In Hidup me

How Lucky I am!


Orang pintar kalah sama orang beruntung, pernah dengar ungkapan ini? Yup, akhir tahun waktu yang tepat untuk evaluasi dan juga untuk mensyukuri yang telah kita lewati tahun-tahun sebelumnya. Menurut KBBI, untung/un·tung/ 1 n  adalah sesuatu (keadaan) yang telah digariskan oleh Tuhan Yang Mahakuasa bagi perjalanan hidup seseorang; nasib. Ada lagi yang bilang keberuntungan adalah sesuatu yang kebetulan atau tak disangka-sangka. Dan kalau dilihat di Al-Quran, banyak ayat yang menyebut kata untung ini diantaranya;

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Al Baqarah :5)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan (QS Al Maidah : 35)

Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan
(QS Al A’raf : 69)

Dari ayat di ataslah tulisan ini bermula, seringkali kita lupa bersyukur dan flashback sejenak atas segala yang terjadi dalam hidup kita, sehingga tidak sadar betapa beruntungnya kita. Dan betapa Maha Baiknya Allah menggariskan kisah hidup kita di dunia.

Sekolah
Dibandingkan kedua kakak saya  yang langganan juara umum dari SD, prestasi sekolah saya biasa saja. Memang masih 10 besar, tapi saat SD saya gak pernah juara kelas. Tapi saya merasa beruntung karena dari SD SMP SMA selalu berteman dengan para juara kelas,minimal jago matematika haha. Itu sudah bikin saya bangga kok. Sebangku atau bersahabat dengan mereka sudah membuat saya merasa beruntung. Kenapa? Saat SD saya bersahabat dengan Ieyan anak pindahan dari Bali. Tak sengaja Bapak saya duduk sebelahan sama ayahnya yang berprofesi sebagai hakim waktu ngambil raport, kebetulan juga rumah dinasnya dekat dan searah dengan rumah saya, jadilah kita berangkat dan pulang bareng plus main bareng plus belajar bareng. Dan si Ieyan ini yang memberikan banyak perspektif baru pada saya yang masih bocah (halah bocah pakai ngomog perspektif). Dalam artian saya anak daerah yang masih gak tahu apa-apa tentang dunia luar, taunya sekolah, main, belajar. Sudah. Dan demikian juga teman-teman sebaya saya di sekolah. Nah si Ieyan ini, entah karena didikan keluarganya yang terpelajar dan sering keliling Indonesia ngikutin tugas ayahnya yang hakim, membuat saya takjub karena keaktifannya. kelas jadi seru karena dia aktif bertanya dan menjawab pertanyaan guru, bahkan pertanyaan-pertanyaan ajaib yang kami anak desa yang males nonton berita tak mengerti, seperti Valas, DPR, ekonomi, dsb. Dan waktu itu dia yang masih SD sudah bisa menjawab dengan tegas cita-citanya, kuliah di Fakultas Ekonomi dan jadi SE. Beeuuh... saya yang masih bocah mah gak nyampe sama sekali pikiran itu, taunya berantem sama teman gara-gara sinetron atau acara TV haha. Yah meski kenyataannya yang beneran jadi SE malah saya dan Ieyan sendiri malah jadi Bu Dosen Psikologi di Undip. Alhamdulillah.

Kami berteman sampai kelas 1 SMP, karena ayah Ieyan harus pindah ke Tuban, jadi sejak itu kami hanya berkomunikasi lewat surat (beneran kita surat-suratan via pos hehe) dan baru berganti via ponsel waktu SMA sampai sekarang. Lanjut SMP sampe SMA saya sebangku sama jagoan matematika, Mulyani, dan anehnya, saya bertahun-tahun sebangku sama dia, nilai matematika di ijazah tetap jeblok, haduh. Tapi tetap sehari-hari saya beruntung, karena setidaknya setiap jam pelajaran matematika saya terselamatkan dari guru killer, haha.
Kuliah pun demikian, meski sibuk dengan aktivitas organisasi saya dekat dengan teman-teman yang super serius kuliahnya. Dalam artian cemerlang di kelas dan rajin ngerjain tugas dosen. Tapi anehnya lulusnya saya duluan, beneran, mereka sibuk cari judul skripsi yang sempurna kali ya, jadi lulusnya lama.

