In healthylife Inspirasi

Sehat itu murah

You only have one body, so you better take care of it, right?

Saya suka sekali kalimat di atas. Saya dapat dari web Simple Green Smoothies beberapa tahun lalu. Kemudian muncul pertanyaan; Kapan terakhir berolahraga? Kapan mulai membatasi mengkonsumsi makanan tertentu?
Jawaban setiap orang mungkin bervariasi; tapi jawaban saya hanya dua : saat SAKIT, saat dibilang GEMUK, hahaha.
Nikmatnya sehat memang baru kita sadari saat sakit datang, saat tidur tak nyaman, saat nafas terasa sesak, saat kepala berkunang-kunang tak karuan, saat makan pun tak berselera. Maka bersyukurlah kalau kalian ga pernah ngerasain hal-hal itu.


Banyak penyakit muncul karena pola hidup kita yang buruk, kebiasaan terus-menerus yang tanpa kita sadari menjadi sumber penyakit Diabetes, kolesterol, kanker, stroke atau bahkan serangan jantung. Sejak pindah domisili ke Jakarta, saya merasakan pola hidup saya berantakan. Berangkat kerja pagi pulang malam, duduk depan laptop lebih dari 8 jam , semua makanan dihajar, stress, sehingga saya mudah sekali sakit. Flu, batuk, bahkan infeksi pernafasan.
Saking cemasnya akan kondisi badan saya, akhirnya saya mencoba berbagai cara menjalani pola hidup sehat. Banyak yang bilang tren gaya hidup sehat saat ini terbilang mahal. Makanan organik mahal, check up mahal, ikut gym apalagi. Tapi sebenarnya kita bisa mensiasatinya dengan cara-cara praktis dan tetap hemat kantong seperti:

#1.Pahami kondisi kesehatanmu  saat ini
Apakah berat badanmu sudah ideal? Potensi penyakit apa yang kamu punya? Alergi? Seberapa kuat daya tahan tubuhmu? Ini minimal yang harus kita tahu dari badan kita saat ini. Saya sendiri ternyata baru tahu kalau alergi makanan tertentu saat usia menjelang kepala 3. Padahal sedari kecil saya tidak ada alergi apapun. Lingkungan dan pola hidup bisa saja mengubah kondisi fisikmu saat ini. Jadi check up kesehatan rutin sangat dianjurkan. Manfaatkan fasilitas kantor yang gratis atau even pameran kesehatan yang sering ada di even-even di kotamu.


#2.Lakukan kegiatan fisik (olahraga)
Minimal sekali dalam seminggu lakukan kegiatan  fisik dengan berolahraga. Senam, jogging atau bersepeda jadi alternatif olahraga yang murah meriah. Lebih baik lagi kalau bisa rutin 3 kali dalam seminggu. Tidak harus join dengan gym atau club olahraga yang harus membayar fee biar dianggap gaul dan kekinian, hahaha. Karena akhir-akhir ini healthy life style jadi tren tersendiri. Banyak muncul katering diet tertentu, smoothies, cold pressed juice, vegan, atau jenis olahraga seperti pilates, yoga, zumba, dll. Beres-beres rumah juga bisa bakar kalori loh, ngepel, nyeterika, sikat kamar mandi, sekalian kan rumah bersih, badan juga lumayan keringetan, haha.
Oh iya, setiap dua jam duduk ketika bekerja saya berusaha bergerak atau berpindah posisi, kalau memungkinkan berjalan-jalan keliling kantor sambil ngobrol (bukan nggosip yaa) atau iseng naik turun tangga hahaha, pokoknya jangan mager alias males gerak.


#3.Mengelola stres
Banyak penyakit yang dipicu dari stress dan kondisi psikis kita. Apalagi perempuan, seringkali menahan perasaannya. Hiks. Terkadang kalau sedang tertekan atau stress saya bisa sampai sesak nafas . Jadi berhati-hatilah terhadap kondisi psikis kita. Tarik nafas dalam, kemudian istighfar lumayan bisa menenangkan syaraf-syaraf yang tegang. Mendekatkan diri pada Allah juga bisa jadi solusi tepat untuk mental kita yang kadang naik turun karena masalah hidup atau pekerjaan. Allah sebaik-baik pemberi solusi bukan?


