In thailand thought

Keluar Kotak



Tanpa disadari, kita hidup, tinggal dalam dunia yang teramat nyaman. Dalam artian  terlalu konsisten dalam satu kondisi, enggan berubah, dan terlalu asyik dengan diri sendiri. Merasa cukup ilmu, cukup pengalaman, cukup cobaan hidup. Lalu sudah. Berpikir bahwa perubahan itu mengganggu,  atau bahkan menghabiskan waktu untuk beradaptasi.
Mungkin ini akan menjadi sangat subjektif, karena berasal dari pendapat pribadi saya. Namun saya berusaha mengungkapkan apa yang saya rasakan, yang saya alami, yang saya lihat hingga menjadi suatu kesimpulan. Saya tidak tahu apa-apa. 
Dunia dan hidup ini terlalu luas dan terlalu singkat untuk dipahami dalam satu waktu atau satu sisi saja.
Sebelum saya lupa, saya akan lanjutkan cerita tentang apa yang saya alami di Thailand bulan lalu. Karena FYI saat ini saya sedang mengikuti training berbeda. Lagi. Jangan protes, haha. Dan lebih lama dari sebelumnya, 7 minggu, plus di ujung Indonesia lagi. Aceh. 
Thailand sama sekali tidak masuk dalam bucketlist saya. Negara yang tidak diprioritaskan untuk dikunjungi. Karena saya berpikir masih sama-sama negara ASEAN, maka ga keliatan serunya, haha. Meski demikian ketika kesempatan itu datang, tetep saja saya cemas. Karena saya sendirian. Saya sering pergi kemana-mana sendiri, keluar kota, ke daerah baru, namun masih dalam wilayah Republik Indonesia. Jadi training kemarin, untuk pertama kalinya saya pergi ke negeri orang sendiri, dalam artian tidak ada orang Indonesia lain. Bertemu orang-orang asing, di tempat asing yang saya sama sekali belum pernah kesana pula.
Diniatkan belajar, dan IOI training ini benar-benar membuka mata saya, dunia baru, karakter baru, ilmu baru. Yah saya kalah dari teman-teman kantor lain yang sering bolak-balik ke LN, cakap berbahasa asing, lihai bersosialisasi, dsb. Saya benar-benar newbie.
Saya datang dengan berbagai prasangka. Teman yang tahun sebelumnya ikut training yang sama, memberikan beberapa informasi, salah satunya, kalo dateng langsung cari teman yang kira-kira bisa diajak kemana-mana, biar gak bingung cari makan, jalan-jaan , dsb karena orang Thailandnya suka gerombol sendiri, bahasa inggrisnya terbatas. Oke, Saya catat. 
Karena saya muslim, siap-siap cari makan yang aman, simpen bekal di kamar, pinter-pinter bagi waktu buat sholat, dll.
Namun pada kenyataannya,banyak hal tak terduga yang saya temui. Bagaimana teman-teman peserta Thailand sangat welcome, meski beberapa orang masih terbatas bahasa inggrisnya, mereka tetap berusaha bersosialisasi dengan baik, jika bingung, mereka akan cepet-cepet minta bantuan teman yang lain untuk menjelaskan. Sering sekali bertanya pengen makan apa? Mau main kemana? (kecuali Santorini ya, haha), butuh apa? Dsb.

