In me

Syndrom Akhir Tahun

 


Tahun 2020 berakhir hari ini dengan suasana yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di tengah pandemi yang entah kapan berakhir, kita terpaksa menikmati pergantian tahun di rumah saja, tanpa kumpul-kumpul atau begadang tengah malam. Sebenarnya untuk saya sendiri sih sama saja . Malam tahun baru saya terbiasa di rumah saja, meski ga bisa tidur juga karena jedar jeder suara petasan di luar sana. Saya lebih menikmati suasana pergantian tahun untuk diri saya sendiri.

Evaluasi diri, merencanakan mau apa tahun depan. But, 2020 is a sad year. Truly sad. Saya akui pekan ini banyak menangis. Cemas, takut, kecewa, sedih. Feel alone. Padahal sedari bulan agustus saya menyiapkan akhir tahun dengan penuh harap, membangun kebiasaan baru, mencoba optimis, mengurangi sosmed, mengurangi drakor, banyak membaca, membuka hati dsb.

Tapi sepertinya saya kembali lelah. Penghujung tahun ini saya kembali menangis, gelisah, setiap hari. Saya merasa 2020 ini emosi saya diaduk-aduk tanpa henti. Dan kacaunya, saya tak bisa membangun optimisme  seperti biasanya. Rasa sedih begitu mendominasi hingga saya terlalu takut untuk berharap. Takut kecewa.

Bagaimana denganmu? 

Saya harap kondisi kalian jaaauh lebih baik.


Selamat Tahun Baru!

Salam.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In me thought

November Rain


November, sudah bulan ke sebelas.
Hampir setiap hari turun hujan. 
Tempatmu jugakah?

Setelah sekian  lama tidak terkena hujan selama masa pandemi, hari kamis pagi karena jadwal WFO, setengah hati saya terpaksa mengenakan mantel dengan rapat, menembus hujan dengan motor menuju kantor. Di jalan menemukan pemandangan yang sudah lama tak saya temui, dan seketika  menyesali keterpaksaan yang saya rasakan sebelumnya. Ibu-ibu penjual sarapan dan gorengan dengan mantel seadanya masih semangat berkeliling dengan jalan kaki, abang tukang sayur tetap berjejer meski mau tidak mau dagangannya kena hujan, anak-anak bertelanjang kaki asik bermain hujan karena sekolah masih dilakukan secara daring, ojek online berteduh memenuhi pinggiran halte tetap setia menanti orderan.



Iya.

Life must go on.

Emang enak sih, hujan pagi-pagi tarik selimut. Tapi, apa gak malu sama dunia? Sama waktu yang gak akan berhenti berputar?

 

Agustus, September, Oktober. Tiga bulan saya bergulat dengan diri saya sendiri. Berbagai kecemasan, kesedihan, keraguan, sampai kemarahan. Saya menyadari banyak hal tentang diri sendiri. Saya penakut, gak percaya sama diri sendiri, overthinking, lemah tapi sok kuat. Optimis tapi suka nangis.


Iya.

Saya cemas. 

Cemas akan ketidakpastian masa depan. 

Cemas akan kesendirian. 

Cemas karena merasa ditinggalkan. 

 

Bukan, saya bukannya tidak mencoba untuk berfikir positif. Saya berusaha melakukan banyak hal, menyalurkan energi untuk pengalihan. Workout, keluar rumah, sibuk kerjaan, ikut seminar ini itu, main sosmed, belajar nanem, atau masak. Tapi, di satu titik, I feel alone. Again and again. Hampa. 

I don’t know what to do. 

What I want to do.


Dan pada akhirnya, segala rasa itu bukan untuk dilupakan atau dialihkan. Tapi diterima. 

Penerimaan. 

Its okay if you feel sad, angry, or anxious, etc.

You only human.

Kita gak bisa selalu optimis, berfikiran positif terus menerus. Lelah.

 

Selanjutnya, kamu sendiri yang menentukan, kapan akan bangkit. Kapan akan menata ulang kembali. Dengan cara apa, bagaimana. Terserah. 

Happiness is not depends on somebody else. But depends upon ourselves. 

You make it!


