In Mei thought

Tentang Syukur


Pernah ga sih, buka laptop di dalem mobil, meski sambil pusing karena itu mobil terguncang-guncang jalan berbatu demi nyelesein kerjaan? Trus lagi di tengah KJA (keramba jaring apung) di tengah laut pula, ditelpon supaya kirim email kerjaan, hingga akhirnya nepi ke pantai yang sepoi-sepoi (plus puanass luar biyasah)dan bukannya mantai melainkan sibuk nyari sinyal demi kirim ntu email plus lampiran yang mengharuskanmu buka laptop. Pernah ga sih lembur ampe pagi di kantor, trus besoknya bawa berkas seabrek buat pembahasan di kementrian keuangan?
Ffiuuh. Itulah kenapa kami, kemana-mana ga bisa lepas dari laptop. Mau dines kemanapun itu barang harus digendong kemana-mana. Meski seabrek file sudah dimasukin ke google drive, yang namanya perubahan file itu bisa ampe berpuluh-puluh kali, plus terkadang kita butuh aplikasi yang tidak bisa dibuka via ponsel atau tab.
Cukup.
Kadang yang namanya mengeluh sudah tak terkira, namun kalau melihat bagaimana banyak profesi lain yang jaaauh lebih menuntut pengorbanan, membuat apa yang sudah kita lalui itu bukan apa-apa. Contoh aja dokter yang berjaga di UGD siang malam, TNI para penjaga perbatasan yang minim fasilitas (air tawar aja susyeh), teman sesama pns yang terombang-ambing berhari-hari di laut demi monitoring lumba-lumba atau paus lewat (asli ini ada beneran, jangan ketawa), atau para perawat di RS yang gak kenal tanggal merah de el el.


Yah, manusia memang tempatnya lupa, penuh keluh dan tak tahu bersyukur. Seringkali merasa paling tertindas, paling capek, ga punya waktu ngurusin diri sendiri, hingga akhirnya kerjaan dijadikan alasan, dijadikan kambing hitam. Lupa melihat kebawah atau bahkan ke sekeliling. Lupa bahwa ribuan atau bahkan jutaan orang lainnya jaauh lebih lelah, jauh lebih berpeluh untuk menghasilkan uang sepersepuluh dari yang kita hasilkan dari pekerjaan kita. 
Dan semua itu menurut saya adalah pilihan, dan mau dilihat dari sisi mana juga sangat relatif. Kerja di hari libur atau lembur sampai tengah malam tak akan pernah bisa dibandingkan dengan berpisah dengan keluarga sampai berbulan-bulan lamanya. Bersyukurlah masih bisa nonton saat weekendatau bertemu keluarga setiap hari meski cuma sejenak. Ada banyak hal yang masih bisa disyukuri, selain mengeluh merasa terdholimi. 

Selamat Hari Jum’at. Alhamdulillah.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In thought woman

Tentang Wanita

Bukan semata-mata tentang Kartini, karena kebetulan ini bulan April, namun tulisan (yang pendek) ini berawal dari kabar duka  yang kemarin datang, Oma, tetangga di Jakarta yang biasa momong Hana (anak dari kakak sepupu) dari bayi dipanggil Yang Maha Kuasa. Minggu sebelumnya memang oma dirawat di RS karena Jantung, tubuhnya bengkak dan sesak nafas. Sempat pulang ke rumah, namun Senin kembali dilarikan ke UGD karena sesak nafas lagi. Hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di RS semalam. 
Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Allahummaghfirlahaa, warhamhaa wa’afihaa wa’fuanhaa.
Oma sekeluarga memang bukan saudara, tapi tidak hanya saya dan keluarga yang kehilangan. Semua tetangga di gang Kota Bambu dan sekitarnya juga berduka. Sosok yang amat sangat baik, sabar, sangat ringan tangan yang akan kami kenang dan tak terlupakan. Opa, suami oma bertahun-tahun dikenal menjadi Pak RT, jauh sebelum saya pindah ke Jakarta dan baru beberapa tahun terakhir lepas jabatan. Sosok penyayang dan sabar menjadikan mereka mendapat panggilan Opa-Oma meski secara usia masih menginjak 50-an karena Opa sendiri belum pensiun.
Mereka memiliki dua putra, dan belum menikah. Keduanya juga kerap membantu kami sekeluarga. Mereka terlihat tegar pada awalnya, bahkan ikut memandikan Almarhumah (saya justru menangis saat melihat proses ini). Namun ternyata putra yang bungsu mendadak pingsan saat prosesi pemakaman, padahal dari awal terlihat tegar mengurus ini itu. Hal ini membawa saya pada momen meninggalnya ibu tahun lalu. Kehilangan itu memang menyakitkan, sangat. Saat kita berusaha keras menguatkan diri, menghibur diri, justru saat itulah lemah jiwa dan raga.
Anak oma yang semuanya lelaki mengingatkan juga pada kedua kakak saya yang anaknya juga lelaki semua. Kebayang gimana rasanya seumur hidup tinggal dengan para lelaki, yang sangat bergantung pada sang mama. Huaaa pengen nangis rasanya, mengingat gimana beliau selalu sigap nyiapin sarapan tiap pagi, gimana beliau sering tidur larut karena nungguin anaknya pulang demi bukain pintu dini hari, gimana sabarnya ngadepin para lelaki yang seenaknya naroh barang, baju kotor, rumah berantakan, dan keriwehan urusan rumah sampe nahan perasaan de el el, Super Mom banget pokoknya.
Hingga akhirnya saya sampai pada titik pertanyaan, mampukah saya? Menjadi ibu luar biasa, yang sabar tanpa batas, yang memiliki berbagai talenta, sanggup mengelola perasaan, menata hati, pikiran, jiwa dan raga sedemikian rupa.