#4.Istirahat cukup dan teratur
Nah kalau hal ini relatif. Setiap orang punya ukuran tersendiri dalam istirahat. Ada yang harus tidur 7-8 jam sehari, jam 8 malam harus sudah tidur, dsb. Bagi saya yang unpredictable dari sisi pekerjaan, harus pintar-pintar cari waktu untuk melepas lelah. 4- 5 jam tidur bagi saya sudah cukup, asal benar-benar berkualitas tidurnya. Saat libur saya juga jarang tidur siang, tapi kalau sedang puasa kadang saya mencuri waktu tidur selepas shalat dzhuhur di kantor, hehe. Lumayan kan 30-45 menit  istirahat.
Upayakan tidur sebelum jam 10 malam, sehingga kita bisa bangun untuk shalat malam atau minimal subuh ga kesiangan lah yaa. Kalau kita bangun dengan kondisi yang fresh, tidak terburu-buru karena kesiangan, kita akan siap memulai hari dengan semangat pula. Lebih bagus kalau bisa menyiapkan sarapan dari rumah. Hemat dan sehat bukan?

#6.Rasulullah sering berpuasa
Meneladani Rasulullah, puasa bisa jadi sarana detoksifikasi tubuh. Berpahala, menyehatkan badan dan menghemat pengeluaran pula. Apalagi bagi kalian para lajang . Karena biasanya tantangan terbesar adalah ketika di kantor. Godaan ngemil dan jajan sangat besar. Belum lagi kalau ada traktiran teman kantor, haha.

#7.Jaga kebersihan
Males cuci tangan, ganti baju kotor, kamar berantakan bisa jadi sumber penyakit loh. Mulailah kebiasaan higienis. Wudhu aja minimal 5 kali sehari, masak mau makan aja males cuci tangan? Pulang malam setelah kerja biasanya membuat kita abai dengan pakaian atau kondisi kamar. Memakai baju yang terkena keringat seharian bisa jadi penyebab sakitmu. Siapkan baju ganti di kantor kalau perlu, jika sewaktu-waktu lembur sampai larut malam, masih bisa berganti baju bersih.

#8.Menjaga pola makan
Saat kita memasuki usia menjelang 30an, yang harus kita waspadai adalah konsumsi makanan. Kurangi makanan manis, gorengan, santan atau junk food. Bukan berarti sama sekali tidak boleh, tapi dibatasilah, meskipun gratis, haha. Perbanyak konsumsi sayur dan buah, juga air putih. Minuman instan atau berwarna juga ga baik. Biasakan bawa botol minum sendiri kemana pun. Ini bisa menghemat juga kan? Kadang tanpa sadar kita beli minuman atau jajan di warung atau mini market setiap hari di perjalanan ke atau pulang kantor. Kita ga merasa kalau dikumpulkan uang beli minuman ini dalam sebulan bisa dimanfaatkan untuk pengeluaran lain yang lebih bermanfaat. Coba hitung aja 6000 rupiah kali 25 hari, sama dengan  150 ribu, bisa buat beli buku baru atau jalan-jalan hehe.
Sekarang ini banyak metode yang bisa kita gunakan sebagai acuan, seperti Food Combining, Diet Mayo, Diet GM, atau OCD (langsung kebayang Dedy Corbuzier deh). Ya sesuaikan aja dengan kondisimu masing-masing.


#9.Bersosialisasi
Sebuah studi di Harvard School of Public Health menemukan bahwa seseorang berusia sekitar 70-an tahun yang memiliki hubungan sosial baik, mereka cenderung memiliki kemungkinan kecil terkena penyakit serangan jantung. Bisa juga dengan mengaktifkan diri pada hobby dan komunitas tertentu, seperti traveling, fotografi, atau jalan-jalan murah keliling kota dan museum.


Jadi ga ada alasan lagi untuk merubah pola hidupmu kan? Jangan menunggu sampai sakit yaa...
Wassalam...

