In me thought

November Rain


November, sudah bulan ke sebelas.
Hampir setiap hari turun hujan. 
Tempatmu jugakah?

Setelah sekian  lama tidak terkena hujan selama masa pandemi, hari kamis pagi karena jadwal WFO, setengah hati saya terpaksa mengenakan mantel dengan rapat, menembus hujan dengan motor menuju kantor. Di jalan menemukan pemandangan yang sudah lama tak saya temui, dan seketika  menyesali keterpaksaan yang saya rasakan sebelumnya. Ibu-ibu penjual sarapan dan gorengan dengan mantel seadanya masih semangat berkeliling dengan jalan kaki, abang tukang sayur tetap berjejer meski mau tidak mau dagangannya kena hujan, anak-anak bertelanjang kaki asik bermain hujan karena sekolah masih dilakukan secara daring, ojek online berteduh memenuhi pinggiran halte tetap setia menanti orderan.



Iya.

Life must go on.

Emang enak sih, hujan pagi-pagi tarik selimut. Tapi, apa gak malu sama dunia? Sama waktu yang gak akan berhenti berputar?

 

Agustus, September, Oktober. Tiga bulan saya bergulat dengan diri saya sendiri. Berbagai kecemasan, kesedihan, keraguan, sampai kemarahan. Saya menyadari banyak hal tentang diri sendiri. Saya penakut, gak percaya sama diri sendiri, overthinking, lemah tapi sok kuat. Optimis tapi suka nangis.


Iya.

Saya cemas. 

Cemas akan ketidakpastian masa depan. 

Cemas akan kesendirian. 

Cemas karena merasa ditinggalkan. 

 

Bukan, saya bukannya tidak mencoba untuk berfikir positif. Saya berusaha melakukan banyak hal, menyalurkan energi untuk pengalihan. Workout, keluar rumah, sibuk kerjaan, ikut seminar ini itu, main sosmed, belajar nanem, atau masak. Tapi, di satu titik, I feel alone. Again and again. Hampa. 

I don’t know what to do. 

What I want to do.


Dan pada akhirnya, segala rasa itu bukan untuk dilupakan atau dialihkan. Tapi diterima. 

Penerimaan. 

Its okay if you feel sad, angry, or anxious, etc.

You only human.

Kita gak bisa selalu optimis, berfikiran positif terus menerus. Lelah.

 

Selanjutnya, kamu sendiri yang menentukan, kapan akan bangkit. Kapan akan menata ulang kembali. Dengan cara apa, bagaimana. Terserah. 

Happiness is not depends on somebody else. But depends upon ourselves. 

You make it!


Sumber gambar :

kompas.com

aksi cepat tanggap news

 

 

 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Hidup me

Bapak

Tepat tiga tahun berlalu sejak kehilangan ibu, kembali lagi saya kehilangan sosok terpenting dalam hidup. Bapak. Dan rasanya sama sekali berbeda. 
I’m totaly lost and don't know what to do.
Sedih. Bingung. Kacau.
Jujur, sejak beliau sakit bulan Oktober tahun lalu, saya berupaya mempersiapkan diri untuk menghadapi apa pun yang terjadi. Yah setiap hari, setiap pagi, saya berusaha siap dan sedikit cemas sebenarnya mendengar berita apa pun jika Bapak berpulang. Intinya saya mencoba menata mental saya sedikit demi sedikit untuk rasa kehilangan yang sama dengan saat kehilangan ibu. Karena sepenuhnya saya sadar, Bapak memang sudah sepuh dan mungkin beliau juga mulai lelah.
Namun saya salah. Bagaimana pun saya menyiapkan diri, tetap saja berita duka itu begitu menyakitkan. Lebih dari yang saya bayangkan. Rasanya gak sama. Penyesalan lebih besar. 
Kesal, marah, bingung. Banyak hal bercampur jadi satu. Dan tetap saja. 
Saya tidak siap.


Sebagai anak bungsu, saya lebih banyak waktu tumbuh bersama orang tua dibanding kedua kakak saya. Pun sampai saya bekerja di Jakarta, saya yang lebih sering pulang ke rumah, karena kedua kakak saya sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota. Jadi bonding time saya dengan orang tua memang jauh lebih besar. Dan saya bersyukur diberi kesempatan untuk melihat, belajar dan menikmati kebersamaan itu. Susahnya, kesalnya, senangnya sampai berantemnya.
Iya beranjak besar, saya menyadari orang tua juga bisa tidak sempurna. Gap usia yang cukup jauh (42 tahun FYI) otomatis memunculkan banyak ketidaksamaan pandangan, pendapat atau bahkan prinsip.