Beasiswa
Karena prestasi yang biasa-biasa saja dari SD-SMA saya gak pernah ngebayangin bisa dapat beasiswa, pernah mau ngedaftar pas SMA tapi apa daya gagal masuk karena saya yang anak guru SD masih dipandang mampu secara ekonomi. Terus pernah ikut seleksi masuk IPB Bogor juga gagal karena nilai raport masih kurang bagus, FFiuuuh.
Tapi beruntungnya saat masuk kuliah, saya yang masih maba tak sengaja membaca pengumuman yang ditempel di mading sekretariat mahasiswa. Iseng saya cerita ke ibu dan langsung disuruh daftar. Dengan persyaratan yang tak begitu ribet, masuklah nama saya ke daftar penerima beasiswa yang menerima uang setiap semester. Alhamdulillah.
Dari sinilah saya mulai bersemangat berburu beasiswa. Hingga menjelang lulus bisa ikut seleksi Program Co-Op Telkom, program magang dari Telkom Pusat untuk mahasiswa di seluruh Indonesia. Dimana mahasiswa terpilih bisa bekerja selama 3 bulan di Telkom terdekat dan memperoleh gaji pula. Wow. Saya merasa tertantang karena proses seleksi yang lumayan, dari administrasi, bahasa inggris, presentasi sampai wawancara.
Alhamdulillah, saya berhasil lolos bersama kedua orang teman seangkatan Jenny dan Rini untuk program ini dan magang di Telkom Kandatel Purwokerto selama 3 bulan. Dari sini juga saya mengenal teman-teman dari universitas lain dalam program yang sama, meski kami hanya bersua lewat dunia maya saat tele-conference atau pun chat di group messenger, pandangan saya tentang Indonesia dan keberagamannya semakin terbuka.
Saat saya memutuskan bekerja di Bogor kemudian daftar kuliah S2 di IPB pun penuh dengan keberuntungan. Bagaimana tidak, dengan gaji sejuta  rupiah tahun 2010 saya terbilang nekat daftar kuliah S2. Semester 1 masih aman, semester 2 saya mulai panik karena manajemen keuangan saya berantakan. Di tengah keresahan saya yang nyaris mengajukan cuti kuliah, saya dapat telepon dari Rektorat untuk ikut seleksi Beasiswa Bakrie, katanya saya terpilih karena IPK saya terbaik di jurusan saat itu. Masya Allah, sungguh hanya karena Allah lah saya lulus seleksi setelah tahapan tes online dan wawancara. Sungguh rizki yang tidak disangka-sangka, uang semester aman, ditambah uang saku yang lumayan buat nambahin bayar fotokopian haha.
Man10 Team

Alfarabi Crew

Muka Suntuk Nyusun Strategi Bertahan Hidup😂

Menjelang penyusunan tesis di tahun 2012, lagi-lagi saya nekat resign ngajar. Jam ngajar yang padat, lingkungan kerja yang mulai gak nyaman plus tugas kuliah yang semakin susah, membuat saya galau dan akhirnya memutuskan resign, keluar dari asrama dan mulai ngekos deket kampus. Awalnya dari itung-itungan beasiswa per semester sih secara logika masih nutup buat bayar kosan paling murah dan makan super irit. Tapi saya keliru sodara-sodara, beasiswa tidak selancar yang diperkirakan, semester akhir saat kita membutuhkan untuk biaya tesis, saat itulah ujian yang sebenarnya, beasiswa telat masuk beberapa bulan. Astaghfirullah. Saya mulai kelimpungan, dan drama anak kosan dimulai, dari milih jalan kaki daripada ngangkot atau ngojek, milih ngendon di perpus atau kosan daripada main, lebih milih traktiran daripada beli makan, loh. Hueheehe. Beneran. Beruntung banget saya sekelas sama ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah pada kerja, jadi sering ditraktir deh hahaha.
Tapi pernah satu waktu saya sampe berkaca-kaca, duit di kantong tinggal lima rebu perak, eh teman saya nitip beliin dompet harga sepuluh rebu. Ya Allah, saya yang ga tega nolak sampe bingung ngejawab sms nya. Antara malu cerita dan terlalu optimis dapat rejeki tiba-tiba, haha. Syukurnya ternyata dompet yang dia titipin lagi ga ada stocknya. Ffiuuh...
Oh iya selama S2 juga saya kemalingan laptop dua kali. Laptop pertama hadiah dari sepupu dicuri di asrama tempat kerja, kedua laptop hasil nyicil ke sepupu raib diambil di bus malam pas mudik . huaaa....gak karuan banget rasanya, semua data kuliah dan tesis raib begitu saja. Kalau bukan karena teman-teman super baik di sekeliling saya, mungkin saya gak akan bisa bertahan sampai lulus. Teman-teman kosan yang sering masakin makan gratis, minjemin laptop dan merawat pas sakit sampe teman kuliah yang  minjemin duit dan nraktir makan plus jalan-jalan, hikshiks, Love and miss you all...