Di kelas pun, berasa sekali bagaimana ilmu saya sangat cetek, meski awalnya saya datang dengan sedikit bangga dengan apa yang terjadi Indonesia. Kekayaan laut luar biasa, kebijakan Laut yang mengejutkan dunia, dan Menteri Kelautan Perikanan yang terkenal dimana-mana. Ternyata? Tidak semua orang tahu tentang ini. Kebijakan kita masih sebagian kecil dari apa yang terjadi di regional Asia. Produksi perikanan Indonesia kita memang besar, no 4 di dunia, namun nilai ekspor kita sama sekali tidak masuk 5 besar, masih kalah dengan Thailand dan Vietnam.
Ketika kita protes China yang berekspansi kemana-mana cari ikan, bahkan dapat subsisdi dari pemerintahnya, ternyata saya baru tahu kalau negara lain juga melakukan hal yang sama. Subsidi untuk nelayan yang mencari ikan ke High Seas(Laut lepas) untuk meningkatkan nilai produksi dan memenuhi kebutuhan ikan di negerinya atau untuk ekspor. Sedangkan di Indonesia? Ngadepin ombak dua meter aja nelayan udah langsung balik kanan, padahal justru mungkin ikan banyak terdapat di daerah dengan ombak lebih dari lima meter. Semangat juang nelayan Indonesia masih kalah jauh dengan negara lain, makanya ga aneh kalau laut kita dicuri dari berbagai arah. Bikin gemes kali ya, lihat potensi luar biasa yang gak diapa-apain. 
Sudah seharusnya semangat kita memberantas IUU Fishingdiimbangi dengan semangat untuk memanfaatkan apa yang kita punya. Secara teknologi kita kalah jauh, sehingga setidaknya kita butuh semangat juang untuk berusaha mengejar ketertinggalan kita. Standar produk, nilai tambah, sistem logistik, pasar, dsb.
Yah, berada ditengah-tengah forum pembelajaran seperti ini, kita baru menyadari apa yang tidak kita tahu, apa yang tidak kita punya, dan apa yang seharusnya dilakukan selanjutnya untuk mengejar segala bentuk ketertinggalan.
Tidak hanya dari pengajar atau fasilitator saya memperoleh ilmu, tapi dari sesama peserta yang luar biasa, saya juga banyak belajar. Berbeda negara, berbeda profesi, berbeda pengetahuan, namun kami memiliki semangat yang sama untuk saling berbagi dan belajar. Saling membantu untuk memahami sebuah kasus atau topik, berbagi informasi, dan saling menyemangati ketika bertanya atau mengungkapkan pendapat. And its FUN.




Di luar kelas pun, kami berinteraksi dengan baik, lempar canda, olahraga bareng atau diskusi tentang berbagai hal, politik, sampai agama dan kebiasaaan. 
Saya mengamati bagaimana teman-teman Thailand sangat sopan, hormat terhadap orang yang lebih tua, mengucap salam saat bertemu “Sawadikhaa/khrap” sambil mengatupkan kedua tangan di dada. Santun, karena saat berjalan mereka akan berhenti dan menganggukkan kepala melakukan hal tersebut. Selalu demikian.
Saya juga memperhatikan bagaimana, teman dari Filipina yang sangat gentlemendahulukan peserta perempuan saat makan, berjalan, atau sekedar membukakan pintu. Kawan dari India, Sri Lanka dan Bangladesh yang sangat cerdas, semangat, suka sekali berdiskusi atau membahas suatu hal sampai detail. Dan banyak hal lain.
Dalam tulisan sebelumnya saya pernah menceritakan bahwa ada dua peserta muslim dalam training, saya dan peserta dari Bangladesh. Laki-laki. Anehnya kami justru jarang membahas tentang agama, malah kita lebih sering bahas Korea, karena dia dapet gelar Doktor dari Busan. Haha.
Justru saya banyak diskusi tentang Islam dengan kawan dari Thailand. Apakah mereka yang perempuan bisa melihat rambut saya, kenapa saya selalu pakai rok? bagaimana kalau berenang? Apakah bisa tinggal serumah dengan orang yang berbeda agama? Bisakah menikah beda agama? Atau bagaimana jika dalam satu keluarga beda agama? Dan banyak hal lain lagi.
Karena menurut cerita mereka, jumlah penganut Islam di Thailand semakin berkembang, jadi tidak sulit menemukan makanan halal dimana-mana. Meski lucunya, lotre disana hal yang legal dan biasa, iya lotere yang kita masukin nomer tertentu, diundi trus dapet uang, semua orang bisa beli lotre di Sevel atau di jalan-jalan. Dan mereka cerita kalau Muslim Thailand juga banyak yang ikut beli meski tahu kalau Islam melarang judi. Parah juga haha. 
Trus beberapa orang juga tidak tahu kalau Muslim juga tidak boleh minum alkohol, sehingga beberapa kali saya ditawari bir atau coktail warna-warni. Bahkan setelah tahu kadang mereka bercanda ;Ayo Nu, minum sedikit aja, kan ga ada yang tahu kalo kamu minum, haha.
Saya cuma geleng-geleng ketawa, Tapi Tuhan Tahu kan?
Pernah suatu kali pulang sampe hampir jam 12 malem dan semua orang minum, kecuali saya, udah deg-degan aja cuma saya yang waras, plus teman yang bawa mobil, Ployy,  meski mengaku gak minum banyak, mukanya yang putih udah merah gitu. Tapi syukur bisa nyampe hotel dengan selamat. Ffiuuh.