Kelas 2 SMP saya menyadari betapa perfeksionisnya Bapak. Ketika suatu siang saat pulang sekolah, dengan bangganya saya menunjukkan ke beliau nilai ulangan Fisika saya yang tertinggi di kelas, dapat nilai 8 kalau tidak salah. Bangga dong ya kan? Namun respon Bapak sungguh tak terduga. 
Bukan pujian, beliau malah komentar “kok gak dapet nilai 10? Cuma 8?”
Deg. 
Sejak saat itulah perjuangan saya dimulai. Iya beliau sangat perfeksionis dan menuntut orang di sekelilingnya juga demikian. Tulisan amat rapi, segala hal harus terencana, apa pun harus dikerjakan dengan baik, dsb.
Dan beranjak besar saya mulai menjaga jarak, saya takut, saya menjauh. Dan sampai saya bercita-cita untuk keluar dari rumah.

Terlepas dari kekurangan beliau, Bapak tetaplah sosok yang mengajari saya ngaji, naik sepeda, mengajari saya mengendarai motor. Melatih saya olahraga badminton, pingpong, sampai basket. Orang yang membuat saya suka membaca, belajar apapun, mencoba banyak hal sampai berani bepergian sendiri. Meski anak perempuan saya harus bisa apa saja, naik genteng, pasang bohlam, nangkep ayam sampai nebang pohon pisang!

Saya amat bersyukur, tumbuh dalam keluarga yang begitu menerapkan gender equality, tidak dibatasi belajar apa saja, malah didorong untuk bisa apa saja.
Bapak meski kepala rumah tangga, beliau bisa masak nasi, nyuci sampai nyeterika baju pun saya malah diajari beliau. Mungkin karena beliau yatim piatu sejak kecil, anak bungsu yang tumbuh besar dengan banyak kakak perempuan yang tak kalah luar biasa.

Beliau seorang pekerja keras yang bisa apa saja. Berkebun bisa, tukang kayu, renovasi rumah, sablon sampai fotografi. Sejak terpaksa harus pensiun dini, beliau senantiasa sibuk mengurus dan mencoba banyak hal. Berkebun salak, menanam jati putih, berjualan susu, budidaya ikan, mengurus sawah, sampai renovasi masjid.
Beliau selalu menghormati orang tua dan menjaga silaturahmi, berupaya membantu saudara, keponakan sampai murid yang butuh pendidikan atau pekerjaan. Mengajari mereka berbagai jenis keahlian, mendorong untuk selalu belajar hal baru dan sebagainya.
Dan satu hal yang amat berharga dan amat saya syukuri, beliau guru ngaji dan selalu mengutamakan Pendidikan agama. Dari anak-anak, ibu-ibu sampai orang tua. Saya ingat, beliau yang perlahan mengajak almarhumah nenek saya belajar sholat, menghafal alfatihah, dan surat pendek lain. Insha Allah menjadi amal jariyah beliau. Aamin.

Perlahan, saya mencoba ikhlas, mensyukuri apa pun yang telah terjadi. Everything happens for a reason, right? Allah belum mengizinkan saya berkeluarga, agar saya fokus merawat orang tua. Memberi kesempatan lebih banyak untuk merawat bapak tahun ini. Bersyukur saat pandemi saya bisa full 3 bulan di rumah bersama beliau. Bersyukur masih dikelilingi Saudara dan teman-teman yang begitu memahami kondisi saya.


Terima kasih, Jazakumullah khairan katsir atas segala perhatian dan bantuannya. Begitu berharga bagi saya dan keluarga.
Mohon maaf sedalam-dalamnya atas segala khilaf, kekurangan dan kesalahan yang kami sekeluarga. Serta tidak bosan-bosannya, mohon doa setulus hati untuk kedua orang tua saya.

Ya Allah, ampunilah keduanya, anugerahi rahmat-Mu, kesejahteraan serta maafkan segala kesalahannya.
Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihii wa’fuanhum.
Aamiin aamin  Ya Robbal Alamiin.