Ah sudahlah, saya jadi pengen nangis.

Tapi sebelum saya lupa, Bagi kalian para lelaki, sayangilah istri, saudara perempuan dan ibumu dengan seBAIK-BAIKNYA, karena dari sanalah pintu surgamu.
Sampaikan salam hormat saya pada beliau.
Salam.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In travelling yogyakarta

Jogjakarta, Jawa yang Istimewa (part 2)

Bakmi Jawa yang Istimewa
Ke Jogja emang rugi banget kalo ga nyicip banyak makanan, dari Bakmi Pele di Alun-alun Utara, Angkringan Kopi Joss di deket Stasiun Tugu, sampe rela jalan kaki nyicipin Bakmi Paino.  Bakmi Jawa Pak Pele bertempat di pojok timur bagian Selatan Alun-alun Utara Yogyakarta, tepatnya di depan SD Keputran dan  buka dari jam 17.30 sampai malam hari. Kita akan disuguhi Bakmi Jawa dengan bumbu sederhana tapi rasa benar-benar istimewa. Telur bebek,  ayam kampung dan kaldu ayam asli mungkin menjadi sumber cita rasa kelezatannya. Untuk pilihannya bisa kita pilih bakmi kuning, bihun atau campur, bisa bakmi godog (kuah) atau goreng.


Kopi Joss emang Joss
Malam hari kita rame-rame ngikut bapak-bapak menuju angkringan di sekitar stasiun tugu, yang memiliki menu unik yakni kopi joss, berupa kopi panas yang disajikan bersama arang panas langsung dari tungku.  Kopi Joss ini menjadi  minuman khas di Angkringan Lik Man dari tahun 1960-an. Kopi ini berkhasiat menghilangkan penyakit seperti kembung, mules dan sakit perut. Bahkan kabarnya beberapa tokoh datang untuk mencoba kopi ini langsung di angkringan seperti Emha Ainun Nadjib, Butet Kertarajasa dan alm. Bondan Winarno sang bapak maknyuss.

Sengaja ga banyak makan di angkringan bareng mbak Wida saya jalan kaki menuju Bakmi Paino di Jalan Bintaran. Didorong rasa penasaran karena baru denger pas di Jogja, pas temen Bapak-bapak banyak yang ngomongin kelezatannya sampai SBY dan wapres Boediono juga menggemarinya dan dibanding Bakmi Gito yang mungkin lebih tenar di Instagram, haha. Mengandalkan Google Maps kita berdua, cewek malem-malem menyusuri jalan Jogja, dari rame sampe sepi. Haha. Tapi memang worthed setelah kita berdua jalan kaki setengah jam itu disuguhi bakmi yang bener-bener uenaak. Yang istimewa adalah setiap hidangan dimasak satu sajian satu kali masak, itu pakemnya. Kita juga bisa menambah ampela ati, kepala atau sayap sebagai tambahan dalam bakmi. Jadi emang cukup lama nunggu sampai hidangan siap santap, meski malam itu ga begitu ramai pengunjung. Sambil nunggu kita bisa menikmati wedang bajigur, minuman jahe dan rempah dengan toping roti, irisan kelapa dan kolang-kaling yang lezat.