Untuk sholat alhamdulillah tidak ada kesulitan sama sekali. Karena kuliah senin-sabtu, maka waktu sholat bersamaan dengan waktu istirahat makan siang atau coffee break. Waktu sholat maghrib berbeda 1 jam, jadi sekitar jam 7 malam baru masuk waktu maghrib, jadi saya bisa ijin sholat dulu sebelum pergi. Dan saat di luar pun masih bisa menemukan tempat sholat, di mall atau tempat wisata.
Intinya adalah, seringkali kecemasan kita muncul dari prasangka atau pikiran kita saja, pikiran positif akan membawa kita pada hal yang positif juga. Dan pikiran saya semakin terbuka, banyak hal yang belum kita tahu padahal sudah seharusnya kita tahu. Banyak belajar, banyak berteman, dan yang penting, banyak main, setuju?
See Yaa


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In thailand training travelling

Perjalanan Ke Negeri Siam (Part 3)

Sebelumnya mohon maaf kalo ceritanya kurang jelas, campur aduk dan sering lompat-lompat alurnya, hehe , maklum masih belajar nulis plus nulisnya juga nyolong-nyolong waktu sambil nyelesein kerjaan (yang gak akan pernah berakhir). Jadi nanti versi lengkap tentang reviu makanan, gimana ngatur waktu buat sholat, gimana saya, seorang muslim bisa berinteraksi dan apa aja ilmu yang didapat, akan saya post dalam tulisan yang berbeda. Karena tujuan saya nulis ini sebenernya untuk mengikat memori, dan banyak temen yang nanya gimana rasanya sebulan di Thailand, cerita dong, dll. Lalu terlalu banyak hal yang pengen saya ceritain tapi waktunya terbatas. Mau dibuat vlog kok ya gak pede haha, jadi untuk saat ini saya baru cerita seputar tempat yang dikunjungi dan jalan-jalannya aja dulu. 

Di Hua hin banyak banget tempat wisata yang menarik dikunjungi. Sebelum berangkat tentulah saya searching dulu mana saja tempat yang kira-kira bisa diagendain untuk didatengin. Salah satunya Santorini Park yang instagrammable banget itu. Dari awal dateng udah ngukur nih seberapa jauh, naik apa, berapa tiket masuk, dll. Tapi apalah daya, jadwal training padat dan gak tentu, dan akhirnya belum jadi ke sana karena gak ada temen kesana dan gak ada yang mau nganterin (ah, rindu gojek kalo gini, haha). sebenernya Cuma 30 menit naik mobil kesana, tapi udah manas-manasin temen-temen Thai biar ke sana bareng-bareng ko gak direspon juga, mau kesana sendiri kok ya garing. Kata Ployy, temen cewe yang biasa nyetir, Santorini itu di Cha Am, udah beda distrik, dan sepertinya doi males kalo kesana cuma semobil, ngajakin cowo-cowo juga ga ada yang respon, haha. Tebakan saya si kenapa mereka gak mau ke sana, pertama, mereka udah pernah kesana, dan  kedua, mungkin bagi mereka Santorini itu biasa aja, gak istimewa. Oke baiklah berarti next time saya emang harus ke Thailand lagi, Aamiin.
Oke lanjut lagi, cerita waktu jalan ke night market lainnya. Yaitu Tamarind night market dan Cicada night market. Dua night market ini sebenarnya sebelahan tempatnya, cuma kalo Cicada hanya buka pas weekend or sabtu minggu, Tamarind tiap hari buka, dan keduanya sama-sama rame.