Wassalam

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In ikigai Inspirasi

IKIGAI

Saya menemukan IKIGAI saya, Klik untuk melihat hasil lengkap saya!: Temukan diagram IKIGAI saya, keseimbangan sempurna dari apa yang saya sukai, apa yang saya kuasai, apa yang bisa saya bayar dan apa yang dibutuhkan dunia.

Udah nyoba baca tautan di atas?
Paham?
Kalau saya enggak. Terlalu rumit.
Sebenarnya udah pernah denger konsep IKIGAI ini dari dua tahun yang lalu kalo gak salah. Cuma ya selintas aja karena belum terlalu tertarik, dan saya pikir sebelas dua belas sama konsep follow your passion, cuma dari Jepang. Itu pikir saya. Yang menarik adalah ketika semakin didengar, IKIGAI ini mematahkan teori passion, bahwa elu gak akan bisa sustain kalo cuma ngikutin passion, passion doang gak akan ngasih kamu makan, bla bla bla.

Teori dari buku yang banyak beredar, IKIGAI ini adalah irisan dari 4 hal besar, yaitu :
  1. What you LOVE
  2. What you are GOOD at
  3. What the world NEEDS
  4. What you can be PAID for
Oke saya baca dan lanjut nyobain tesnya di https://IKIGAItest.com/id/id-full/?iD=3b1fdf89e714, ada 4 tahapan pertanyaan, dan lumayan bikin ngantuk karena lama gak pernah ikut tes macam ini haha. Intinya si kita diminta memilih mana pekerjaan atau aktivitas yang kita suka-benci, yang kita kuasai atau merasa pandai, mana yang tidak bisa dilakukan, yah seputar itu. 

Entah karena terlalu banyak pertanyaan yang harus dijawab, sehingga lama kelamaan saya bosan dan asal jawab, maka hasil yang saya peroleh terlalu rumit dan beberapa kurang relevan dengan pribadi saya. Gak ngerti juga kalo cara memahami resultnya yang salah dan perlu bantuan konselor atau gimana. Ada yang bisa bantu?



Jadi result besarnya memberikan kesimpulan kalau IKIGAI saya adalah Organized Creator, tapi tertulis juga pada diagram hasil bahwa pekerjaan saya Healthcare Practitioners, ini yang gak ngerti.

Trus hasil selanjutnya :

  1. My Passion (kamu suka dan kamu bisa) hasil tes saya Personal Care and Service   (ngaco, saya gak tahan menangani komplain atau melayani orang);
  2. My Mission (kamu suka dan dunia butuh) yakni Life, Physical and Social Science  (yang ini lumayan relevan);
  3. My Vocation (keahlianmu, dunia butuh dan kamu dibayar) hasilnya Management  (cocok lah yaa dengan pendidikan saya)
  4. My Profession (kamu bisa dan kamu dibayar) muncul Education, training and library (kurang relevan, saya suka buku dan perpustakaan tapi ternyata saya gak bisa ngajar)

Gimana, udah nyoba juga? Sama gak hasilnya? Atau cocok aja punya kalian?
Ya hasilnya memang mungkin, mungkin ya, diarahkan se-obyektif mungkin, jadi kalau banyak hal yang kurang kita sukai atau cocok tapi itu yang dunia butuhkan saat ini. Jadi mengarahkan ke potensi pengembangan karier masing-masing orang.

Kemudian ketika dicari lebih banyak tentang IKIGAI ini, saya malah menemukan adanya misconception atau bahkan ada yg bilang misleading terkait teori IKIGAI yang banyak beredar. Salah satunya bisa dibaca disini https://IKIGAItribe.com/IKIGAI/IKIGAI-misunderstood/ dimana menyebut bahwa Diagram Venn IKIGAI yang menyebar luas itu merupakan Westernized IKIGAI, bukan murni IKIGAI dari Jepang.  Jadi Diagram Venn tersebut adalah sebuah interpretasi penulis Barat yang mencoba menerjemahkan menjadi komponen-komponen yang dianggap akan lebih mudah dipahami.
Dan ternyata kalo diulik lagi, konsep IKIGAI sendiri tidak serumit itu, kawan. Karena jika ditelusuri lagi, dibaca lagi dari Budayawan atau Ilmuwan Jepang sendiri, IKIGAI ini  adalah sebuah NILAI yang merupakan integrasi dari tujuan dan perasaan untuk hidup. 

