In fiksi pipit project

Kejutan (2)

Aku tak pernah membayangkan apa yang kurasakan ketika jiwa terlepas dari raga. Selamanya. Aku percaya Tuhan menggenggam jiwa-jiwa kita untuk sementara ketika tidur, dan berkuasa penuh atasnya. Rasanya menyenangkan karena Dia menghadiahi kita mimpi. Tapi apakah rasanya seperti itu juga ketika Dia menarik seluruh jiwa kita selamanya? Karena aku merasa ini seperti mimpi. Mataku silau dan ada sesuatu bergerak di ujung kakiku.


Hah?
Yang benar saja.
Mbak...mbak..? MBAK!
Sejenak Pipit berpikir, suara siapakah?
Ia mengalihkan matanya yang silau, melihat seseorang duduk  di depannya, kakinya menyentuh sepatu pipit.
Ya ampuuunnn...aku masih di lift yang tadi, aku belum mati, aku cuma terjebak, dan orang tadi memastikanku masih hidup dengan menendang-nendang kakiku!
Astaga! Pipit ngomel dalam hati tapi ia menghela nafas lega.
Sambil bergerak perlahan memastikan tak ada yang rusak dengan badannya, Pipit mulai merasa lengannya berdenyut-denyut nyeri, mungkin karena sedikit benturan.
Melihat membenahi posisi duduk Pipit, orang itu bergumam tak jelas. Tapi Pipit melihat dahinya berdarah.
Refleks Pipit bertanya, anda tak apa2?
Lelaki itu cuma menggeleng. Matanya sibuk mencari sesuatu.
Emm, lihat ponsel saya?
Pipit menyingkirkan kertas-kertas yang bertebaran di sekitarnya.
Ya Tuhan, arsip itu! Berantakan tak jelas.
Ia temukan ponsel lelaki itu di pojok kanan tertindih map file. Cepat ia rapikan semampunya kertas-kertas itu.
Liftnya rusak. Apa sering seperti ini? Pria itu bertanya pada Pipit lalu ia cuma menggeleng, dan berdiri memastikan tak ada satu kertas pun yang tertinggal.
Maaf, ujarnya ketika mengambil kertas, ada yang terselip di tas lelaki itu.
Anda kerja di sini? Pipit mengangguk, matanya pusing melihat halaman arsip yang tak ia mengerti.
Apa harus kuurutkan sekarang?
Apa ada seseorang yang bisa dihubungi?
Saya rasa kita terjebak, kata lelaki itu.
Ya saya tahu, tapi saya juga harus menyerahkan arsip ini sekarang, tapi, apa? Bukannya udah nyala ya? Pipit menekan-nekan tombol membuka, tak bergeming. Layarnya hanya berkedip-kedip. Mana ponsel dan tas ditinggal di loby.

Aha, bisa telfon no saya? Pipit menengok padanya.
Dia menyerahkan ponselnya, Pipit menekan nomornya dengan cepat.
Ah sial, ngga ada sinyal, gumamnya.
Ada apa dengan hari ini? Tengah malam masih di kantor dan terjebak di lift pula.
Apa interkomnya masih bisa menyala? Pipit melirik ke arah pintu lagi.  Benar juga.
Aduh siapa yang jaga malam ini? Kutekan,, suara gemerisik di seberang, halo,,halooo,, bapakkk tolong dong,, lift mati nih.
Tak ada respon.

Pria didepannya terdengar menghela nafas panjang.
Sepertinya kita harus menunggu, lalu dia mulai duduk di pojok depan lift.
Pipit berdecak, melirik arlojinya. 11.47. sudah 15 menit dan tak ada tanda-tanda pertolongan. Akhirnya ia ikut duduk, mengutak atik ponsel yang masih ia pegang, berharap sinyal muncul tiba-tiba.