Pertama, kalo di Cicada, pilihannya emang lebih beragam dan terlihat lebih eksklusif. Tempatnya lebih luas, ditata rapi, dan lebih mahal juga harganya. Disini juga selalu ada pertunjukan, karena emang ada panggungnya, seringnya si teater musikal gitu. Trus kalo mau makan, harus nukerin tiket dulu, gak bisa langsung bayar pake baht, tapi khusus buat Food Courtnya aja, dan tiketnya hanya bisa direfund di hari yang sama. 


Seafood masih mentah yang bikin mupeng
Mango Sticky Rice!

FYI pertama kali kesini langsung ngabisin 300 baht lebih cuma buat makan haha. Karena ngelihat seafood langsung ga tahan pengen nyoba. Jadilah beli oyster dan razor clam. Masing-masing seharga 150 baht. Pertama kali nyobain oyster, dan mentah, penasaran banget rasanya. Ternyata dicampur lemon sama saus cabe sama sekali gak amis. Enak. Trus razor clam atau kerang bambu, awalnya fine-fine aja, tapi lama-lama enek karena kebanyakan, atau mungkin karena cuma dikasi sambal dan makan langsung gak pake nasi. Kirain si razor clam ini gak ada di indo, ternyata ada di Jawa Timur, namanya lorjuk, malah pake saus padang segala. Duh kayanya jauh lebih enak.


Oyster Segar
razor clams sudah dibakar dan siap makan
Ngelihat makanan lain, beda harganya jauh banget sama di Hua Hin night market (HHNM), kaya mango sticky rice di HHNM harganya 50 baht di Cicada bisa ampe 120 baht, takoyaki di HHNM cuma 80 baht di sini 150 baht, Thai Tea biasanya cuma 60 baht disini ampe 100 baht.



pernak-pernik lucu
suasana Cicada Night Market
Oke lanjut ke Tamarind, disini juga makanannya lebih murah, dan bisa langsung bayar pake cash. Saya nyobain scallop harga 100 baht, dan lumayan enak, ada juga Koti harga 60 baht, udah pake pisang dan nutella, kaya martabak gitu, yang jualan juga muslim. Kita makan bareng di depan panggung, trus bisa request lagu juga dan disini suasananya emang lebih enak buat ngumpul dan ngobrol. Dinner terakhir kita juga milih tempat disini.



Di Tamarind juga ada yang menjual oleh-oleh seperti kaos, hiasan kayu, baju, tapi memang pilihannya jauh lebih sedikit dibanding Cicada. Kedua Night market ini ditata dengan baik dan rapi, di Indo ada juga ga yang kaya gini? Biasanya saya cuma ke pasar malem yang ada komidi putarnya haha.

kue tradisional

gurita

Scallop 100 baht

saya mah minum air mineral ajah
ketemu milyuner Thailand
Karena gagal ngebujuk ke Santorini, akhirnya malah diajak ke Chocolate Factory, tempat makan dengan menu aneka rupa dari coklat, tapi ada juga menu makanan lainnya. Gak ada yang istimewa si disini, kita icip coklat dikit, numpang foto-foto, trus lanjut ke Hua Hin Railway station


Numpang Foto di Chocolate Factory
Hua Hin Railway Station


Jadi stasiun ini emang jadi icon nya Hua Hin, bahkan meski ada bandara sendiri di Hua Hin, Raja kalo dateng kesini tetep pake kereta. Stasiunnya emang unik, masih mempertahankan arsitektur lama dari kayu khas bangunan Thailand. Pas ke sini lagi panas-panasnya, tapi masih rame juga wisatawan yang berkunjung hanya untuk foto-foto.









