelola atau berbagi tugas pengeluaran, membeli aset, membangun rumah, atau bahkan saling ngedumel kalo berbeda pendapat haha. Iya, beranjak besar saya mulai memahami bagaimana struggle-nya mengelola keuangan bagi keluarga pegawai negeri itu.  Ngepas. Pas butuh pas ada. Serius. Entah ini suatu berkah atau gimana, wallahualam, biaya menikahkan kedua kakak saya juga tidak dipersiapkan dengan baik. Tapi pas aja gitu, dari saudara lah, dari dapet arisan lah, atau pas dana pensiun ibu keluar. Ajaib emang.

Yang saya tahu, ortu gak pernah punya tabungan besar. Karena emang gaji mereka sudah habis untuk kebutuhan bulanan. Kalaupun suatu waktu ada kelebihan cash, langsung digunakan untuk qurban, sedekah atau beli tanah lagi, atau umroh. 

Nah, saat ini kondisi ortu mulai sakit dan butuh perawatan ekstra. Diitung-itung dana pensiunan mereka ternyata tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan per bulan. Otomatis harus dibantu anak dong. Kedua kakak saya yang sudah berkeluarga tidak sepenuhnya mampu membantu, akhirnya semua mata tertuju pada saya. Iya begitulah. Dipandang berpenghasilan dan belum berkeluarga jadilah pos pengeluaran saya bertambah. 

Ikhlas insya Allah. 

Meski kadang, jujur terasa berat karena saya tanggung sendiri. Kadang juga saya mikir, trus ini yang mikirin saya siapa? Yang biayain kalo nikah siapa? Karena nabung pun saya susah, dana darurat jujur porak poranda. Liat cashflow pengen nangis.

Eh, kok curhat, haha.
Oke tenang, Allah Maha Kaya.

Memutus Rantai Sandwich Generation
Bagi saya sandwich generation ini cenderung musibah. Pengelolaan keuangan yang tidak direncanakan dengan baik, sehingga akhirnya diserahkan pada generasi selanjutnya.
Gak mau kan beban yang kita rasakan berlanjut ke generasi selanjutnya?
Bukan saatnya lagi berfikir bahwa pilihan untuk memiliki anak bertujuan agar mereka membalas budi pada kita nanti. Berbakti oke, itu memang yang diajarkan agama, gimana dahsyatnya doa anak yang shalih itu menembus ruang dan waktu, namun tidak sampai membebani dan merepotkan bukan?
Saya berharap dapat tetap mandiri, sehat dan bermanfaat saat hari tua nanti.

Trus gimana caranya? 


Mengutip dari ZAP Finance (karena saya sendiri masih belajar untuk hal ini) yang bisa dilakukan adalah

1.     Komunikasi dengan pasangan dan keluarga
Komunikasi akan pengeluaran di luar pos keluarga inti penting karena akan mengurangi kesalahpahaman yang kemungkinan besar akan terjadi. Plus bisa mengurangi beban pikiran jika suami atau istri gak nemu solusi jika ada pengeluaran mendadak.

2.     Menambah alokasi pos pengeluaran
Jika memang alokasi kebutuhan untuk orang tua ini sifatnya rutin, bukan insidental saja, tentu saja perlu dialokasikan dalam pengeluaran bulanan. Besarnya berapa persen tentu saja disesuaikan dengan penghasilan kita dan kesepakatan dengan pasangan.

3.     Penetapan dana darurat
Generasi Sandwich membutuhkan setidaknya dana darurat paling tidak sebesar 12x pengeluaran per bulan. Wow? Iya karena terkait dengan banyaknya anggota keluarga yang harus ditanggung, diluar pasangan dan anak. Jika dikumpulkan secara perlahan, konsisten, dan niat yang kuat dana darurat ini bisa dipenuhi dalam jangka waktu tiga sampai dengan lima tahun.


4.   Asuransi Kesehatan
Opsi wajib adalah BPJS, namun jika orang tua memiliki riwayat penyakit kronis atau risiko tinggi tentu saja perlu tambahan asuransi (kalo gak mau ikut jantungan juga) jika terjadi sesuatu di kemudian hari. Baik untuk ortu maupun diri kita sendiri.

5.   Persiapan untuk generasi selanjutnya
investasi dan persiapan dana pensiun menjadi hal wajib diupayakan mau tidak mau. Perlu direnungkan kembali apakah gaya hidup saat ini sesuai dengan kemampuan finansial atau tidak. Indikator kemampuan finansial adalah kamu sanggup menyisihkan minimal 10 persen dari penghasilan tetap setiap tahun untuk investasi masa depan. Bila jumlah ini belum tercapai secara konsisten, maka mau tidak mau menurunkan biaya hidup dan gaya hidup adalah solusi yang harus diambil.