10 menit kemudian Pipit mulai berdiri tak sabar.
Tolong, emergency,,, lift mati,,kita ga bisa keluar, to...
YA, SIAPA?? Suara diseberang terdengar familiar.
Mas agus yah? Satpam lantai 10 asal kebumen itu kenal dengannya.
Yah?
Alhamdulillah mas agusss,,Ni pipit!tolong doonggg, liftnya mati
Mba pit marketing?
Iyaaahhh,,,
Aduhh iya mbak, tenang dulu, sabarr. Mbak pit sama siapa? Ndak apa-apa kan? Ada yang cedera ndak? Suaranya terdengar cemas.
Iya alhamdulillah ga papa, ini ada dua orang di lift. Tamu laki-laki. Pipit baru sadar lelaki itu menenakan tanda visitor.
Oh Syukurlah, tapi sabar ya mbak, saya di ruang monitor ini, petugasnya lagi pada di bawah, lagi banyak polisi.
Polisi? Cepet banget datengnya, tumben.

Emang ada apa? Semua lift rusak? Pipit setengah berteriak sambil bertanya
Engg, nganu itu...pak brama yang di lantai 20 meninggal mbak,
Innalillahi,,,Pipit  kaget, karena pria tadi sudah berdiri di sebelahnya menggumam kata yang sama dengannya.

Trus ko ada polisi juga? Lift lain rusak juga emang?
Bukan mbak, itu,,,
Pak bramanya jatuh ke bawah
HAAHHH??

(...bersambung)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In fiksi pipit project

Terbangun dari Mimpi (1)

Aku tidak pernah merasa cantik. Tapi untuk kali ini, perasaan itu membuncah sampai jantungku berdegup cepat tak seperti biasa. Begitu jernih, murni dan tulus. Putih, bersih, juga sejuk dan ups,,, dingin. Aku merasa begitu hidup, dan cantik. Di tengah kebekuan yang menyelimuti setiap sudut, aku hidup, hangat, dan bernafas! Seuntai kalimat melintas, lebih baik mati, daripada sehari saja hidup dalam kegelapan dan kebekuan. Kegembiraan ini tak bisa ditahan, menarik-narik ujung mulutku untuk tertawa, tersenyum, menakjubkan. Aku berwarna, aku merona, aku bahagia.

Tapi ada yang sedikit mengganggu, suara itu. Bergema dari kejauhan dan lama kelamaan semakin jelas. Suara berdering, semakin dekat, semakin nyaring.
KRIIIINGGG!!! KRIIINGG!!!
Pipit tersentak, didepan matanya gelembung-gelembung screensaver menari-nari.



KRIIINGG!!! Suara itu semakin memekak. Sejenak ia kehilangan arah, sedetik kemudian tangannya terulur dan otomatis terucap dari mulutnya:

Selamat siang, vixitel, ada yg bisa dibantu?
Suara terkekeh di seberang, menariknya kembali ke bumi.
Malem mbak pipit,, dah ngantuk ya? Seraut wajah muncul di kepala pipit dan ia benar-benar bangun sekarang.
Eh Pak Brama? uhm iya nih, ketiduran. Pipit mengerjapkan matanya.
Oalahh, emang bener kata orang-orang, ada jin penunggu marketing nih, hehe.
Pipit menggaruk kepalanya,jin? Haduuhh.

Udah mau jam sebelas loh, mbak, jangan malem-malem pulangnya. Tapi nanti kalo mau pulang saya minta tolong ya, mbak.
Oh, gimana pak? Sebentar lagi saya pulang, mata pipit melirik jam sekilas.sepuluh menit lagi.
Kata Pak Hendar kan kunci ruang data ada sama mba pipit, nah minta tolong ya sekalian ambilkan data WB2001, trus anter ke ruang saya ya.
Oh, berkas, apa pak? W duaribu...

WB2001, Doubleyou Beta duaribu satu, pak brama mengulang,
kalo gak salah di rak paling kanan, sekitar nomor 3 dari depan. Kalo mbak pipit udah capek or takut kemaleman, ya minta pak warno, securiti loby suruh anter ke ruangan. Oke mbak?
Mmm, sebentar pak, pipit meraih kertas dan spidol terdekat, WB2001, rak kanan no 3 dari de-pan. Ia menulis sambil memastikan,
He-eh, kalo ga ketemu, hubungi saya lagi ya, makasih lho mbak, kalo capek nitip pak warno aja ya.
Baik pak. Iya nanti saya anter. Jawab pipit, meski di kepalanya sudah terbayang kamarnya yang hangat, pulang-pulang-pulang.