Tulisan ini dimuat di hipwee




Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Hidup me

Penilaian

Belakangan ini saya sering mengamati mudahnya orang berkomentar. Berkomentar tentang hidup atau gaya hidup orang lain. Saya tertarik, Karena sebegitu mudahnya komentar itu keluar, tanpa melihat mempertimbangkan perspektif dari kacamata yang dia nilai. Mungkin ini hal yang gak begitu penting, tapi menurut saya bisa jadi pembelajaran buat semua.
Pertama, gaya hidup. Beberapa minggu yang lalu saya mengamati sebuah twit dari gitasav (youtuber yang saya suka sebenernya) yang ramai dikomen banyak warga net alias netizen, dia ngetweet begini:


Saking ramainya sampai dia buat tulisan di blognya buat memperjelas cuitannya. Ambigu juga si karena dia ngetweet apa yang temennya katakan padanya dan bisa jadi dia setuju. Pihak yang protes, mungkin merasa itu ya haknya dia mau makan dengan duit berapapun, terserah dong. Sedangkan pihak yang setuju mayoritas dari suara-suara mahasiswa yang super ngirit dan itungan. Yess, saya juga ngalamin jadi mahasiswa, saat uang serebu perak pun berharga. Saat lebih milih jalan kaki dari pada bayar angkot dua rebu apalagi ngojek tiga rebu.
Dan bertahun-tahun kemudian, saat ngerasain dunia kerja dan dapet hasil dari jerih payah kita, akhirnya saya juga ngerasain ngerogoh duit 200rebu cuma buat makan enak. And im fine. Awal-awal kerja emang masih sayang, saya ngerasain juga adaptasi gini, cuma lama kelamaan mikir juga pelit amat si buat diri sendiri? Menghadiahi diri sendiri gak salah toh? Kadang saya beli barang bermerek yang harganya bisa lebih dari sejuta, gak sering sih. Dulu juga gak ngebayangin saya rela beli barang harga segitu. Tapi buktinya? Sekarang saya merasa ini saatnya menghargai diri saya. Pergi kerja subuh pulang malem, ada waktunya nikmatin kerja keras toh ga masalah. 
Terlepas berapa besar sedekah atau charity yang saya anggarkan, percayalah ini sudah diperhitungkan. Jadi jangan mudah menghakimi orang. Kalian yang protes dengan pernyataan saya pasti belum ngerasain dunia kerja, coy. (haha ngikut gayanya gita) Beda sama sekali dengan dunia mahasiswa yang idealisnya super.
Saat mahasiswa saya juga pernah dapet beasiswa, pernah ngerasain kuliah sambil kerja, pernah jualan juga. Dan itu berharga banget. Kita ngerasaain bagaimana susahnya ngehasilin atau cari duit. Dan saya tahu yang kalian rasain. Engga salah si kalo kalian pada tersinggung, tapi terbukalah terhadap berbagai perspektif penilaian. Dan bersiaplah pada dunia yang lebih luas dari perkiraan kalian semua. Kita lihat aja bagaimana kondisi kalian 4-5 tahun lagi.
Kedua, komentar tentang hidup. Ada teman sekantor yang tinggal terpisah dengan anak dan suami, sebut saja mbak A. Suaminya di luar pulau kerjanya, anak-anaknya di lain kota juga tinggal dengan orang tua Mbak A, dan ia sendiri di Jakarta, karena tuntutan pekerjaan, tapi 1-2 minggu sekali dia selalu pulang. Kemudian ada teman laki-laki sekantor komen gini ,
“Kalo gw jadi mbak A, gw milih resign dah! ngurusin anak-anak.”
 Trus? Lagi-lagi saya terusik. Mbak A ini kerja dapat IZIN dari suaminya dan keluarga, mungkin ia juga ngerasa berat banget ninggalin anaknya yang masih balita. Tapi nggak usah menambah pikiran dia dengan komen yang nyakitin hati kan? Ini pilihan dia yang terbaik. Kita gak tau pertimbangan apa yang dia pilih. Ini hidupnya, hormati aja. Kita gak tau susah atau sulitnya kehidupan orang. Kalo gak bisa bantu minimal gak usah komen negatif bisa kan?
Saya nulis ini sambil ngebayangin apa si yang orang lain nilai tentang diri saya. Yang udah umur segini, belum nikah, ninggalin orang tua ke jakarta buat kerja. Hey, saya juga ga pernah ngebayangin bakal kerja di Jakarta, coy. Berat juga rasanya, kalian ga tau proses hidup saya sampe sekarang. Yah terserah bagaimana penilaiannya, tapi mulai arif lah dalam berkomentar. Hidup ini relatif. Jangan sampai kita menyakiti orang dengan komen iseng kita.
Dipikir baik-baik efeknya atas komen kalian, oke?