Ngerti gak? Haha. ya  gampangnya alasan yang membuatmu hidup, bangun dan beraktivitas di pagi hari dengan semangat. Dan IKIGAI ini sifatnya sangat personal dan tidak berkaitan dengan status ekonomi. Bahkan dicontohkan ada yang menyebut “This child is my IKIGAI”.

See?
Sesederhana itu. 

Iya manusia emang suka overthinking, kemana-mana, padahal jawabannya simpel. Dan kita sendiri yang tahu pengennya kita apa, alasan untuk hidup setiap hari itu apa. 
Kita tuh hidup kebanyakan perintilan dan aksesoris gak penting. Sampai melupakan hal-hal esensial dan mendasar, (halah ngomong apaaa aku?). 
Maaf yaa masih belajar memahami hidup dan mengendalikan overthinking nih.  Pada gitu juga gak sih? Overthinking lanjut galau terus mellow. Lho? 
Ya gitu deh.
Galau boleh, tapi jangan keterusan ya, galaunya harus tetep produktif. 
Setuju?

Jadi apa IKIGAI-mu, kawan?








Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In me selftalk

Egois

Awalnya saya benci orang egois. Saya heran, saya nyinyir, saya menghindar. Namun tiba-tiba saya merasa, egois itu bentuk pertahanan diri. Iya, kadang kita perlu egois untuk menyelamatkan diri. Saya mulai memahami rasanya, when no one care about youYour life.

Solusinya? 

Belajarlah egois. Cuma kamu yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri, disaat ga ada yang peduli, kamu sendiri yang harus peduli. Sampai kapan harus ngeduluin urusan orang lain? Sampai kapan harus terus ngalah? Udah deh, mulai mikir urusan mu sendiri. Kepentinganmu. 

Prioritas? 
Diri kamu.

Jangan berhenti jadi orang baik. Ada yang berbisik. 

Apa iya, sedikit egois untuk diri sendiri membuatmu jadi orang jahat? Serius?
Terus selama ini emang ada yang memperjuangkan dirimu? Emang ada yang sekedar nanya apa kabarmu dengan tulus? Gak cuma kepo atau basa basi? atau bahkan cuma prolog dilanjutkan minta tolong de el el. 
Cobalah diinget.

Orang lain juga perlu tau, kamu sedang tidak baik-baik saja. Orang lain juga harus belajar ngertiin kondisimu. Orang lain juga harus tau kamu manusia biasa.

Gak papa.

Kurang-kurangilah merasa bertanggung jawab akan hidup orang lain. Berhentilah memikirkan apa yang orang lain pikirkan, rasakan, ucapkan. Mulailah memikirkan dirimu, masa depanmu.
Bukan menyerah, sungguh.
Kamu lelah.

Oke baik.

Ijinkan saya egois.
Sekali saja.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In finance Inspirasi me

Sandwich Generation, Berkah atau Musibah?


Kemarin lagi rame di twitter bahas tentang hubungan ortu dan anak, antara anak itu rezeki atau punya anak itu pilihan. Merembet ke bahasan ortu yang jadi parasit saat anak itu gede. Lanjut terus bahas toxic parents, bla bla bla.
Hebohlah warganet, dan respon yang diberikan pun beragam. Oke cek dulu deh ni twitnya


Dan kalo diperhatikan respon yang muncul memang tergantung apa yang masing-masing warganet alami sendiri. Subjektif sekali memang.


Kamu gimana?
Pernah dalam posisi terjepit seperti ini?
Antara kebutuhan orang tua, diri sendiri atau bahkan anak atau keluarga barumu. Yup ini lah Sandwich Generation. Generasi yang membiayai hidup ortu atau mertua sekaligus memikirkan rumah tangga sendiri.