Bergegas pipit mengaduk-aduk tasnya, kunci berlabel biru akhirnya dia temukan di saku depan tas besarnya. Dengan gerakan cepat ia matikan PC dan membereskan meja kerjanya, keluar dari kubikel hijau lumutnya. Ruangan yang tadinya senyap, berubah hidup dengan gerakan gadis itu yang terburu2, derak kursi, gemerincing kunci, tumpukan buku dan kertas yang ditata sekenanya.

Plisss jangan rindukan aku besok yaa,,, teriak pipit semakin memecah kesunyian.
Besok hari minggu, dan sekarang malam minggu jam sebelas malam, ia masih ada di kantor. Teman seruangannya sudah pulang dari magrib tadi. Pipit tertahan karena laporan bulanannya belum selesai, menunggu email laporan terakhir dari Semarang. Sebenarnya email sudah ia terima dari jam sembilan, dan setelah merampungkan tugasnya, begitu lega malah tertidur di mejanya.
Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Pipit bergegas keluar menyusuri koridor yang biasanya tak pernah lengang, sekalipun malam hari. Departemen tersibuk di gedung ini. Marketing. Apalagi tiga bulan terakhir, ia lalui tanpa henti. Kegiatan memuncak justru di akhir pekan. Masih terdengar orang bercakap2 di ruangan sebelah, di ujung kanan ia masih melihat Pak Cokro, kepala bagian sedang bercakap di ponselnya. Berbelok ke kiri pipit melangkah menuju ruang data yang terletak di sebelah ruang administrasi yang terlihat gelap. Dengungan singkat terdengar ketika tangannya menggesek kartu identitasnya, ia mendorong pintu kaca dengan mudah. Pintu kedua ia buka dengan kunci yang ia bawa. Ruangan seluas 5 kali 5 meter selalu dalam keadaan terang. Data dan arsip perusahaan terpusat di sini. Petugas ruangan ini, tadi siang menitipkan kunci padanya, dua minggu terakhir ia memang berkutat di ruangan ini. Kekacauan data base, membuatnya harus mencari data secara manual.
Hufff, ia menghembuskan nafas, arsip WB2001 yang dimaksud Pak Brama, bukan cuma sebuah, tapi setumpuk. Ia harus mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil arsip itu dari rak. Meski tak seberat penampakannya, pipit tetap harus menggunakan dua tangan untuk membawanya. Nampaknya arsip WB2001 seperti laporan audit internal tahunan.
Ruangan Pak Brama berada dua lantai di atas ruangannya, Pipit memutuskan untuk menitipkan saja ke satpam, ia melirik jam tangannya, 23.16.
Baru saja ia mengucapkan terima kasih pada Pak Warno yang langsung mengacungkan jempol padanya, tasnya bergetar, ponselnya kini yang meraung2, Pak Dito, bosnya. Ia menahan nafas.
Dah pulang pit? Pipit berteriak dalam hati, sudaaaaaah, tapi yang keluar dari mulutnya adalah masih di loby pak.

Oh, Pak Brama dah nelpon?

Ya ni baru ngambil datanya, baru mau diant...

Oh saya nitip ya, ambilkan proposal di Pak Brama, barusan saya sudah bilang ke beliaunya ko, Pipit yang ngambil, hari senin kan kamu ke medan, sekalian bawa itu proposalnya, minggu besok Pak brama mau medical check up ke Singapura, ok?

Arrrggghhh,, pipit bersungut dalam hati,,,Tuhaaan tolong hentikan waktu untukku.
Pak warno cuma memandangnya heran, ketika dengan lemas ia meraih berkas itu lagi tanpa kata-kata dan berbalik menuju lift.

Baru kali ini ia merasa muak berdiri di dalam lift, melihat angka bergerak begitu perlahan sambil mengingat-ingat apa ia sudah makan malam atau belum. Magrib tadi ia baru selesai rapat, langsung ke ruang akomodasi mengecek perlengkapan untuk acara konser promosi goes to campus, lalu seingatnya Lena rekannya membagi setengah capucinonya. Pantes perutnya mulai berkriuk kriuk lapar. Sekarang ia menatap dirinya sendiri di dinding lift, matanya terlihat lelah dan bahkan nyaris depresi. Terkadang ia merasa begitu beruntung ada dalam gedung megah ini, menara kedua terbesar di Jakarta, menjadi bagian yang penting dalam setiap denyut aktivitasnya, namun terkadang pula, ia merasa cuma sekrup kecil yang tak berarti, dipindah kesana kemari tanpa perasaan. Bahkan akhir tahun kemarin, seminggu full di pagi hari jadi tukang foto kopi, malam harinya jadi leader event.