Wassalam

Kantor, 15:23, saat tumben bisa pulang sore-sore.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #30hariMenulis Hidup me

Hidup Untuk Belajar Atau Belajar Untuk Hidup?

Beberapa minggu yang lalu saat saya pulang ke rumah, saya sempat kaget, ketika mendapati keponakan saya (anak kakak sepupu) mengerjakan PR sekolahnya dibantu Buliknya (kakak sepupu saya yang lain). Yang membuat saya kaget adalah, dua orang keponakan saya, Iza ,kelas 3 SD dan kakaknya Nana, kelas 5 SD mengerjakan soal matematika yang saya nilai cukup sulit untuk anak seumuran mereka. Iza mengerjakan soal perkalian pecahan dengan bilangan puluhan, dan Nana mengerjakan soal bangun ruang, yang seingat saya sering keluar di soal ujian PNS atau Tes Potensi Akademik level S1 sodara2.

Meski kedua keponakan saya ini termasuk anak yang cukup pintar, dilihat dari prestasi di sekolahnya yang selalu masuk 3 besar, saya melihat keduanya juga mengalami kesulitan dalam memahami soal-soal tersebut. Dan ketika saya mencoba mengingat kembali jaman SD saya dulu (20 tahun yang lalu), saya merasa pelajaran sekolah level SD saat ini jauh lebih sulit. Entah apakah saya yang lupa atau memang demikian adanya. Ada yang tahu?
Terlepas dari tuntutan perkembangan jaman yang mungkin merubah sistem pendidikan kita, saya generasi yang lahir tahun 80an merasa porsi bermain saya masih banyak. Waktu istirahat yang cukup lama, kemudian pulang sekolah masih bisa bermain sejenak sebelum mengaji di masjid. Bermain dalam hal ini benar-benar bermain di luar ruangan, main sepeda, main kasti di lapangan, layangan, dsb. Sedangkan saat ini, anak SD bersekolah di sekolah terpadu yang pulang sore, dengan setumpuk PR atau hafalan Quran, dilanjutkan dengan les mata pelajaran. Waktu bermainnya? Hanya nonton tv atau main games di gadget.
Tidak, saya sedang tidak mengkritik kurikulum atau pun sistem pendidikan saat ini, karena saya sadar sama sekali tidak punya kapasitas atau kapabilitas untuk membahas sistem pendidikan. Tapi saya mencoba menganalisis dari dampak pendidikan yang saya alami dulu pada kehidupan saat ini, dibandingkan dengan apa yang anak-anak, generasi saat ini, peroleh dari pendidikan sekolahnya dan mencoba membayangkan apa efeknya pada kehidupan mereka di masa yang akan datang.
Anak usia SD menurut saya sangat penting ditanamkan nilai-nilai dasar hidup, seperti kejujuran, kesantunan, keberanian, kesabaran, toleransi, kerja sama, bersosialisasi dan berbagi. Bukan hanya berfokus pada kurikulum atau mata pelajaran yang mengasah otak kiri saja.
Saya sama sekali tidak ingat pelajaran saat SD dulu, tidak ada yang berkesan. Namun yang saya ingat adalah bagaimana saya dan teman-teman ikut Jambore tingkat Kabupaten, berlatih berminggu-minggu untuk ikut lomba ansambel musik, jadi dokter kecil, berantem sama teman sekelas gara-gara ngeributin syair lagu Tanah Air, hahaha. Dan baru saya sadari disinilah nilai hidup mulai diasah dan diajarkan, disinilah kita mulai belajar untuk hidup.
Dan membicarakan pendidikan tidak hanya seputar sekolah saja, lingkungan keluarga dan masyarakta tempat kita bertumbuh juga sangat membentuk diri kita. Saya tumbuh di lingkungan pengajar atau pendidik. Orang tua saya guru, Bulik, Pakde dan sebagian besar saudara sekitar 80 persen berkecimpung di dunia pendidikan. Dan ada beberapa hal menarik yang saya pelajari dari bagaimana orang tua saya mendidik anak-anaknya.