Sumber gambar :

kompas.com

aksi cepat tanggap news

 

 

 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Hidup me

Bapak

Tepat tiga tahun berlalu sejak kehilangan ibu, kembali lagi saya kehilangan sosok terpenting dalam hidup. Bapak. Dan rasanya sama sekali berbeda. 
I’m totaly lost and don't know what to do.
Sedih. Bingung. Kacau.
Jujur, sejak beliau sakit bulan Oktober tahun lalu, saya berupaya mempersiapkan diri untuk menghadapi apa pun yang terjadi. Yah setiap hari, setiap pagi, saya berusaha siap dan sedikit cemas sebenarnya mendengar berita apa pun jika Bapak berpulang. Intinya saya mencoba menata mental saya sedikit demi sedikit untuk rasa kehilangan yang sama dengan saat kehilangan ibu. Karena sepenuhnya saya sadar, Bapak memang sudah sepuh dan mungkin beliau juga mulai lelah.
Namun saya salah. Bagaimana pun saya menyiapkan diri, tetap saja berita duka itu begitu menyakitkan. Lebih dari yang saya bayangkan. Rasanya gak sama. Penyesalan lebih besar. 
Kesal, marah, bingung. Banyak hal bercampur jadi satu. Dan tetap saja. 
Saya tidak siap.


Sebagai anak bungsu, saya lebih banyak waktu tumbuh bersama orang tua dibanding kedua kakak saya. Pun sampai saya bekerja di Jakarta, saya yang lebih sering pulang ke rumah, karena kedua kakak saya sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota. Jadi bonding time saya dengan orang tua memang jauh lebih besar. Dan saya bersyukur diberi kesempatan untuk melihat, belajar dan menikmati kebersamaan itu. Susahnya, kesalnya, senangnya sampai berantemnya.
Iya beranjak besar, saya menyadari orang tua juga bisa tidak sempurna. Gap usia yang cukup jauh (42 tahun FYI) otomatis memunculkan banyak ketidaksamaan pandangan, pendapat atau bahkan prinsip.


Kelas 2 SMP saya menyadari betapa perfeksionisnya Bapak. Ketika suatu siang saat pulang sekolah, dengan bangganya saya menunjukkan ke beliau nilai ulangan Fisika saya yang tertinggi di kelas, dapat nilai 8 kalau tidak salah. Bangga dong ya kan? Namun respon Bapak sungguh tak terduga. 
Bukan pujian, beliau malah komentar “kok gak dapet nilai 10? Cuma 8?”
Deg. 
Sejak saat itulah perjuangan saya dimulai. Iya beliau sangat perfeksionis dan menuntut orang di sekelilingnya juga demikian. Tulisan amat rapi, segala hal harus terencana, apa pun harus dikerjakan dengan baik, dsb.
Dan beranjak besar saya mulai menjaga jarak, saya takut, saya menjauh. Dan sampai saya bercita-cita untuk keluar dari rumah.

Terlepas dari kekurangan beliau, Bapak tetaplah sosok yang mengajari saya ngaji, naik sepeda, mengajari saya mengendarai motor. Melatih saya olahraga badminton, pingpong, sampai basket. Orang yang membuat saya suka membaca, belajar apapun, mencoba banyak hal sampai berani bepergian sendiri. Meski anak perempuan saya harus bisa apa saja, naik genteng, pasang bohlam, nangkep ayam sampai nebang pohon pisang!

Saya amat bersyukur, tumbuh dalam keluarga yang begitu menerapkan gender equality, tidak dibatasi belajar apa saja, malah didorong untuk bisa apa saja.
Bapak meski kepala rumah tangga, beliau bisa masak nasi, nyuci sampai nyeterika baju pun saya malah diajari beliau. Mungkin karena beliau yatim piatu sejak kecil, anak bungsu yang tumbuh besar dengan banyak kakak perempuan yang tak kalah luar biasa.

Beliau seorang pekerja keras yang bisa apa saja. Berkebun bisa, tukang kayu, renovasi rumah, sablon sampai fotografi. Sejak terpaksa harus pensiun dini, beliau senantiasa sibuk mengurus dan mencoba banyak hal. Berkebun salak, menanam jati putih, berjualan susu, budidaya ikan, mengurus sawah, sampai renovasi masjid.
Beliau selalu menghormati orang tua dan menjaga silaturahmi, berupaya membantu saudara, keponakan sampai murid yang butuh pendidikan atau pekerjaan. Mengajari mereka berbagai jenis keahlian, mendorong untuk selalu belajar hal baru dan sebagainya.
Dan satu hal yang amat berharga dan amat saya syukuri, beliau guru ngaji dan selalu mengutamakan Pendidikan agama. Dari anak-anak, ibu-ibu sampai orang tua. Saya ingat, beliau yang perlahan mengajak almarhumah nenek saya belajar sholat, menghafal alfatihah, dan surat pendek lain. Insha Allah menjadi amal jariyah beliau. Aamin.