Lift berdenting di lantai tujuh. Lelaki memakai setelan santai masuk, dengan ransel di punggung. Melirik ke arah pipit sekilas, lalu kembali sibuk dengan tabletnya. Tipikal manusia di gedung ini sama. Individualis. Pipit yang bersandar di dinding cukup leluasa untuk memperhatikan makhluk di depannya. Tingginya sekitar sepuluh senti di atasnya,Pantalonnya terlihat mahal, kemeja putih yang digulung sampai siku juga terlihat bermerek, matanya menyusuri sampai ke ujung kaki dan terhenti, waow, pipit memandang tak berkedip. Sepatu kets dengan merek yang selalu ia impikan. Matanya menyipit, original apa KW? Pipit tersenyum masam. Hya heyalahhh pit pit, emang kamu yang level kw 2 or 3. Ckckckkk. Duniaaa oh dunia.

Sebenarnya apa sih yg ada dipikiran para orang kaya? Prestise? Seni? Kemeja tak bermerek tak membuatmu jatuh sakit kan? Setelan jutaan rupiah juga tak memastikan jutaan kebahagiaan. Pipit tersenyum kecut. Menertawakan dirinya sendiri. Alah, pikiran orang miskin, ya cuma bisa menyalahkan orang kaya. Kalau sudah jatuh kaya juga pasti akan melakukan hal yang sama. Dasar manusia. Sama seperti orang jelek yang mengalihkan alasan pada inner beauty dan berpikir orang cantik selalu bodoh dan gak tau apa-apa. Begitu tak adilnya hidup ini kalau demikian.

Greg. Tiba-tiba lift berhenti. Layar penunjuk lantai berwarna merah berkedip-kedip sejenak. Tangan Lelaki di depannya terulur ke arah tombol, namun gerakannya terhenti karena lift terasa bergerak kembali. Pipit menarik nafas. Berusaha menghilangkan pikiran-pikiran aneh segala kemungkinan yg terjadi. Berdua saja dengan lelaki tak dikenal di dalam lift lantai sepuluh nyaris tengah malam.

Pipit merasa lift meluncur begitu pelan, namun ia tak bergerak sedikitpun.
Pliss, anter gue sampe lantai 20.
Greg greg.
Lift bergerak. Tapi sebentar, jantungnya berdegup kencang. Ada yang salah. Lift memang bergerak, tapi bukan naik melainkan turun. Begitu pelan tapi masih bisa ia rasakan.
Pipit menelan ludah, ia bahkan tak berani mengedipkan matanya. Orang yang bersamanya juga menatap ke atas, karena lampu berkedip2, tangannya berulang kali memencet tombol untuk membuka pintu yang tetap bergeming.

TAP! Gelap gulita.
Dan tiba-tiba ia merasa lift meluncur cepat, pipit refleks menutup matanya, jantungnya berdesir seketika,
Tuhaan tolong aku, aku mohon, jika aku harus mati bukan dengan cara seperti ini ya Rabb,
tolong aku ,
ampuni aku...
tolong aku...
aku mohon....

(...bersambung)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Korea me

Belajar dari Drama Korea

Hallooo semuanyaaa....
Akhirnya kita mulai ngomongin korea, haha. Meski saat ini saya sudah tidak se-menggebu dulu tentang dunia perkoreaan. Entah mungkin saya mulai bosan dengan drama karena ternyata saya mulai realistis menghadapi hidup,,tsaaahhh...
Descendants of The Sun (2016)