1.      Orang Tua saya tidak pernah membandingkan anak-anaknya
Dibanding kedua kakak saya, saya menyadari secara akademis prestasi saya paling rendah. Kedua kakak saya sejak kecil sering jadi Juara Umum di sekolah, nilai matematika dan bahasa inggris bagus, populer, dsb. Saya, paling banter juara kelas, belum pernah juara umum, hehe. Tapi tidak pernah sekali pun orang tua saya membandingkan kemampuan saya yang biasa aja dengan kedua kakak saya. Saya sendiri lama kelamaan yang malu dengan prestasi belajar saya, tulisan tangan saya juga tidak serapih kedua kakak saya. Tapi orang tua saya tidak pernah memaksa saya untuk belajar. Saya sudah bisa membaca sebelum TK karena  ayah saya sering membawa saya ke toko buku untuk memilih buku bacaan. Begitulah ayah saya mengajari saya belajar dengan menyenangkan. Bahkan saya mengerjakan PR di meja makan saat sarapan, haha. Sedangkan untuk pendidikan formal saya belajar dari melihat kakak-kakak saya.

2.      Pendidikan Agama Nomor 1
Di lingkungan keluarga saya, agama menjadi hal wajib untuk dipelajari sejak kecil. Orang tua saya jarang menyuruh saya belajar pelajaran sekolah, tapi jika tiba waktu sholat atau mengaji tidak boleh terlambat. Waktu Maghrib tidak ada TV, jadi sore sampai malam kami beraktivitas di musholla dekat rumah. Meski ujung-ujungnya yang namanya anak kecil ya tetep main-main haha. Saat SD juga saya dimasukkan ke Taman Pendidikan Al-Quran di Masjid Agung untuk belajar Al agama. Pernah sewaktu SMP ayah saya menawarkan untuk masuk pesantren, tapi tanpa pikir panjang  langsung saya tolak, haha. Dan sekarang saya menyesalinya.

3.      Perencanaan itu penting
Ayah saya selalu mengajarkan saya selalu terstruktur dan rapi dalam merencanakan sesuatu. Tidak ada istilah hidup mengalir seperti air. Kalau mau berhasil harus direncanakan dengan baik. Apa yang saya lakukan setiap hari direncanakan, dicatat, dijadwal. Nah mungkin berawal dari itu, kebiasaan mencatat dan merencanakan segala hal terbawa sampai sekarang.

4.      Aktif berorganisasi dan kegiatan sosial
Saat Ramadhan tiba saya yang masih krucil diajak dan dilibatkan dalam kegiatan Ramadhan di Musholla dekat rumah. Yah meski Cuma bantuin gelar karpet or ikut menakar beras zakat, dari sini orang tua saya mengajarkan untuk aktif di kegiatan masyarakat. Di sekolah saya juga didorong untuk aktif di ekstra kurikuler; Pramuka, Basket, musik atau majalah dinding sekolah. Sehingga hal ini terbawa saat saya kuliah dan bekerja.


Dari keempat hal di ataslah saya banyak belajar menjalani hidup sampai saat ini. Sekalipun dalam perjalanannnya banyak hal juga yang kadang tidak sependapat dengan orang tua saya, dan itu wajar saja terjadi. Baiklah, selamat hari pendidikan dan semangat belajar kawan! 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In #30hariMenulis Inspirasi motivasi umroh

Umroh itu Panggilan

Sekitar akhir tahun 2015, ayah saya memberikan saran pada saya untuk mulai menabung umroh. Saya tidak menanggapi serius  karena saya pikir waktu itu yang wajib kan haji, lebih baik langsung nabung aja buat haji. Tak lama teman saya menawari saya tabungan haji dan umroh di armina reka, bisa dicicil kok, terserah mau berapa besarnya per bulan. Tidak mengikat.  Ya sudah tak pikir panjang saya mengiyakan. Ibadah tak cukup diniatkan dalam hati, tapi harus di follow up dengan tindakan juga kan?