Besoknya setelah selesai kelas, diajakin ke Khao Hin Leak Fai Point View, tempat dimana kita bisa lihat seluruh Hua Hin dari atas bukit. Karena tempatnya gak jauh dari hotel, berangkat dari jam 4 sore juga masih kekejar gak kemaleman. Tempatnya mirip National Park, karena masih banyak hutan dan monyet yang berkeliaran. Ada tiga tempat point view yang bisa kita pilih, dan ketiganya kece-kece, Masya Allah, emang keren banget lihat pemandangan dari atas bukit. Laut, gunung, pemukiman semuanya kelihatan.



udaranya segar dan bersih banget






Pekan ke tiga dan ke empat kegiatan makin padat, tugas juga makin banyak. Salah satunya adalah survey Landuse di dua tempat; Hua Hin dan Pranburi, dan peserta pun dibagi jadi dua kelompok. Saya kebagian tempat di Hua Hin, lebih deket memang. Kalo ke Pranburi harus naik mobil sekitar setengah jam dan daerahnya lebih sepi.

Seharian kami turun ke lapangan untuk observasi dan mengidentifikasi penggunaaan lahan di masing-masing wilayah, menganalisis konflik yang mungkin terjadi dari penggunaan lahan tersebut. Karena butuh wawancara dengan penduduk lokal maka pembagian kelompok dicampur antara peserta Thai-Non-Thai. Disini kami untuk melakukan observasi dengan cara menelusuri pantai, gang demi gang, serta memastikan adanya konflik dengan berbincang dengan beberapa orang yang kami temui di jalan. Hua Hin merupakan daerah wisata yang sedang berkembang, maka beberapa konflik yang kami temui berkaitan dengan penggunaan lahan untuk daerah dengan penduduk setempat. Bermunculannya hotel, bar, tempat pijat, dan pertokoan menggeser tempat tinggal dan mata pencaharian mereka.


Hua Hin means 'Stone Head'
Ngobrol sama nelayan yang tinggal diantara resort dan hotel

beberapa bangunan asli yang masih bertahan
Coastal Team
Menyusuri gang demi gang

Salah satu konflik
Tugas selanjutnya setelah observasi lapang adalah kami diminta melakukan analisis penggunaan lahan beserta konflik kemudian merekomendasikan solusi dan kebijakan yang dibutuhkan untuk menangani hal tersebut. Dua hari penuh kami berdiskusi dan mempersiapkan presentasi akhir dengan sebaik-baiknya. 



makan dulu sebelum ke Goa
Di tengah kejenuhan mengerjakan tugas, teman-teman Thailand kembali mengajak berpetualang. Ke Goa. Bukan, bukan goa yang insiden 12 anak terjebak itu, beda, katanya meyakinkan kami. Haha, ya kali, itu kan jauh juga.  Cave adventure, katanya. Untuk terakhir kali, tampaknya mereka ingin meninggalkan kesan tak terlupakan pada peserta Non-Thai. 


Phraya Nakhon Cave, tempat yang akan kami kunjungi berada di Khao Sam Roi Yot National Park, sama dengan Khao Dang Canal yang sebelumnya pernah kami kunjungi, cuma letaknya sedikit jauh. Untuk sampai kesana harus naik kapal dulu karena gua berada di sisi pulau yang berbeda. Pantainya bersih dan memang masih sedikit wisatawan yang datang ke sana. Wisatawan yang bener-bener niat. Kenapa? Menuju goa hanya sekitar 500 meter jalan kaki. Katanya. Daaan bener si 500 meter tapi naik turun jalan berbatu yang dibuat seperti tangga. 



naik kapal dulu

Jadi inget reality show Korea yang suka naik-naik gunung itu. Masya Allah ngos-ngosan benerrr. Dua teman kami menyerah di tengah jalan. Ga kuat dan milih nunggu di tempat pemberhentian dengan tanda 200 meter. Memang disediain tempat duduk tanda sudah setengah jalan. Dan dari sini bisa lihat pemandangan Gulf of Thailand yang keren banget. Masya Allah.