Korean Wave dimulai sekitar tahun 2000-an dengan munculnya serial drama Endless Love yang dibintangi Song Hye Kyo, Won Bin dan Song Seung Hoon. Kemudian lanjut Winter Sonata (2002) yang mengharu biru. Saya ikutan nonton semasa SMA kalo ga salah. Trus lanjut Dae Jang Geum (2004) dan Princess Hour (2006) dengan genre remaja saat saya kuliah. Saat ini saya belum terlalu maniak karena nonton pas tayang di televisi aja dan sibuk dengan aktivitas di kampus.
Absen beberapa tahun, lalu saya lanjut kuliah di Bogor tahun 2010, ketemulah saya dengan Mita. Dari anak inilah dimulai kembali babak perkoreaan, ketemu sama dek Lee Min Ho di City Hunter (2011) ceritanya seru dan menarik lumayan bisa jadi pelarian dari penatnya kerjaan dan tugas kuliah. Aseek.
City Hunter (2011)

Setelah pindah kos di tahun 2012 ke Alfarabi, ketemulah dengan dek Aditya Putri alias Uti yang mengenalkan sama variety show RUNNING MAN dan Super Junior sodara-sodara. Yup mulailah babak baru perkoreaan V-Show, semakin menggila hahaha (Eh jangan protes yaa). Dimulailah hari-hari rajin nongkrong di kampus demi donlot korea dan nonton stripping sampe subuh, wkwkwkk.
Okeh, itulah sekilas bagaimana saya mengenal dunia perkoreaan temans. Dua orang yang berperan adalah Mita dan Uti (yeaahh sorak soraii). Dan saat ini setelah saya berpisah dari keduanya, intensitas perkoreaan saya berkurang. Tapi di tempat kerja yang baru saya ketemu mbak Desi, yang doyan drama korea juga. Mulai lagi deh tiada hari tanpa donlot K-Drama. Ampuni hamba ya Allah...
Tahun 2017 saya mulai tobat lagi nihh. Udah kelewat banyak serial, terakhir nonton ya cuma Goblin itu, hehe. Oke baiklah kita sekarang mau ngomongin, apa sih serunya K-Drama sampe begitu banyak pecintanya di seluruh dunia? Saya bisa ngambil 7 hal yang bisa kita ambil pelajaran dari drama korea. Ini dia...
#1. Belajar tentang berjuang hidup
Beberapa drama korea yang berkisah tentang perjuangan adalah Master Of Study, mengisahkan seorang Pengacara yang berjuang membantu anak-anak bengal di sekolah untuk dapat lulus dan masuk universitas dengan nilai terbaik, ada juga Dream High tentang murid di sekolah musik dengan segala permasalahannya.

Master of Study

Punch tentang jaksa yang berjuang membersihkan nama baiknya dan disaat yang sama divonis terkena kanker otak dan hanya punya waktu 6 bulan, setipe ada juga Defendant berkisah tentang pengacara juga.
Punch

#2.Belajar tentang cinta dan jodoh
Ngomongin cinta di drama korea ga melulu dengan cerita cinta yang romantis bikin baper tapi ada juga menguras air mata dan ada juga yang lucu menggemaskan kayak Kirana, haha. Tapi dunia persinetronan kita bisa belajar dari drama korea, sehingga ceritanya lebih variatif dan menarik. Ga Cuma si kaya vs si miskin atau orang kota vs orang kampung.
Yang paling bikin baper adalah Descendants of the Sun , kisah percintaan antara dokter dan pasukan khusus korea yang bertemu di Uruk, Yunani, dan membuat mereka harus bekerja sama di daerah rawan konflik. Lalu ada 20 again, kisah ibu yang kembali lagi ke bangku kuliah di usianya yang sudah menginjak 38 tahun, bareng sama anaknya kuliah di universitas yang sama. Di saat itu juga dia bertemu cinta pertama yang jadi dosennya, dan suaminya yang mengajar di kampus yang sama malahan selingkuh sama rekan sesama dosen. Duhh yang namanya jodoh emang ga bisa ditebak.
20 Again

Dan yang menarik adalah rata-rata drama korea dengan rating tinggi Cuma tayang 1-20 episode. Meski banyak permintaan untuk dibuat sekuel dari para penggemarnya, tapi itu menunjukkan drama ga Cuma ngejar rating. Kalo di Indonesia mah udah nyampe 7 season kali.