Bekerja
Rizki, Jodoh dan Maut memang sudah digariskan Allah sebelum kita lahir. Dan proses pencarian pekerjaan saya juga penuh keberuntungan. Dan salah satu jalan mendekatkan rizki adalah silaturahmi. Dari magang di dompet dhuafa, ngajar di pandu madania, nginput data di ICRAF, sampe masuk di KKP itu semua karena saudara dan teman baik. Eits, bukan nepotisme loh ya, semua sesuai prosedur, hanya yang memberi jalan melalui info adalah teman kuliah, teman kosan dan saudara yang kita jaga baik hubungannya.
Saat penyusunan tesis yang penuh drama, ada teman kosan sibuk daftar lomba kewirausahaan dari kementerian koperasi. Di tengah kegalauan saya cari penghasilan buat nyambung hidup, saya iseng ikutan, dengan ide seadanya, dibanding teman kosan saya yang super pinter karena dia kuliah S3. Saya membuat proposal bisnis salad sayur dan buah,dan lagi-lagi saya beruntung, saya yang iseng malah lolos seleksi dan dapat modal dua belas juta rupiah! Maha Besar Allah. Simple make perfect right?
Meski disambi jualan salad di pasar kaget atau dari promo mulut ke mulut, alhamdulillah bisa menopang kelangsungan hidup dan menyelamatkan seminar dan sidang tesis. Menjelang wisuda, lagi-lagi dari teman kosan, saya diajak membantu peneliti Indonesia di Jepang untuk mengolah data, tentu saja saya tak menolak. Meski harus rela begadang dan dikejar deadline, saya dapet pengalaman penting bagaimana perfeksionisnya orang Jepang haha.
Lanjut Pasca wisuda, di tengah kegalauan berwirausaha atau ngelamar kerja jadi dosen, teman kosan nawarin lagi kerjaan, data analisis di ICRAF, sebuah lembaga internasional bidang agroforestry, di Bogor lebih terkenal dengan CIFOR. Daripada ngelamun galau gak jelas mending kerja, akhirnya saya oke in aja, dan saya gak nyesel bisa bergabung disana, meski cuma kontrak. Ketemu banyak orang keren, dan banyak diantaranya orang asing alias bule, haha. Meski cuma nginput data, saya jadi tahu betapa luasnya Indonesia dan sayangnya data super detail yang saya input itu punya lembaga asing sodara-sodara. Mereka secara profesional menugaskan pegawainya terjun ke pelosok Indonesia, memperoleh data dari warga setempat, kemudian diinput dan diolah dengan baik menjadi sebuah dasar riset dan kebijakan pengembangan agroforestry di dunia. Saya jadi mikir, data sebagus ini pemerintah punyakah? Saya rasa tidak.
Saya bekerja di ICRAF sampai menjelang masuk KKP di tahun 2014. Dan lagi-lagi proses saya ikut ujian CPNS di KKP juga penuh keberuntungan. Saya yang anak ekonomi gak pernah ngebayangin masuk bidang kelautan. Sebelumnya saya ikut ujian CPNS kemenkeu, dan lolos sampai tahap tes fisik dan kebugaran. Di tahap akhir inilah saya gagal. Bayangin dong tengah hari bolong lari-lari keliling stadion, ditambah sprint pulak, teler lah saya. Kemenkeu Failed.
Terus lanjut seleksi dosen di almamater FE Unsoed, ortu berharap banget saya bisa lulus jadi dosen. Administrasi dan ujian tertulis okeh, tapi tahap Micro teaching saya gagap pas speaking in english, grogi abis karena yang nguji ex dosen pembimbing skripsi. Jadilah Dosen Unsoed Failed.
Sebenarnya proses ujian dosen bersamaan dengan proses CPNS KKP, dari teman kosan yang kebanyakan anak perikanan lah saya dapat info ini. Awalnya saya pesimis karena kuota yang tertera cuma 1 orang untuk S2 Manajemen. Bayangin saja 1 orang buat seluruh Indonesia Raya. Kemungkinannya kecil banget kan? Tapi lagi-lagi tangan-tangan tak terlihat bekerja tanpa sepengetahuan kita. Atas izin Allah saya lulus semua tahapan, dan dengan nilai yang sangat bagus. Waow sama sekali tak menyangka. Dan disinilah saya bekerja sampai saat ini. Di Bagian Program yang super sibuk, di tengah hiruk pikuknya Jakarta, yang membuat saya sering pulang malam, namun tak disangka ternyata saya mampu mengikuti ritmenya. Karena disini pula saya memahami dan belajar banyak hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Dari orang-orang baik dan luar biasa di sekeliling saya.