Perlahan, saya mencoba ikhlas, mensyukuri apa pun yang telah terjadi. Everything happens for a reason, right? Allah belum mengizinkan saya berkeluarga, agar saya fokus merawat orang tua. Memberi kesempatan lebih banyak untuk merawat bapak tahun ini. Bersyukur saat pandemi saya bisa full 3 bulan di rumah bersama beliau. Bersyukur masih dikelilingi Saudara dan teman-teman yang begitu memahami kondisi saya.


Terima kasih, Jazakumullah khairan katsir atas segala perhatian dan bantuannya. Begitu berharga bagi saya dan keluarga.
Mohon maaf sedalam-dalamnya atas segala khilaf, kekurangan dan kesalahan yang kami sekeluarga. Serta tidak bosan-bosannya, mohon doa setulus hati untuk kedua orang tua saya.

Ya Allah, ampunilah keduanya, anugerahi rahmat-Mu, kesejahteraan serta maafkan segala kesalahannya.
Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihii wa’fuanhum.
Aamiin aamin  Ya Robbal Alamiin.

Wassalam

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In ikigai Inspirasi

IKIGAI

Saya menemukan IKIGAI saya, Klik untuk melihat hasil lengkap saya!: Temukan diagram IKIGAI saya, keseimbangan sempurna dari apa yang saya sukai, apa yang saya kuasai, apa yang bisa saya bayar dan apa yang dibutuhkan dunia.

Udah nyoba baca tautan di atas?
Paham?
Kalau saya enggak. Terlalu rumit.
Sebenarnya udah pernah denger konsep IKIGAI ini dari dua tahun yang lalu kalo gak salah. Cuma ya selintas aja karena belum terlalu tertarik, dan saya pikir sebelas dua belas sama konsep follow your passion, cuma dari Jepang. Itu pikir saya. Yang menarik adalah ketika semakin didengar, IKIGAI ini mematahkan teori passion, bahwa elu gak akan bisa sustain kalo cuma ngikutin passion, passion doang gak akan ngasih kamu makan, bla bla bla.

Teori dari buku yang banyak beredar, IKIGAI ini adalah irisan dari 4 hal besar, yaitu :
  1. What you LOVE
  2. What you are GOOD at
  3. What the world NEEDS
  4. What you can be PAID for
Oke saya baca dan lanjut nyobain tesnya di https://IKIGAItest.com/id/id-full/?iD=3b1fdf89e714, ada 4 tahapan pertanyaan, dan lumayan bikin ngantuk karena lama gak pernah ikut tes macam ini haha. Intinya si kita diminta memilih mana pekerjaan atau aktivitas yang kita suka-benci, yang kita kuasai atau merasa pandai, mana yang tidak bisa dilakukan, yah seputar itu. 

Entah karena terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab, sehingga lama kelamaan saya bosan dan asal jawab, maka hasil yang saya peroleh terlalu rumit dan beberapa kurang relevan dengan pribadi saya. Gak ngerti juga kalo cara memahami resultnya yang salah dan perlu bantuan konselor atau gimana. Ada yang bisa bantu?



Jadi result besarnya memberikan kesimpulan kalau IKIGAI saya adalah Organized Creator, tapi tertulis juga pada diagram hasil bahwa pekerjaan saya Healthcare Practitioners, ini yang gak ngerti.

Trus hasil selanjutnya :

  1. My Passion (kamu suka dan kamu bisa) hasil tes saya Personal Care and Service   (ngaco, saya gak tahan menangani komplain atau melayani orang);
  2. My Mission (kamu suka dan dunia butuh) yakni Life, Physical and Social Science  (yang ini lumayan relevan);
  3. My Vocation (keahlianmu, dunia butuh dan kamu dibayar) hasilnya Management  (cocok lah yaa dengan pendidikan saya)
  4. My Profession (kamu bisa dan kamu dibayar) muncul Education, training and library (kurang relevan, saya suka buku dan perpustakaan tapi ternyata saya gak bisa ngajar)

Gimana, udah nyoba juga? Sama gak hasilnya? Atau cocok aja punya kalian?
Ya hasilnya memang mungkin, mungkin ya, diarahkan se-obyektif mungkin, jadi kalau banyak hal yang kurang kita sukai atau cocok tapi itu yang dunia butuhkan saat ini. Jadi mengarahkan ke potensi pengembangan karier masing-masing orang.