Wedang Bajigur
Saat disajikan asli kaget karena buanyak satu piring penuh, dan rasa kuahnya seger banget, bener-bener recommended buat dicoba. Selain menu bakmi godog/goreng, juga ada Sego Godog, Capcay dan Nasi Magelangan yang bisa kalian pilih.

Kuahnya seger banget

Malioboro
Panas-panas goreng pisang
Kopi agak manis di gelas kaca
Di gelar tikar di terang neon
Di ubun-ubunnya Jogjakarta

Gadis manis senyum-senyum
Tawarkan nasi bungkus daun pisag
Sama-sama makan malam-malam
Di ubun-ubunnya Jogjakarta

Semua aku ingat
Dan tak akan kulupa
Kenangan paling indah
Dan paling… paling asyik

Ada yang tahu lagu ini? Lagunya Doel Sumbang ft Nini Karlina, pasti terngiang di kepala kalo ke Malioboro. Dulu pas kecil sering banget nyanyi lagu ini bareng sepupu, haha. Karena kekenyangan Bakmi Paino, kami akhirnya jalan kaki menelusuri Malioboro dari ujung ke ujung. Berhubung sudah jam 10 malam, sudah banyak toko yang tutup, tapi Malioboro tetap ramai dengan lesehan, kaki lima bahkan kentongan yang menunjukan atraksi joget lucu menarik perhatian.


Malioboro masih ramai

Ullen Sentalu
Karena masih ada waktu sebelum balik Jakarta, saya menghubungi Vita adiknya Mita minta anterin ke Ullen Sentalu, lumayan kan bisa sekalian keliling Jogja. Alhamdulillah Vita mau dan pagi-pagi kita jalan ke museum terbaik di Indonesia (pilihan Trip Advisor) di lereng Merapi. Sebelumnya mbak Wida ngajakin ke Borobudur Sunrise, tapi ternyata diitung per orangnya bayar lumayan mahal,euy,sekitar empat ratus ribuan, jadi kita pending dulu.


Ruang Tunggu

Jangan Salah Fokus :) 
Karena berada di lereng merapi saat masuk ke area Museum yang terletak di Jalan Boyong, Kaliurang, kita disambut hawa sejuk cenderung dingin, suasana juga masih banyak pepohonan dan sepi dari pemukiman penduduk.  Tiket masuknya 45 ribu per orang, dan kita bertiga diminta menunggu sejenak sebelum masuk karena setiap pengunjung disediakan Tour Guide atau pemandu yang akan menjelaskan dengan rinci setiap detail bagian museum selama kurang lebih 50 menit, dan pengunjung dibagi menjadi 10 orang setiap kelompoknya. Dan satu lagi, kami tidak diperkenankan mengambil foto dalam museumnya. Ullen Sentalu sendiri merupakan museum milik pribadi, yakni Keluarga Haryono  dan memiliki arti  Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku ( Nyala Lampu petunjuk manusia dalam meniti kehidupan). Diresmikan pada tanggal 1 Maret 1997 oleh KGPAA Paku Alam VIII, yang merupakan Gubernur DIY saat itu.

Nggak bakal bosen muter-muter


arsitekturnya unik
Museum Ullen Sentalu memiliki misi mengumpulkan, mengkomunikasikan dan melestarikan warisan seni dan budaya Jawa yang terancam pudar guna menumbuhkan kebanggan masyarakat pada kekayaan budaya Jawa sebagai Jati diri bangsa. Dan dari sini saya paham kenapa kita dilarang mengambil foto. Proses mengkomunikasikan ini akan lebih efektif jika para pengunjung focus mendengarkan penjelasan, tidak sibuk selfie di dalam museum. Okelah.


Ada Butik juga
gemericik air membuat tenang
Total ada tujuh ruangan di Ullen Sentalu, ruang pintu masuk, Guwo Selo Giri, dan lima ruangan lain di dalam Kampung Kambang. Masuk ke Guwo Selo Giri kita turun ke dalam bunker bawah tanah yang artistic dikenalkan dengan sejarah Mataram Islam di empat keraton Solo dan Yogyakarta; Kasunanan dan Istana Mangkunegaran Surakarta, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Puro Pakualaman Yogyakarta. Juga cerita tentang Gusti Nurul, putri Solo yang cerdas dan memukau dengan surat-surat pribadi yang bener-bener puitis.  Dia merupakan putri keraton tercantik pada masanya (mirip Julia Perez, hehe) bahkan pernah jadi incaran Presiden Soekarno, tapi ia juga banyak menolak pinangan banyak Pria karena dirinya menolak dimadu. Oke sip.