Gimana? 

Mulai mikir kan? 

Yuk belajar bareng untuk menata dan merencanakan keuangan kita sehingga selalu ada perbaikan kualitas hidup di generasi selanjutnya. 
Iya, paham, memang tidak mudah, saya pun belajar jatuh bangun dari bertahun-tahun lalu dan masih gagal. Tapi setidaknya ada perubahan mindset dan cara mengelola hidup kita dengan lebih baik lagi.

Semangat!

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Korea reviu

A Piece of Your Mind : A Beautiful Healing Drama (Part 2)


SINEMATOGRAFI







Latar belakang cerita saat Winter dan Spring yang mendominasi setiap adegan, memunculkan kesan hangat dan romantis. Filter sinematografinya sepertinya dibuat warm dan romantic, didominasi coklat hangat  semakin mendukung banget suasana menjadi hening dan melow. Pengambilan gambar selalu terlihat indah dan estetik plus therapeutic sekali.




Karena banyak scene percakapan intens antar tokoh, pengambilan scene setiap tokohnya juga sangat pas dalam menangkap emosi  aktor aktrisnya. Sedih berasa banget sedihnya, marah ikutan kebawa pengen marah, sampe eye contactnya juga berasa dalem banget, terlepas bagaimana kualitas akting pemainnya ya.







OST

Original Soundtrack Full album sudah resmi dirilis saat tayang episode terakhir. Dan semuanya bagus, dari Slowly Fall nya Hyunsang, Rain or Shine yang dibawain Elain, sampe Poetic Narrator yang ngebawain Who I Strolled With




Bahkan instrumen pengiring setiap adegan juga khas dan pas banget dengan vibe dan dialognya. Apalagi kalo nontonnya waktu malem-malem sepi duhh, nyess kali. 


Ha Hyunsang (하현상 ) – Slowly Fall


 

 

Poetic Narrator (시적화자) – Who I strolled with (함께 발을 맞춰 거닐던)


PESAN
Dari dialog antar tokoh banyak pesan yang nancep banget di hati. Beberapa yang sangat berkesan bagi saya 

“29 years old are the biggest problem. They think they have it the worst in this world. They worse than people who are 39 and 49. They complain the most saying they’re so old. They think their life is almost over once they turn 30.”
~Moon Son Ho Episode 1


“There is something that I think would keep me going for about three years if someone would say it to me. Something no one ever says to me. Stay. 
Seo Woo…Stay.”
~Han Seo Woo Episode 2


Nyess. Buat orang yang selalu merasa sendiri, pernyataan bahwa keberadaannya dibutuhkan orang lain  dan begitu berharganya dirinya adalah sesuatu yang sangat berarti. I can relate, auto pengen peluk Seo Woo.   

 “Even nature makes mistakes. It’s okay. It’s nothing.”
~Han Seo Woo Episode 2



My unrequited love has at least one percent chance. Who says I’ve 1 percent? You’re alive. You don’t even have 1 percent. So Stop it. I know Ishould be sorry but…
I’m stopping because I’ve only 1 percent. You… you should’ve stopped a while a go.”
~Han Seo Woo Episode 5


Why quit when its to make yourself happy? Ha Won is Ha Won. Leave your one percent as is. Let it be free. Don’t kill it yourself. Ha Won will do as you said. So you don’t need to show him an example.
~Mr. Before Dawn, Episode  6

Is one percent potential or false hope?
“If you think, I have a whole percent, its potential.
If you think, I only have one percent, its false hope.”
~EunJoo, Episode 6


For many years, I put no value in physically seeing someone, and I believed feelings continued even if you didn’t see each other, but I get it now. I get what it means to like looking at someone. It was nice looking at it, when things were tough.” 
~Moon Ha Won, Episode  6

Saat Hawon menyadari kenapa rasa sukanya Seo Woo padanya berawal dari suka ngeliatin dia dari jauh, dan baru sadar memandangi seseorang itu menyenangkan. Uwuwuuu. Yang biasa cinta tak berbalas can relate, right?

 “You didn’t quit, right? One percent is a lot. You Shouldn’t quit. One percent is everything. I really want to see how your one percent grows.”
~Moon Ha Won, Episode  6

Aah I love episode 6, banyak percakapan yang dalem dan bikin nyess. Its so heartwarming .