Gulf of Thailand
naik terooosss
ngaso dulu setengah jalan
Oh iya jangan bawa tas berat-berat, bawa minum, trus pake sepatu olahraga yang nyaman. Alhamdulillah kemarin gak hujan jadi jalannya gak licin,meski harus tetep hati-hati dalam melangkah.
Saya nyaris nyerah juga, keringetan, ngos-ngosan untung gak sesek napas, tapi kok ya sayang kalo nyerah, udah sedikit lagi, akhirnya disemangati teman-teman lain berhasil juga sampai ke goanya. Ffiuuhh. Dan lucunya di jalan ketemu beberapa anak kecil dan mereka ga keliatan ngos-ngosan sama sekali padahal anak kecil itu jalan juga, dituntun ortunya tapi gak digendong, kan aneh. Haha.

Huft. Keabisan Minum
ngaso lagi
pengen nyerah rasanya
sedikit lagiii

Dalam Goa yang kita tuju terdapat sebuah paviliun kecil yang dibangun untuk Raja Rama V pada tahun 1890. Dan kemudian Raja Rama VI dan Raja Bhumibol pun pernah berkunjung ke sini. Jadi ngebayangin gimana raja-raja itu sampe ke sini yak? Ditandu? Diturunin pake helikopter? Apa pake pintu kemana saja? (ngaco, maap).

Finally!!!


Lemes
di depan King Pavillion
Waktu terbaik datang kesini memang disarankan pagi hari sebelum jam sebelas, saat cahaya matahari masuk menerobos lubang goa menjadi pemandangan yang menakjubkan. Sayangnya kami datang sore-sore, tapi tetep bagus kok haha.





Selesai foto-foto, pas diajakin balik, udah lemes duluan, huaaa inget naik turunnya itu loh, mana minum udah habis. Bismillah kuat kuat kuat. Dan emang sepertinya sugesti kalau jalan pulang itu terasa lebih cepet, pernah gak ngerasain? Haha. meski tetep naik turun rute yang sama, waktu balik emang kerasa lebih cepet, dan alhamdulillah sampai kembali ke titik start dengan selamat, dan langsung cepet-cepet nyari minum.


berasa Nami Island
Diburu waktu takut kemaleman kami langsung balik ke hotel, ganti baju bentar, sholat maghrib trus lanjut dinner di Tamarind MarketDinner terakhir bersama semua panitia, karena esoknya harus presentasi akhir dan lanjut closing ceremony.

last dinner with team
cumi bakar di Tamarind Market
Huhu gak kerasa waktu berlalu cepat sekali, udah sebulan aja di Hua Hin bareng-bareng. Waktu closing ceremony, saya dikasi tugas, ditunjuk paksa si tepatnya, jadi non-Thai representative untuk ngasih speech kesan pesan or ucapan terima kasih gitu. Berhubung wakil dari Thai Participants udah cowok, maka yang non-Thai harus cewek. Gender balance katanya (padahal yang jago ngomong yang bapak-bapak). Dan dari sembilan peserta non-Thai semua maksa saya yang maju. Haduh, akhirnya saya mau dengan syarat mereka semua ngasi ide apa aja yang mau disampein. Oke, deal. 



last foto session
Meski mereka udah ngasi ide tetep aja, ngerangkai semua pesen itu susyeh. Pas nulis draft saya sampe nangis beneran, karena nulis ucapan special thanks orang per orang, sambil ngebayangin kebersamaan selama sebulan ini. Prof. Wong yang super baik beserta special mango chickennya (beliau masak sendiri loh), Mrs. Pongsri yang super sabar dan udah kaya ibu buat semua peserta, panitia yang selalu direpotin, para pengajar dengan segala ilmu dan selalu ngingetin kita sama idealisme pengelolaan laut, dan para peserta Thai yang memperlakukan kita dengan sangat baik, semua saya sebutin. 


with Mrs. Pongsri Virapat yang super baik
Prof. Wong masak Special Mango Chicken
Eh pas hari H, seusai pemberian sertifikat, dan saya mulai ngomong, audiens malah pada tepuk tangan ketawa. Jadinya saya gak jadi terharu, malah ikutan ketawa. Really good speech katanya. Alhamdulillah.



terharu dipasangin pin alumni IOI

all participants with Prof. Wong
Thai Dancer
Thai Boxing yang super cool
Malamnya kami packing karena esok pagi sudah harus kembali pulang. Rombongan dibagi dua, pertama yang langsung ke Bandara Svarnabhumi dan kedua rombongan ke Bangkok untuk penerbangan esoknya lagi. Karena pesawat saya hari Ahad siang, jadi saya ikut rombongan ke Bangkok. Ternyata di rombongan Bangkok, berlima, saya cewek sendiri. Jjiaah. 