Mirip ITB ya


Sama Vita yang nganterin kemana-mana

akhirnya bisa foto, yeaa


Beliau akhirnya menikah dengan seorang tentara dan menetap di Bandung pada umur 30 tahun (wow tahun 1951 loh, nikah umur segitu). Gusti Nurul meninggal pada umur 94 tahun dan masih sempat meresmikan Ruangan Putri Dambaan di Ullen Sentalu pada Tahun 2002.
Keluar museum kita juga bisa menikmati hidangan lezat di Restoran Beukenhof, masih di komplek museum, tapi karena waktu sempit kami bertiga cuma foto-foto di sekeliling museum dan beli salak pondoh lokal yang banyak dijual penduduk setempat di dekat pintu masuk.

Museum Merapi
Karena gerimis, kami bergegas kembali ke mobil dan akhirnya memutuskan mampir ke Museum Merapi, sebenarnya kepikiran mencoba Lava Tour Merapi tapi ragu karena kita Cuma bertiga dan biaya sewa jeep bisa mencapai 400 ribu plus takut hujan, jadinya kita milih ke museum saja.

Museum ini memiliki bangunan unik dua lantai dan gunung merapi yang sesungguhnya terlihat gagah di belakang sebagai latarnya.


Memasuki museum sebuah replica gunung dengan awan panas akan tampak di tengah ruangan, kita bisa menekan salah satu tombolnya dan suara gemuruh menyerupai letusan akan terdengar disertai nyala lampu dan asap yang keluar di puncaknya. Ada tiga letusan yakni tahun 1969, 1994 dan 2006.


Foto Mikroskopik Batuan


Sisa Letusan Merapi
Merapi terlihat jelas
Di ruangan lain terdapat berbagai display tipe letusan gunung api sejak tahun 1930, benda-benda sisa letusan sampai foto-foto mengharukan saat evakuasi. Panel ilustrasi dan alat peraga menarik banyak dijumpai, namun sayang terlihat banyak pojok ruangan yang bocor, tidak berfungsi dan tak terawat.

Tengkleng Gajah sampai Alun-alun Kidul.
Diajak Vita nyobain tengkleng Gajah, bukan daging gajah tentu saja, namun hidangan daging kambing porsi jumbo. Tengkleng merupakan masakan khas Solo yang berbahan dasar daging, jeroan dan tulang kambing. Sepintas menyerupai gulai kambing, hanya saja lebih encer. Disajikan dalam kondisi panas dengan daging menempel di tulang, aromanya sangat menggiurkan sehingga langsung tandas begitu disajikan.

tengkleng gajah langsung dihajar
tulang belulang lezat
Sebelum pulang, kami singgah lagi di beberapa tempat seperti beli oleh-oleh bakpia dan gudeg, muter-muter UGM, nyicipin gelato di Tempo Gelato yang instagrammable dan terakhir menyaksikan ritual laku masangin pohon beringin di Alun-Alun Kidul.

Tempo Gelato yang selalu ramai


Salah milih, keaseman Lemon Gingernya
pintu geser unik di Tempo Gelato
langit senja di Alun-alun Kidul

bisa dicoba Laku Masangin di Beringin Kembar
Mobil Kayuh Cantik


Berkunjung ke Jogja memang gak akan pernah puas, selalu ada oleh-oleh rasa rindu dan kesan Jawa yang selalu terngiang. Jadi, kapan kita ke Jogja lagi?

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In travelling yogyakarta

Jogjakarta, Jawa yang Istimewa (Part 1)

Terakhir ke Jogja sekitar setahun yang lalu, dan kali ini dapet kesempatan lagi ke Jogja karena ada kerjaan juga, tapi karena acara full empat hari jadi harus pinter nyuri waktu pas break, atau pagi-pagi banget dan setelah acara bubar malem harinya.