Dikutip dari The Asian Parent Indonesia, istilah Sandwich Generation pertama kali dikenalkan oleh Dorothy A. Miller, tahun 1981 melalui jurnalnya yang berjudul The Sandwich Generation : Adult Children of the Aging.
Dalam jurnalnya, Dorothy menyebut mereka yang termasuk Sandwich Generation adalah orang dewasa yang menanggung hidup anak-anak mereka, juga menanggung hidup orangtua mereka.
Hal ini membuat mereka rentan mengalami tekanan atau stress. Kondisi ini memang rentan dirasakan karena selain menjadi tulang punggung bagi orang tua atau keluarga pertama, mereka juga pemberi nafkah utama dalam hidup anak-anak mereka sendiri. Tekanan ini jika tidak ditangani akan memunculkan beragam masalah. Mulai dari terganggunya pekerjaan, pergaulan, bahkan memicu konflik dalam kehidupan rumah tangga.

See?

Gimana menurutmu? Can you relate?




Di masyarakat kita dimana ikatan kekeluargaan masih kental, rasa tanggung jawab anak terhadap ortu jadi hal yang wajib dilakukan. Terlepas bagaimana orang tua kita dahulu mendidik atau merawat kita, stigma wujud bakti anak itu ya ngurusin ortu, keuangan salah satunya. Kan udah dirawat, dididik, disekolahin sampai sukses, gantian dong kamu yang sekarang nafkahin ortu, biayain adek, dsb.
Namun semakin kesini muncul istilah toxic parents, ketika keluarga broken home semakin banyak, ortu yang memperlakukan anaknya seenaknya secara verbal, psikis maupun kekerasan fisik. Banyak cerita tentang gimana dari kecil diperlakukan kasar, dan trauma terbawa sampai si anak dewasa, atau saat kecil ditinggal orang tua begitu saja, tinggal dengan nenek atau keluarga jauh, saat dewasa ortu tiba-tiba balik membawa masalah segudang.
Udah kaya sinetron aja kan. Dan cerita riil seperti ini gak cuma satu dua case, buaanyaak.
Begitulah, tumbuh dalam keluarga yang baik dan utuh itu saat ini suatu privilege, kawan.




Kalau saya?
Awal-awal punya penghasilan, saya punya idealisme tinggi dalam mengatur keuangan. Saya bebas, mandiri, punya banyak rencana besar, dan suka mencoba berbagai hal. Pada saat itu kondisi ortu masih sehat dan keduanya punya dana pensiun cukup. Dan saya bersyukur ortu gak pernah minta apa pun untuk kebutuhan mereka, tapi saya cukup tahu diri untuk sekedar memberi hadiah atau membayar uang berobat atau belanja untuk keduanya. Malahan mereka yang selalu mengingatkan jangan lupa sedekah, qurban, nabung buat umroh, nabung buat beli tanah, dll. Intinya buat kebutuhan saya sendiri.

Malah pas udah pindah kerja di Jakarta, dan tinggal ngikut Saudara dimana harus berangkat kerja subuh-subuh dr JakBar ke Jaksel, mereka yang khawatir nyuruh cari kosan deket kantor. Biaya ngekos dibayarin ortu dulu. Lah saya mah ngitung ongkos yak, ngekos di Jakarta itu  jutaan, gimana ceritanya mau hemat coba. Selama masih bisa ada pilihan gratis ya saya milih jalan Subuh lah. Haha.
Belajar dari ortu yang gap usia anak-ortu cukup jauh, empat puluh tahun bro! Saya melihat bagaimana mereka mengatur penghasilan, mengelola atau berbagi tugas pengeluaran, membeli aset, membangun rumah, atau bahkan saling ngedumel kalo berbeda pendapat haha. Iya, beranjak besar saya mulai memahami bagaimana struggle-nya mengelola keuangan bagi keluarga pegawai negeri itu.  Ngepas. Pas butuh pas ada. Serius. Entah ini suatu berkah atau gimana, wallahualam, biaya menikahkan kedua kakak saya juga tidak dipersiapkan dengan baik. Tapi pas aja gitu, dari saudara lah, dari dapet arisan lah, atau pas dana pensiun ibu keluar. Ajaib emang.

Yang saya tahu, ortu gak pernah punya tabungan besar. Karena emang gaji mereka sudah habis untuk kebutuhan bulanan. Kalaupun suatu waktu ada kelebihan cash, langsung digunakan untuk qurban, sedekah atau beli tanah lagi, atau umroh. 