#3. Belajar tentang keluarga dan persahabatan
Ada Reply 1988 dan Angry Mom drama yang berkisah tentang hubungan keluarga dan persahabatan. Bagaimana berharganya hubungan keluarga dan sahabat yang akan selalu mendukung dan membantu segala permasalahanmu. Alur cerita yang unik membuatmu penasaran untuk mengikuti setiap episodenya.
Reply 1988

Trus Weighlifting Fairy Kim Bok Joo, yang lucu dan keren karena menceritakan tentang perjuangan mahasiswa di sekolah olahraga, dengan peran utama seorang atlet wanita angkat besi. Jarang banget kan liat drama korea dengan tokoh yang ga feminim abiss, kostumnya pun sederhana, jumper or jaket gombrong.
Weightlifting Fairy Kim Bok Joo


#4.Belajar tentang sejarah dan budaya
Drama era sejarah dikemas dengan manarik dan tidak membosankan. Bagaimana politik , sejarah, juga cerita cinta digabung menjadi plot yang membuat penasaran penonton.Tanpa sadar keingintahuan kita terhadap sejarah muncul. Saat menonton Scarlet Heart Ryeo saya sampai searching era Kerajaan2 di Korea, haha. Dari masa dinasti Goryeo sampai Joseon, bagaimana kisah raja-rajanya. Seandainya sejarah di Indonesia dikemas dengan baik pasti akan lebih memperkaya wawasan keindonesiaan kita.
Scarlet Heart Ryeo

#5. Belajar tentang passion
Beberapa drama korea berkisah tentang beberapa profesi yang jarang kita ketahui secara mendalam, seperti Chef, dokter, polisi, jaksa, atau pun desainer. Bahkan dalam drama Misaeng mengisahkan seluk beluk dunia kerja di perkantoran yang penuh persaingan dan intrik. Ceritanya dikemas dengan serius dan menarik.
Misaeng

Good Doctor, Beautiful Mind, Doctor, Medical Top Team, dan Romantic Doctor Teacher Kim . Bagaimana operasi pembedahan jantung dilakukan, jadi kita sekaligus bisa belajar istilah-istilah asing dalam dunia kedokteran atau hukum.Bagaimana sang pemeran utama berjuang mempertahankan idealismenya atau bahkan pencarian jati dirinya.
Romantic Doctor Teacher Kim

#6. Belajar tentang  takdir
Drama korea Goblin menampilkan sejarah sekaligus perputaran waktu yang imajinatif, namun tetap mengesankan. Goblin berkisah tentang kematian dan takdir, menonton drama ini serasa menonton movie yang digarap secara total. Effect yang luar biasa, akting dan setting yang keren patut dicontoh.

Goblin

Drama lain yang seru adalah Signal. Berkisah tentang terhubungnya Detektif dan Profiler, atau analis data kriminalyang berkomunikasi via wallkie talkie dari masa lalu dan masa sekarang untuk memecahkan kasus kejahatan masa lalu dan uniknya bisa mengubah masa depan. Kalau dipikir emang ga masuk akal, tapi cara menyajikan dan akting pemainnya keren banget. Bikin deg-degan abiss. Recommended. Beberapa drama memang menyajikan kisah tentang time traveller gitu. Tapi ini yang paling keren menurutku.
Signal

#7Belajar tentang politik
Ada King Two Hearts , Queen Seon Duk dan Dong Yi drama seru berkisah tentang politik dan kekuasaan. King Two Hearts dikisahkan perseteruan antara Korea Utara dan Selatan diwarnai cerita cinta sang putra mahkota Korea Selatan dengan anak jenderal Korea Utara, sedangkan Dong Yi berlatar belakang Dinasti Joseon berkisah tentang perempuan cerdas dalam politik dan pemerintahan yang akhirnya menjadi selir raja dan putranya menjadi Raja Joseon ke 21 Raja Yeongjo.