Taman Sari
Tempat ini merupakan komplek istana air di sekitar keraton Jogja. Menurut sejarahnya dibangun  sebagai penghormatan kepada istri-istri Sultan Hamengku Buwono I karena telah membantu selama masa peperangan. Dibangun sekitar 500 meter di selatan keraton oleh arsitektur berkebangsaan Portugis, Demak Tegis, dan Bupati Madiun sebagai mandor.
Tiket masuk seharga lima ribu rupiah per orang termasuk sangat murah, sebagai tambahan kita bisa meminta bantuan pemandu lokal untuk menjelaskan seluk beluk dan sejarah di setiap sudut Taman Sari.


Kolam yang dulunya tempat pemandian
Saya berdua mbak Wida, teman kantor, memilih berjalan sendiri memasuki komplek Gapura Panggung, area pertama dari pintu masuk. Area yang dikelilingi kolam yang dulu dijadikan pemandian dan hanya boleh dimasuki oleh Sultan dan keluarganya. Di tempat ini kami bertemu rombongan wisatawan yang dari logatnya kami tahu dari Malaysia, seorang pemandu menjelaskan sejarah Taman Sari dengan logat melayu, dan kami diam-diam ikut mendengarkan, haha. Turis Malaysia semakin sering di temui saat ini, pun saat di Bandung kemarin, ketemu rombongan orang Malaysia di Farmhouse. Malah dapet cerita dari mbak Wida yang memang urang Bandung kalau di Pasar Baru banyak orang Malaysia yang membeli dagangan grosir dan bahkan untuk transaksi para pedagang menyediakan mata uang ringgit. Apalagi sudah tersedia penerbangan langsung dari Malaysia-Bandung. Wah baru sadar era perdagangan bebas sudah di depan mata.
Kembali ke Taman Sari, selain Gapura Agung tempat yang bisa dikunjungi adalah Sumur Gumuling dan Gedung Kenongo. Sumur Gumuling dahulu merupakan masjid bawah tanah, yang memiliki filosofi menarik, yakni hanya dari satu pintu masuk menuju Sumur Gumuling yang melambangkan bahwa manusia tercipta dari tanah dan akan kembali ke tanah.
Menuju Sumur Gumuling

Masuk menuju sumur Gumuling kita harus menuruni tangga dan melalui lorong panjang bawah tanah. Dan jaman dulu tak butuh pengeras suara, sebab atapnya yang bulat menciptakan gema sehingga suara imam tetap bisa terdengar. Masjid terbagi menjadi dua lantai, bawah untuk jamaah perempuan dan atas untuk jamaah laki-laki. Empat tangga mengarah ke pelataran kecil dan satu tangga lain mengarah ke lantai dua. Kelima tangga merupakan symbol dari rukun Islam, dan satu tangga naik ke lantai atas mewakili rukun Islam ke lima, naik haji bagi yang mampu.
lorong bawah tanah
di bawah 5 tangga, dulu dipakai untuk tempat wudhu

Disponsori oleh Kirana Stuff, haha

Lima Tangga Simbol Rukun Islam
Tempat ini merupakan spot paling ramai buat narsis sampai pre wed shot, sehingga harus gantian, sempet malu juga karena si ibu pemandu semangat banget ngambil foto kita berdua, kitanya udah ga enak diliatin orang-orang, si ibunya malah cuek aja, haha.
Keluar dari Sumur Gumuling, kami kembali melewati lorong panjang, dan ceritanya lorong ini sebenarnya panjang sampai tembus ke daerah Pantai Selatan Jawa (parangtritis), namun sekarang jalan tembus itu sudah ditutup. Begitu ceritanya.
Lorong di lantai 2
Ke tempat selanjutnya, yakni Gedhong Kenongo, tempat tertinggi di kompleks Taman Sari, kita harus menaiki tangga yang lumayan tinggi menuju kesana. Tempat ini mengalami beberapa kerusakan akibat gempa yang melanda Yogya di tahun 1867 dan 2006 lalu. Beberapa tak bisa diperbaiki karena akses ke dalam kompleks yang sudah penuh dengan pemukiman abdi dalem sehingga tidak memungkinkan alat berat untuk masuk. Di siang hari tempat ini disebut pantai rumah karena semilir angin yang sejuk dan pemandangan atap rumah di sekelilingnya.
mataharinya masih oke 