we dont meet people by accident, they are meant to cross our path for a reason.

Yup disinilah tangan-tangan Allah bekerja, dipertemukan dengan orang-orang luar biasa sepanjang hidup adalah sebuah keberuntungan yang wajib disyukuri. Welcome 2018, i ‘ll be waiting for next amazing moment in my life.
See yaa..


Wassalam.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Hidup me thought

Random Think in December

Holaa…
Sudah bulan terakhir di 2017. Sebenernya banyak PR untuk lanjutan tulisan sebelumnya, cuma… lagi mualess banget ngedit. Jadi sebelum ke-distract sama hal lain, lintasan pikiran yang tiba-tiba muncul langsung ku ketik aja. Padahal sebenernya ini masih di kantor dan di luar lagi hujan super deres. Ffiuuhh…pantes banjir dimana-mana, kenapa? Ya karena ujan, bukan karena gubernur baru. Jiaah. Haha…
Habis kesel, perasaan gubernur sebelumnya juga ga sukses-sukses amat beresin banjir. Giliran sekarang banjir karena emang hujan deres banget di bully udah kayak ngerusak kerjaan bertaon-taon. Emang mahabenar netijen dengan segala kuasanya.

Okeh, lanjut ke random topik kali ini, saya mau ngebahas about life perspective. Eits jangan protes dulu, gak seberat yang kalian kira kok. Sebenarnya ini berawal dari pikiran-pikiran sederhana tentang kebiasan hidup kita aja. Pas heboh belanja online kemarin, ada yang beda. Gak biasanya saya ga nafsu ngeborong atau belanja apapun. Asli. Dan baru saya sadari emang udah lama banget ga belanja di olshop apapun. Sebelumnya saya memang beberes baju baju yang lama ga dipake tapi masih bagus, saya sortir dan sumbangin, yang udah buluk atau rusak saya buang. Dan berasa banget leganya, lahir batin. Meski diliat-liat masih banyak juga yang harus disortir haha. Hal ini membawa saya ke sebuah paham bernama minimalism. Ada yang tahu? Sebelumnya saya cuma tahu tentang Marie Kondo, wanita Jepang yang mempopulerkan Konmari Method, cara mengatur atau menata rumah dan perintilannya dengan praktis dan sedikit ekstrim sebenarnya, karena kita bener-bener diajak untuk memikirkan barang-barang mana yang fungsional kita simpan dan barang mana yang hanya bersifat sentimental saja. Sentimental misal menyimpan kenangan padahal sebenarnya jarang banget kita pake, nah! Sortir yang super tega ini yang Konmari ajarkan.