Well, for me, I just need one person who understands.
“I’m struggling, I’m lonely, help me”
The one person who would listen every time if I tell them right away without hiding it.
~Han Seo Woo Episode 7

“Being sad when you should be angry or annoyed is bad for you. Its okay to be angry. Be brave”
~Mr Choi Episode 11



Kadang kemarahan memang perlu diluapkan. Karena kalau cuma sedih gak memberikan solusi apa pun.  Justru menambah beban pikiran. Meski habis ini Seo Woo cuma gebrak pintu doang liatin In Wook gak ngomong apa-apa haha.  Yang penting lega yaa.

“It’ll get better. The world changes on its own. Rely on it. I’ll get better. It was cold today. But tomorrow will be warm. I’ll get better.”
~Han Seo Woo Episode 11



 Seo Woo berusaha menghibur Ha Won yang habis ngelabrak In Wook

 “If you think you’re alone, you’ll become weak and controlled by people. You cant become weak. You, yourself, think about yourself the most.You have yourself. Why you harming yourself when you’re so precious?”
~EunJoo Episode 12

Saat Seo Woo lagi galau dan dinasihatin sama Eun Joo begitu berharga dirinya, dan sadarlah bahwa banyak orang yang menyayanginya. 

 “Try getting out briefly. Then you’ll see whether you were caught between them or next to them”
Kang In Wook episode 12


Waktu Seo Woo galau pada hubungannya dengan Ha Won, ia malah curhat sama In Wook, dan memutuskan menuruti untuk break sebentar untuk merenung dan memikirkan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Perasaannya. Dan memang benar kadang emosi sesaat membuat kita menyesali sebuah keputusan. Kita perlu menarik diri sejenak dan melihat segala sesuatu secara menyeluruh. Bukan mendramatisir, tapi untuk berpikir lebih jernih dan obyektif.
Masih banyak pesan yang tersirat dalam setiap dialognya, tapi itu si diantaranya yang berkesan banget buat diri saya. 

Ffiiuuhh. Tarik nafas dulu yaa.

Okey, ayo kita ngobrol dulu. 
Sambil ngopi kalo perlu, hehe. 
Soalnya saya lama gak nulis jadi apa-apa pengen diceritain aja bawaannya. Saya sampe gak bisa tidur sebelum selesai nulis reviu ini. Padahal ngantuk banget, tapi gak bisa merem juga. Untung aja lagi libur puasanya jadi sedikit ada waktu luang dan gak merasa bersalah banget gegara dibelain nulis reviu daripada tadarus. Wkwkk.
Yup.
Saya baper. Banget nget. 


Saya banyak nonton drama, dari thriller, romcom, doctor life, school life atau tentang profesi seperti lawyer, desainer sampai pekerja kantoran, tapi juaraaang banget nonton genre Melodrama macam ini. Iya saya suka bosenan dan males liat orang chessy2 galau karena cinta gitu. haha. Bahkan awal-awal promo trailernya muncul pun saya gak nonton, meski sliweran di IG. Ehh ternyata suatu hari di pertengahan April saat scrolling IG gak sengaja nge-klik scene akhir episode 4 itu, dan akhirnya membuat saya ngikutin APOYM sampe kelar. This drama really make me crazy!


Gimana engga, saya jadi suka ngulang-ngulang nonton tiap episodenya, saya sampai bela-belain nonton streaming di TVN meski tanpa sub di hari Senin Selasa karena gak sabar, tiap hari scrolling twitter nyari reviu dan komen-komen, sampe isi petisi gegara menolak pemotongan Episode ! haha edun emangg. Eh dan satu lagi sampe ganti wallpaper hape. Yassalamm Ha Won – Seo Woo membuatku bucin sangat. 
Saya gak pernah nonton drama sampe segitunya. Terakhir nonton Reply 1988 dan menurut saya udah bagus banget, meski telat nontonnya. Bisa juga karena kondisi WFH juga kali yaaa, jadi peluang bucin jadi lebih banyak. Haha. 


Bucin Ha Won otomatis bucin juga sama Jung Hae In, ihiyy.  Beberapa info tentang Jung Hae In  : semakin melejit sejak ia membintangi drama While You Were Sleeping (2017). Setelah itu aktor kelahiran 1988 itu mulai mendapatkan tawaran sebagai pemeran utama pria. Drama yang sukses dibawakan oleh Jung Hae In sebagai pemeran utama pria adalah Something in the Rain (2018) dan One Spring Night (2019). Lewat kedua drama tersebut, masing-masing Jung Hae In berhasil meraih penghargaan sebagai Most Popular Actor dalam ajang Baeksang Arts Awards 2018 dan Best Actor dalam ajang MBC Drama Awards 2019.  