shining banget kan

pantai rumah

berasa dimana gitu

melalui rumah-rumah abdi dalem
Keraton
Dari komplek Taman Sari kami naik becak dan bayar 20 ribu menuju keraton, istana yang masih berfungsi sebagai tempat tinggal Raja dan keluarganya. Tiket masuk seharga 5 ribu rupiah per orang , ada ada tambahan jika membawa kamera.
pelataran luas dan banyak pohon sawo

dari museum satu ke museum lain

Sugeng Rawuh
Melangkah masuk melalui gerbang besar akan terlihat sebuah pendopo besar yang bernama Bangsal Sri Manganti. Setiap harinya dilangsungkan pertunjukan seni yang bisa ditonton gratis, mulai dari tari tradisional, nembang macapatan, gamelan dan wayang.
Di dalam kompleks Keraton terdapat beberapa museum dan ruang penyimpanan benda-benda bersejarah milik raja dan keluarga. Yang suka pergi ke museum dan penyuka sejarah pasti asik mengamati satu persatu koleksinya dan gak cukup satu hari untuk berkeliling dari satu ruang ke ruang lain. Dari museum batik, koleksi lukisan, foto, keramik sampai peralatan dapur istana.


ornamen unik di tiang pendopo

buatan Jerman euy

Biyung Emban punya batik sendiri
Museum Batik
Kompleks keraton terbagi menjadi dua bagian, yang bisa dikunjungi wisatawan, dan bagian yang tertutup karena menjadi pusat kegiatan keluarga kerajaan, antara lain Gedhong Jene (menyambut tamu kerajaan), Gedhong Purworetno (ruang kerja Sultan sebagai Raja Yogyakarta), Bangsal Kencana, Bangsal Trajumas, serta Kaputren.

Saat berkeliling saya menyadari bahwa yang paling menonjol dari periode pemerintahan adalah pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Karena pada masa ini Yogyakarta memiliki peran penting dalam masa kemerdekaan Republik Indonesia. Sang Raja juga menjadi wakil presiden RI pada masa tersebut.

Sultan HB IX saat muda
Dan yang paling menarik adalah kebanggaan beliau sebagai orang Jawa yang tertulis dalam risalah penobatan yang diabadikan dalam sebuah plakat di salah satu museum. Ya, karena saya juga orang Jawa tentu saja.
 
Saya adalah dan tetap orang Jawa
Silsilah yang unik
bisa buat isnpirasi
Mangut Lele
Mbak Wida semangat banget mengajak saya ke Mangut Lele Mah Marto, menurut ceritanya saking enangknya itu lele, enaknya masih berasa sampe sekarang, wiiihh makin penasaran kan jadinya.
Naik GoCar kami menuju mangut lele legendaris di daerah selatan pusat Kota Yogya, searah dengan kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta di daerah Sewon, Bantul. Warungnya terletak sedikit mblusuk di gang kecil dan memang rumah kediaman mbah Marto, jadi memang berasa main ke tempat saudara, numpang makan, masuk ke dapur atau pawonnya dan ngambi sendiri makannya. Pawonnya bener-bener pake kayu bakar, asep dimana-mana, dan kita ngambil nasi pake piring sederhana, milih lauk dari bale-bale bambu yang di atasnya tersedia berbagai macam pilihan lauk dan sayur. Ga cuma mangut lele, ada gudeg, sayur daun papaya, sayur rebung, brongkos, opor, tempe dll. Jadi emang berasa makan di tempat nenek kita sendiri.
yang ngidam Mangut lele

Porsi kalap kebanyakan ngambil sayur

tapi itu bukan Mbah Marto yaa

Pilih dan ambil sendiri

Kita bisa makan di ruang tamu atau tengah yang memang disediakan kursi-kursi panjang dan meja, nambah sepuasnya trus baru bayar. Mbah marto nya sendiri masih terlihat sehat, bahkan masih ikut ngasih kembalian kalau ada yang bayar. Buat yang pertama kali kesini, saya sarankan nyobain mangut lele nya dulu, tanpa sayur apa pun, biar ngga ngerusak rasa, karena saya termasuk yang gagal, rasa mangutnya keganggu sayur rebung yg saya ambil kebanyakan. Sayang memang.

Dari mangut lele, kalau kalian pengen ngerasain sate klatak, lokasinya relative lebih dekat, jadi bisa sekalian, kalau saya karena waktu yang mepet jadi belum sempat ngerasain sate klatak ini, semoga lain waktu bisa kesampaian.

lanjut ke part 2

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Instagram Shots

Instagram

Flickr Images

Popular Posts