Sumber : http://blog.laruno.com/wp-content/uploads/2017/12/shutterstock_420986638.jpg
Oke kembali ke minimalism, yang intinya adalah menjadikan hidup bermakna dengan sedikit barang, dimana kita mengalihkan pikiran kita terhadap keribetan perintilan dunia seperti baju, transportasi, rumah dan pernak-pernik lainnya, dan memanfaat kan hidup dengan focus pada kehidupan social dan menikmati hidup itu sendiri. Sebenernya konsep ini mengingatkan kita tentang konsep zuhud dalam Islam. Mengalihkan kecintaan kita pada dunia dan focus pada akhirat. Ada sebuah film dokumenter tentang minimalisme yang diinisiasi oleh Joshua Fields Millburn dan Ryan Nicodemus bisa disimak trailer-nya disini (full nya masih berbayar). Kalau disearch di youtube banyak juga tayangan tentang minimalism ini, karena semakin banyak yang mulai mengaplikasikannya, baik secara personal life atau family life. Menarik memang, bagaimana kita mengalihkan fokus pada kekayaan duniawi menjadi kekayaan hidup dalam artian sebenarnya. Kejenuhan yang muncul dari segala macam bentuk dunia yang kita ciptakan sendiri; dering ponsel yang semakin bikin stress, media sosial yang menjemukan, dan dunia kerja yang tiada habisnya. Saat dunia menawarkan segalanya lewat teknologi dan berbagai rupa hal baru dan menarik, justru kita rindu pada kesederhanaan dan kesimpelan hidup. 
Referensi buku minimalis gaya Jepang by Fumio Sasaki

Salah satu hal yang berubah adalah bagaimana saya berpikir tentang uang. Bagaimana di sekeliling saya orang-orang bekerja siang malam mencari penghasilan untuk membayar cicilan rumah atau mobil selama bertahun-tahun. Tapi kapan menikmatinya kalau pulang tengah malam, kemudian sebelum subuh sudah berkutat dengan kemacetan Jakarta. Awalnya saya juga berfikir untuk mengambil cicilan rumah di Depok atau Bogor untuk investasi, namun kemudian saya berpikir, untuk apa? Lebih baik saya menabung untuk travelling ke Korea atau ke Eropa.atau bahkan keliling dunia. Ambisius? Tidak saya kira. Hidup tak sebatas rumah yang kita punya, atau uang yang kita kumpulkan, tapi bagaimana kita sebanyak-banyaknya belajar dari orang lain dan lingkungan sekitar tentang hidup dan bagaimana bermanfaat bagi sesama.
Kemudian dua, bagaimana pesatnya pengaruh media sosial terhadap cara pandang kita dalam hidup. Begitu mudahnya kita dihujani dengan berbagai produk tangible dan intangible di Instagram, youtube, dan lain sebagainya. Idola-idola baru yang muncul bukan hanya karena talenta atau otaknya, tapi karena look so good in media. Selebgram, vlogger dan semacamnya. Saya merasakan betul bagaimana Instagram mendorong saya mencoba berbagai produk olshop. Dari kerudung, jaket, sepatu sampai skin care. Astaghfirullah, mengingat betapa kalapnya saya saat itu, bayangkan hampir tiap minggu abang-abang JNE nganterin paket dari olshop. Hingga akhirnya saya sadar di satu titik saat menatap barang yang belum sempat saya pakai menumpuk begitu saja.

....Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.
(QS. Al Isra’ : 26-27)

Deg. Terima kasih Ya Allah, telah mengingatkan dengan begitu jelas dan tegas. Begitu racunnya medsos hingga orang-orang berlomba-lomba menampilkan sisi diri yang paling update, paling keren, dsb. Secara ekonomi memang dunia medsos adalah pasar yang paling menjanjikan, dan mendorong peningkatan ekonomi dunia kreatif. Para influencer begitu laris dengan endorse berbagai produk, menggantikan advertising atau iklan konvensional. Muncul berbagai jasa dan produk yang sebelumnya tak terbayangkan. Misalnya tren bridal shower, baby shower, home living sampai jasa foto travelling dan foto pas lahiran. Beneran ya, bagi orang biasa seperti saya itu semua bikin ngiler. Siapa sih yang gak pengen liat rumah lucu, ditata rapi, sejuk karena banyak tanaman ijo, trus dalam sekali tap di layar muncul akun yang membawamu pesen barang ini itu dalam sekali klik. Olala, godaan banget gak sih. Trus mupeng lihat begitu mudahnya jalan-jalan ke luar negeri, photo sana sini, dari pre-wed sampe honey moon. Aaak dunia ini begitu melalaikan sodara-sodara.
Okelah, alhamdulillah saya yang sudah setua ini bisa sadar, tapi gimana dengan abege jaman now? Yang duit aja masih minta orang tua? Yang ga bisa nahan diri dengan pesatnya pengaruh media? Gak kebayang. Saya hanya bisa berdoa semoga generasi selanjutnya tidak selemah dan sekonsumtif yang saya bayangkan. Semoga.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Instagram Shots

Instagram

Flickr Images

Popular Posts