Aku sendiri belum nonton Something in The Rain, katanya sih bagus ceritanya dia menjalin hubungan sama Noona (cewe yang lebih tua) gitu dan dapet pertentangan dari lingkungannya. Kalo yang One Spring Night pernah downlod di Netflix, tapi aku gak kuat nonton huhuhu karena ceritanya Hae In berperan jadi duda anak satu, suka sama cewe yang udah punya tunangan. Yah bisa dibilang cewenya selingkuh sama dia. Aku tak sanggup nonton kalo ada selingkuh2 gitu. jadi aku drop karena bawaannya deg-degan mulu. Mereka yang selingkuh aku yang parno. Ih ogaaah. 



Hae In  juga sempat muncul di Goblin jadi cinta pertamanya Kim Go Eun dan ikut audisi jadi Taek untuk Reply 1988! Ah sayangnya kalah sama Park Bo Gum, ckckck. Tapi sempet nongol juga kok satu scene di episode pas jadi temen SMP nya Deok Sun yang ketemu abis nonton konser sama Jung Hwan. haha.  Next pengen nonton Hae In pas main di Prison Playbook (2017) katanya bagus juga. Ntar aja kalo bucinku sudah berkurang haha. Sampai sekarang pun aku belum nonton drama apa pun yang lagi rame gegara belum move on. Duh bucin Ha Won mulu gimana doongg. Haha. 



Sementara itu, Chae Soo Bin merupakan aktris yang namanya mulai melejit sejak ia membintangi drama Cheer Up! dan House of Bluebird pada 2015 . Lewat kedua drama tersebut, Chae Soo Bin berhasil memenangkan penghargaan sebagai Best New Actress dalam ajang APAN Star Awards 2015 dan KBS Drama Awards 2015. 
Sejumlah drama yang dimainkan oleh Chae Soo Bin sebagai pemeran utama di antaranya adalah Strongest Deliveryman (2017), I’m Not Robot (2017), dan Where Stars Land (2018). Lewat drama Where Stars Land alias Fox Bride Star yang ia bintangi, Chae Soo Bin berhasil memenangkan penghargaan sebagai Excelent Actress dalam ajang SBS Drama Awards 2018. Nah kalo yang terakhir ini aku pernah nonton, lumayan bagus juga ceritanya.



Bagi saya keduanya sukses membangun chemistry tokoh Ha-Won dan Seo-Woo, bagaimana mereka saling membantu menyembuhkan rasa kehilangannya, berantem karena Ha Won bucin mulu, saling mendengarkan , malu-malu  sampai akhirnya perlahan kangen satu sama lain. Aahh they are so sweet coupleUwu couple. Nomu nomu Choaaa.









Ada yang lucu juga, di IG dan twitter banyak yang kecewa  gegara kok Kissing Scene nya cuma sekali sik, cuma poppo doang lagi. Yaelaahh, gini nih yang bikin nilai dari sebuah cerita  turun, naikin rating pake hot kissing scene itu jijay banget gak sih? Dari awal demen drakor jaman jadul Winter Sonata, juga minim skinship, prioritas nonton drakor bagi saya adalah ce-ri-ta. Kalo masalah skinship cuma pemanis doang. Kalo kalian demen drakor nyari intimate scene stop ajah. Gak nemu di drama ini.



Nonton Ha Won sama Seo Woo pandang-pandangan awkward juga udah ikut deg-degan, mereka pegangan tangan mulai ambyarrr, eh mereka pelukan saya guling-guling sendiri karena gemes. Duh Mas Ha Won ambyarrr akuu. 


Okei rasanya sudah terlalu panjang dan saya sudah lega udah nulis banyak juga, banyakan curhat daripada reviu ini mah. Gapapa, yang punya blog mah bebass. Haha. buat kalian yang merindukan Heartwarming and Healing Drama saya sangat merekomendasikan A Piece of Your Mind sebagai salah satu drama yang amat layak ditonton gaess. Aku kasi nilai  9/10 untuk drama ini.



Selamat menjalankan Work From Home dalam suasana Ramadhan, kembali kerja, kembali semangat ibadahnya dan tetep ya Happy Watching!


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Instagram Shots

Instagram

Flickr Images

Popular Posts