Akhir 2016 Mita menghubungi saya ada promo umroh bulan Januari 2017, tabungan saya udah cukup tuh, Mita menawarkan saya mau tidak ikut daftar. Meski masih sedikit ragu, entah kenapa saya menjawab iya daftar aja lah. Singkatnya saya terdaftar ikut rombongan di bulan Januari-Februari 2017. Menjelang keberangkatan, kondisi saya sakit, dan berpikir untuk menunda keberangkatan. Beberapa hal lainnya menambah kegalauan waktu itu. Nah, bulan Desember saat pulang ke rumah, saya diskusikan ke orang tua tentang kondisi dan kegalauan saya. Ayah saya berkata: “ke tanah suci itu panggilan Allah, tidak semua orang berkesempatan ke sana, kenapa harus ragu jika kesempatan sudah di depan mata? Kita tinggal pasrah dan mohon kekuatan sama Allah, dikuatkan, disehatkan, Insya Allah dimudahkan.”
Deg. Saya baru sadar hal itu. Saya cuma menabung selama 1 tahun loh, eh ada kesempatan promo dengan biaya lebih murah. Banyak saudara atau teman-teman saya yang secara materi lebih ‘mampu’, tapi belum dapat kesempatan atau merasa terpanggil untuk ke tanah suci, memprioritaskan kebutuhan yang lain atau menundanya. Saya? Sudah dapat kursi, sudah dapat ijin cuti pula, masak karena sakit atau takut mundur gitu aja?
Akhirnya Bismillah saya kuatkan niat, perbanyak ibadah,shalat taubat dan shalat malam. Tanggal 27 Januari  pagi saya berangkat ke Bandara Soekarno Hatta menuju Tanah Suci dalam kondisi sehat. Alhamdulillah.
Mungkin catatan perjalanan umroh akan saya share lain hari, tapi kali ini kita akan bicara tentang panggilan ke Tanah Suci. Dalam Hadits, Rasulullah SAW menganjurkan untuk tidak melakukan ziarah kecuali tiga tempat. Yakni Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.

Tidak ditekankan untuk bepergian kecuali pada tiga masjid yaitu; Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsha (di Palestina)”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Umroh disebut juga haji kecil, karena  untuk melaksanakannya harus melakukan rukun-rukun seperti memakai pakaian ihram, tawaf di Ka’bah dan Sa’i di bukit Shafa-Marwah, hanya saja secara waktu lebih fleksibel. Sayangnya saat ini banyak orang yang mampu mengunjungi tanah suci, namun kurang bisa memaknai ibadah umroh dengan sebenar2nya ibadah. Lebih cenderung ke traveling atau belanja. Judulnya sih perjalanan spiritual, tapi ketika di tanah suci, upload sosmed ga pernah absen, waktu ibadah terpotong shopping, dan saat kembali ke tanah air tak ada perbaikan atau perubahan dalam hal akhlak atau ibadah. Astaghfirullah... Padahal Umroh memiliki banyak keutamaan seperti ;
# Umroh akan mensucikan Hamba Allah seperti bayi yang baru lahir
Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:
Barang siapa melakukan haji ikhlas karena Allah SWT tanpa berbuat keji dan kefasikan, maka ia kembali tanpa dosa sebagaimana waktu ia dilahirkan oleh ibunya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibadah dengan ikhlas dan khusyuk, menaati rukun umrah, dan menjaga perilaku tentu saja harus kita persiapkan sebaik-baiknya agar memperoleh keutamaan ini.

#Umroh dapat menjauhkan kefakiran dan didekatkan kepada Surga
Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah bersabda :
Iringilah antara ibadah haji dan umroh karean keduanya meniadakan dosa dan kefakiran, sebagaimana alat peniup api, menghilangkan kotoran (karat) besi, emas, dan perak, dan tidak ada balasan bagi haji mabrur melainkan surga (HR. At Tirmidzi, An Nasa’i, dan lainnya)
Ga ada lagi alasan takut harta akan berkurang karena umrah, yakin Allah akan cukupkan, maka niatkan kuat-kuat mulai dari sekarang yaa

# Dengan umroh, Allah akan mengabulkan permintaan Hamba-Nya
Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah bersabda :
Orang yang berperang di jalan Allah dan orang yang menunaikan haji dan umrah, adalah delegasi Allah (ketika) Allah menyeru mereka, maka mereka memenuhi panggilan-Nya. Dan (ketika) mereka meminta kepada-Nya, maka Allah akan mengabulkan (permintaan mereka)
Jadi berdoalah sebanyak-banyaknya dan sepuasnya  ketika di tanah haram.