Bye...
Bangkok Team


Sampai hotel di Bangkok, sudah sore, setelah naruh barang kami langsung cuss jalan-jalan, nyobain BTS, sky trainnya Bangkok. Untungnya stasiun Phaya Thai ada di depan hotel persis, jadi kami tinggal jalan dan naik tangga sebentar. Dan stasiun ini ngelink juga ke Airport, jadi bisa naik kereta ke bandara. Celingak celinguk liat kanan kiri karena gak tahu akhirnya kami nyoba-nyoba aja, haha. Liat rute, liat harga tiket, akhirnya pencet-pencet depan mesin dapatlah single journey ticket menuju Siam. Habisnya bingung mau kemana, gak ada peserta Thai yang nemenin. Kami berlima, Grinson dari India, Dennis dari Filipina, Saroj dari Nepal, Tanvir dari Bangladesh, saya. 



Siam Center
 King everywhere
melipir ke MBK
masuk BTS musti ngantri yang rapi


Turun di stasiun Siam, langsung ketemu mall Siam Paragon, Siam Discovery, MBK Shopping centre, huaaa, waktunya kurang buat jalan-jalan. Karena ribet jalan sama bapak-bapak itu saya ijin misah jalan sendiri, biar lebih bebas eksplore kemana-mana, sekalian nyari oleh-oleh. Yang penting internet aman, kalo ada apa-apa, masih bisa buka maps n masih ada LINE group buat SOS haha. 


night market again
Ooopss!
Rencana awalnya saya pengen ke Grand Palace, tapi berhubung waktu mepet dan udah kesorean, jadi cuma jalan muter-muter, nekat banget si emang sendirian, apalagi ini pertama kalinya saya kesini, tapi sambil buka g-maps, ngeliat ini itu, nyampe jalan kaki ke Platinum Mall yang udah mau tutup, sayang banget cuma sebentar.
Besok paginya karena masih penasaran, saya jalan lagi ke Chatuchak Weekend Market, ngajakin si Dennis ga mau, ya udah sendirian. Naik BTS turun di Mo Chit, trus jalan lagi bentar. Ternyata sampe sana kepagian, haha, toko masih banyak yang tutup, jadi cuma beli dompet kecil-kecil trus langsung balik lagi, karena janjian sama Dennis berangkat ke Airport jam 10, jadi jam 9.30 harus udah di hotel lagi. Kita berdua naik taksi ke airport, bisa pesan Grab bayar sekitar 350 baht. Mau naik BTS ribet barang bawaan dan gak ngerti rutenya juga, daripada nyasar kita urunan pesen taksi.




Chatuchak!
bye, Dennis
Sampe bandara dan kita misah ke gate masing-masing, dan Garuda belum buka dong. Liat jam masih setengah sebelas, jadi muter-muter aja di bandara. Jam setengah dua belas udah ngantri panjaaang, dan loket untuk check in belum buka juga. Hiks. Berdiri hampir sejam buat ngantri akhirnya masuk imigrasi dan antrian lainnya, ngepas banget nyampe gate keberangkatan setengah dua. Ffiuhh. 
Gak sempet nyari makanan padahal perut udah laper. Alhamdulillah gak lama pesawat boarding dan dapet makan juga. Di pesawat malah nonton film Kartini nya Dian Sastro, dan mewek sampe mata bengkak, hiks...

Welcome back to Jakarta.
Welcome back to office.
Work. Work. Work. Again.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Instagram Shots

Instagram

Flickr Images

Popular Posts