Dong Yi

King 2 Hearts

Tulisan ini pernah dimuat di hipwee


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In indonesia me politik

Netralitas dan Keberagaman Kita

Dari sekian banyak tema, saya merasa ini yang paling banyak menyita pikiran. Keresahan, gelisah, ragu untuk menuangkan dalam sebuah tulisan. Ya,  saya menahan diri beberapa minggu untuk tidak menulisnya. Saya memilih mem-publish tulisan ringan tentang healthy life, hobi atau pun Korea. Pertama, karena posisi pekerjaan sebagai abdi negara, kedua, karena hal ini a-mat-sa-ngat sensitif, dan ketiga, karena saya masih berharap hiruk pikuk tentang Pilkada selesai setelah Pemimpin baru resmi terpilih. Jakarta akan kembali seperti biasa.

Ternyata dugaan saya salah. Jakarta dan beberapa kota di Indonesia justru semakin riuh. Jangan ditanya bagaimana sosial media kita. Setelah vonis pada Basuki Tjahaya Purnama dijatuhkan, bermunculan orang-orang yang merasa tak ada lagi keadilan di negeri ini. Setelah sebelumnya mereka menuntut pihak yang berseberangan untuk mematuhi proses hukum yang berlaku, kini setelah proses hukum selesai dan vonis dijatuhkan, justru orang-orang inilah yang memberikan justifikasi ketidakadilan terjadi dalam proses persidangan. Lalu harus bagaimana? Setelah deretan karangan bunga dan beribu-ribu balon di balai kota (jujur saya takjub, karena saya setiap hari melewatinya), kini bermunculan aksi sejuta lilin dan aksi solidaritas pendukung Ahok, bahkan dukungan dari PBB atau negara lain ikut diakui sebagai dukungan penangguhan hukuman.

Keresahan yang saya alami saya rasakan juga dalam tulisan Fahd Pahdepie. Rasa gemas dan muak melihat dua kubu yang terus menerus berselisih. Tak sadarkah mereka membuat kami yang selama ini menahan diri lama kelamaan juga tak tahan untuk berteriak. Saya sepakat dengan salah satu paragraf dalam tulisan Fahd :

Ahok adalah aktor politik. Ia dikalahkan dalam sebuah pertarungan politik, oleh aktor-aktor politik yang kebetulan menjadi lawannya saja. Dan kita semua? Kita semua hanyalah figuran dan pendukung yang disulut emosinya, diobrak abrik kesadarannya, diadudombakan, dibentur-benturkan psikologi dan mentalnya, untuk kepentingan politik lainnya...Yang direkayasa oleh aktor-aktor politik lainnya. Jika kita ingin keluar dari lingkaran setan politik ini : Sudahlah, tak usah ramaikan panggung sandiwara yang memuakkan ini. Tak usah membentuk solidaritas apapun. Tak usah ‘overacting’.

Berhentilah berdebat, berhentilah berselisih, berhentilah merasa paling benar. Semua ini menguras energi yang saya pikir sia-sia. Jikalau Ahok divonis bebas, lalu mau apa? Pemimpin Jakarta sudah resmi terpilih. Justru gelombang protes yang akan muncul jauh lebih besar lagi. Jangan lagi menuduh para hakim yang menjatuhkan vonis gila jabatan. Atau bahkan keluarganya ikut dicaci maki. Ini menyedihkan. Miris. Inikah Indonesia kita sekarang, Kawan? Penuh prasangka dan nyinyir tanpa henti? Merasa benar yang tak berkesudahan?

Kebhinekaan dan keberagaman menjadi kata yang begitu populer akhir-akhir ini. Semua orang membicarakannya, sibuk mendiskusikannya. Populer karena dijadikan jargon, dijadikan komoditas unggulan untuk meraih simpati. Jakarta sebagai representasi keberagaman di Indonesia menjadi sorotan banyak pihak. Awalnya saya senang, karena saat Pilkada rasa Pilpres ini berlangsung banyak kalangan yang ikut berpartisipasi. Dalam hal ini rakyat Indonesia (tak hanya warga Jakarta) semakin melek politik.  Tak lagi apatis dan golput. Semua orang berhak dan bebas, tak lagi ragu menyuarakan aspirasi dan dukungannya. Namun ternyata kita tidak sepenuhnya siap. Siap kalah, siap legowo, siap menghormati segala proses dan aturan yang berlaku.