#Umroh menjadi jihad bagi wanita
Dari Aisyah RA, Rasulullah bersabda :
Wahai Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad? Rasulullah menjawab : Iya. Dia wajib berijihad tanpa ada peperangan di dalamnya, yaitu dengan haji dan umrah (HR. Ibnu Majah)
So, kalian para wanita shalihah, jangan ragu untuk bepergian jauh menjadi tamu Allah. Yakin akan perlindungan Allah dan kemudahan ketika ada di rumah Allah.
Allahu Akbar!!!





Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Hidup me

Dan Untuk Rindu Pun Aku Tak Punya Waktu

Detak waktu begitu berharga bagiku. Waktu tak mau tahu, lelah atau tidak kah kita, mampu atau enggankah, muda atau tua, miskin atau kaya. Sungguh ia tak mau tahu. Hidup ini menempaku untuk tak sekedar mau, tapi juga yakin kemudian bergerak melaju.

Hai anak Adam, kalian tak lain hanyalah kumpulan hari-hari. Tiap berlalu sepetang dan sepagi, telah hilang sebagian diri (Hasan Al-Bashri)

Dunia tak selalu akrab denganku, ia melemahkanku, meletihkanku. Aku tahu tapi aku tak mampu berhenti mengikutinya. Kau kira aku budak dunia, mungkin saja. Meski sebenarnya aku sedang sibuk mengejar waktu. Aku sibuk menata hidupku dengan kerja-kerja penuh waktu. Tak lagi muda usiaku, jadi aku tak mau membuang waktuku untuk sesuatu yang tidak menentu.

Kita bertemu di sepenggal waktuku. Kau menilaiku, aku pun menilaimu. Aku hanya manusia yang berkacamatakan dunia. Maka untuk yang tak kasat mata aku memohon penilaian-Nya. Rizqi, jodoh, mati itu sudah tertulis sedari dulu. Aku tak ragu. Tapi kau membuatku ragu, karena sungguh, kau tak berupaya meyakinkanku. Aku ingat rasanya bersandar pada makhluk-Nya, yang merasa kuat tapi lemah dan payah sebenar-benarnya. Aku tahu rasanya berharap pada manusia, yang memberikan janji tanpa arah dan ku kecewa. Jadi jangan salahkan  jika aku menghentikan langkahku padamu.
Hidup mengajarkanku, begitu banyak kejutan yang akan kita temui di sepanjang jalan. Rencana kita mungkin dirasa sempurna, namun rencana-Nya yang menentukan segalanya. Ridha-Nya itu yang utama. Sekian lama aku menata hati, perlahan menyingkirkan hal-hal yang tak perlu. Untuk sekedar tersipu atau berdesir malu-malu, karena aku tak lagi remaja lugu, sudah lewat waktuku. Sungguh hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan masalah itu, karena kelak mungkin kita akan secepatnya lupa akan  masa-masa malu dan rindu. Sibuk dengan anak-anak lucu atau bahkan urusan ayah dan ibu. Seorang yang menguatkanku, mendukungku, menuntunku, itu yang kumau.

Sebab Dia lebih tahu, tentang hakikat dan bentuk rupaku, tugas-tugas dan perasaanku, juga keadaan dan tempat kembaliku; maka Dia pulalah yang memberi petunjuk kepadaku. Menunjukiku untuk menuju-Nya, menunjukiku jalan yang aku harus meniti di atasnya, dan menunjukiku irama langkah yang harus kuayunkan ke arah-Nya (Sayyid Quthb).


Inilah alasanku untuk rindu-pun aku tak punya waktu. Rindu melemahkanku, galau melalaikanku, jadi sekarang giliranmu.
Yakinkan aku.

Tulisan ini dimuat di hipwee


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Instagram Shots

Instagram

Flickr Images

Popular Posts