Kemudian ketika dicari lebih banyak tentang IKIGAI ini, saya malah menemukan adanya misconception atau bahkan ada yg bilang misleading terkait teori IKIGAI yang banyak beredar. Salah satunya bisa dibaca disini https://IKIGAItribe.com/IKIGAI/IKIGAI-misunderstood/ dimana menyebut bahwa Diagram Venn IKIGAI yang menyebar luas itu merupakan Westernized IKIGAI, bukan murni IKIGAI dari Jepang.  Jadi Diagram Venn tersebut adalah sebuah interpretasi penulis Barat yang mencoba menerjemahkan menjadi komponen-komponen yang dianggap akan lebih mudah dipahami.
Dan ternyata kalo diulik lagi, konsep IKIGAI sendiri tidak serumit itu, kawan. Karena jika ditelusuri lagi, dibaca lagi dari Budayawan atau Ilmuwan Jepang sendiri, IKIGAI ini  adalah sebuah NILAI yang merupakan integrasi dari tujuan dan perasaan untuk hidup. 

Ngerti gak? Haha. ya  gampangnya alasan yang membuatmu hidup, bangun dan beraktivitas di pagi hari dengan semangat. Dan IKIGAI ini sifatnya sangat personal dan tidak berkaitan dengan status ekonomi. Bahkan dicontohkan ada yang menyebut “This child is my IKIGAI”.

See?
Sesederhana itu. 

Iya manusia emang suka overthinking, kemana-mana, padahal jawabannya simpel. Dan kita sendiri yang tahu pengennya kita apa, alasan untuk hidup setiap hari itu apa. 
Kita tuh hidup kebanyakan perintilan dan aksesoris gak penting. Sampai melupakan hal-hal esensial dan mendasar, (halah ngomong apaaa aku?). 
Maaf yaa masih belajar memahami hidup dan mengendalikan overthinking nih.  Pada gitu juga gak sih? Overthinking lanjut galau terus mellow. Lho? 
Ya gitu deh.
Galau boleh, tapi jangan keterusan ya, galaunya harus tetep produktif. 
Setuju?

Jadi apa IKIGAI-mu, kawan?








Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In me selftalk

Egois

Awalnya saya benci orang egois. Saya heran, saya nyinyir, saya menghindar. Namun tiba-tiba saya merasa, egois itu bentuk pertahanan diri. Iya, kadang kita perlu egois untuk menyelamatkan diri. Saya mulai memahami rasanya, when no one care about youYour life.

Solusinya? 

Belajarlah egois. Cuma kamu yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri, disaat ga ada yang peduli, kamu sendiri yang harus peduli. Sampai kapan harus ngeduluin urusan orang lain? Sampai kapan harus terus ngalah? Udah deh, mulai mikir urusan mu sendiri. Kepentinganmu. 

Prioritas? 
Diri kamu.

Jangan berhenti jadi orang baik. Ada yang berbisik. 

Apa iya, sedikit egois untuk diri sendiri membuatmu jadi orang jahat? Serius?
Terus selama ini emang ada yang memperjuangkan dirimu? Emang ada yang sekedar nanya apa kabarmu dengan tulus? Gak cuma kepo atau basa basi? atau bahkan cuma prolog dilanjutkan minta tolong de el el. 
Cobalah diinget.

Orang lain juga perlu tau, kamu sedang tidak baik-baik saja. Orang lain juga harus belajar ngertiin kondisimu. Orang lain juga harus tau kamu manusia biasa.

Gak papa.

Kurang-kurangilah merasa bertanggung jawab akan hidup orang lain. Berhentilah memikirkan apa yang orang lain pikirkan, rasakan, ucapkan. Mulailah memikirkan dirimu, masa depanmu.
Bukan menyerah, sungguh.
Kamu lelah.

Oke baik.

Ijinkan saya egois.
Sekali saja.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Instagram Shots

Instagram

Flickr Images

Popular Posts