Nah, saat ini kondisi ortu mulai sakit dan butuh perawatan ekstra. Diitung-itung dana pensiunan mereka ternyata tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan per bulan. Otomatis harus dibantu anak dong. Kedua kakak saya yang sudah berkeluarga tidak sepenuhnya mampu membantu, akhirnya semua mata tertuju pada saya. Iya begitulah. Dipandang berpenghasilan dan belum berkeluarga jadilah pos pengeluaran saya bertambah. 

Ikhlas insya Allah. 

Meski kadang, jujur terasa berat karena saya tanggung sendiri. Kadang juga saya mikir, trus ini yang mikirin saya siapa? Yang biayain kalo nikah siapa? Karena nabung pun saya susah, dana darurat jujur porak poranda. Liat cashflow pengen nangis.

Eh, kok curhat, haha.
Oke tenang, Allah Maha Kaya.

Memutus Rantai Sandwich Generation
Bagi saya sandwich generation ini cenderung musibah. Pengelolaan keuangan yang tidak direncanakan dengan baik, sehingga akhirnya diserahkan pada generasi selanjutnya.
Gak mau kan beban yang kita rasakan berlanjut ke generasi selanjutnya?
Bukan saatnya lagi berfikir bahwa pilihan untuk memiliki anak bertujuan agar mereka membalas budi pada kita nanti. Berbakti oke, itu memang yang diajarkan agama, gimana dahsyatnya doa anak yang shalih itu menembus ruang dan waktu, namun tidak sampai membebani dan merepotkan bukan?
Saya berharap dapat tetap mandiri, sehat dan bermanfaat saat hari tua nanti.

Trus gimana caranya? 


Mengutip dari ZAP Finance (karena saya sendiri masih belajar untuk hal ini) yang bisa dilakukan adalah

1.     Komunikasi dengan pasangan dan keluarga
Komunikasi akan pengeluaran di luar pos keluarga inti penting karena akan mengurangi kesalahpahaman yang kemungkinan besar akan terjadi. Plus bisa mengurangi beban pikiran jika suami atau istri gak nemu solusi jika ada pengeluaran mendadak.

2.     Menambah alokasi pos pengeluaran
Jika memang alokasi kebutuhan untuk orang tua ini sifatnya rutin, bukan insidental saja, tentu saja perlu dialokasikan dalam pengeluaran bulanan. Besarnya berapa persen tentu saja disesuaikan dengan penghasilan kita dan kesepakatan dengan pasangan.

3.     Penetapan dana darurat
Generasi Sandwich membutuhkan setidaknya dana darurat paling tidak sebesar 12x pengeluaran per bulan. Wow? Iya karena terkait dengan banyaknya anggota keluarga yang harus ditanggung, diluar pasangan dan anak. Jika dikumpulkan secara perlahan, konsisten, dan niat yang kuat dana darurat ini bisa dipenuhi dalam jangka waktu tiga sampai dengan lima tahun.


4.   Asuransi Kesehatan
Opsi wajib adalah BPJS, namun jika orang tua memiliki riwayat penyakit kronis atau risiko tinggi tentu saja perlu tambahan asuransi (kalo gak mau ikut jantungan juga) jika terjadi sesuatu di kemudian hari. Baik untuk ortu maupun diri kita sendiri.

5.   Persiapan untuk generasi selanjutnya
investasi dan persiapan dana pensiun menjadi hal wajib diupayakan mau tidak mau. Perlu direnungkan kembali apakah gaya hidup saat ini sesuai dengan kemampuan finansial atau tidak. Indikator kemampuan finansial adalah kamu sanggup menyisihkan minimal 10 persen dari penghasilan tetap setiap tahun untuk investasi masa depan. Bila jumlah ini belum tercapai secara konsisten, maka mau tidak mau menurunkan biaya hidup dan gaya hidup adalah solusi yang harus diambil.

Gimana? 

Mulai mikir kan? 

Yuk belajar bareng untuk menata dan merencanakan keuangan kita sehingga selalu ada perbaikan kualitas hidup di generasi selanjutnya. 
Iya, paham, memang tidak mudah, saya pun belajar jatuh bangun dari bertahun-tahun lalu dan masih gagal. Tapi setidaknya ada perubahan mindset dan cara mengelola hidup kita dengan lebih baik lagi.


Semangat!

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Instagram Shots

Instagram

Flickr Images

Popular Posts