Bicara tentang keberagaman, Jakarta memang wujud kecil Indonesia kita. Berbagai etnis, suku, bahkan bangsa berbaur di sini. Jakarta sebagai ibukota negara, pusat pemerintahan, sekaligus pusat perekonomian. Semua pihak merasa punya kepentingan disini, dan bahkan memprediksi hasil Pilkada DKI menentukan Indonesia 2019 nanti. Mungkin naif jika saya mengabaikan segala komen yang beredar sekarang. Semua orang  berhak berpendapat, berbicara apa pun. Tapi cukup sudah kalian mengatasnamakan keadilan, mengatasnamakan suara-suara yang tertindas. Kapan terakhir kali berpartisipasi di lingkungan masyarakat kalian? Kapan terakhir kali berbincang hangat dengan para tetangga? Apa yang sudah kalian berikan sebelum keriuhan Pilkada kemarin?

Contoh kecil saya dan teman-teman pengajian saya rutin setiap 2-3 bulan sekali, memberikan pelayanan kesehatan di sebuah  kampung di gang sempit Jakarta. Sederhana saja tes gula darah, kolesterol dan asam urat. Menggunakan uang kas mingguan kami. Bukan atas nama siapapun. Dan sudah mulai kami lakukan jauh sebelum Pilkada digelar. Mungkin kecil, tapi dari sini kami bisa sedikit berbagi, bercerita bagaimana menjaga kesehatan kita dengan cara yang sederhana. Para ibu dari berbagai usia sangat antusias menyambut kegiatan rutin kami. Perhatian sederhana seperti ini yang mungkin bisa menghibur warga Jakarta. Perhatian tanpa mengharap kompensasi apa pun dari mereka.

Sudahi saja segala perselisihan kita. Jernihkan hati dan pikiran, mari kita bangun Jakarta yang damai dan penuh cinta.

Wassalam.

Tulisan ini dimuat di hipwee


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Hidup Inspirasi

Passion VS Opportunity

Halloo ...
Holiday is over
Taqabalallahu minna wa minkum semuanyaaa
Hari pertama kerja ngomongin sesuatu rada berat gapapa lah ya. Karena beberapa kali kemarin sebelum libur lebaran mengalami yang namanya stuck dalam kerjaan. Pernah ga si suatu hari kalian bengong liat rekan kerja pada ngomongin sesuatu, dan pikiran kita ngeblank. Ni pada ngomongin apa sih? Ga tau kenapa rasanya ngeblank aja, entah ga nyambung atau ....ga antusias sama sekali. Dan ini membuat saya bertanya-tanya, karena selama ini ga pernah ngerasain kaya gini. Ini pertama kalinya saya merasa ada di tempat yang tidak tepat. Atau mungkin situasinya yang tidak tepat. Atau malah kondisi saya yang lagi jenuh sama kerjaan.


Memasuki tahun ke-empat kerja, saya tidak pernah merasa selesu ini. Sungguh. Bawa kerjaan ke rumah saya enjoy, fine2 aja. Sekarang? Boro-boro. Inget suatu kali pernah baca satu artikel Follow your opportunity first, then apply your passion. Intinya ngikuti passion ga selalu bagus. Terkadang untuk mengejar passion kita justru melewatkan banyak kesempatan dalam hidup kita. Bisa jadi opportunity alias kesempatan itu justru membuka jalan menuju passion kita. Jadi jangan terlalu saklek ngikutin passion. Its your life. You can improve anything! Dan terkadang kita ga tahu benarkah ini passion kita? Atau justru cuma hobi aja?

Bahkan karir mendiang Steve Jobs menggambarkan Dont Follow Your passion! But DO what you LOVE. Apple Computer was decidedly not born out of passion, but instead was the result of a lucky break–a “small-time” scheme that unexpectedly took off. Nah! Aplle lahir dari kesempatan, bukan passion. Passion Steve Jobs sendiri justru  mempelajari sejarah barat, tarian dan mistisme Timur. Dia mencari pencerahan spiritual dan mencoba bidang elektronika hanya karena bisa memperoleh uang dalam waktu singkat. Tulisan ini dimuat dalam buku Dont Follow Your passion! By Cal Newport.
Oke, kembali ke passion. Apa sih passion? Bagaimana kita menentukan passion kita sebenarnya? Karena banyak dari kita ternyata masih keliru menerjemahkan passion ini.

#1. Tak sekedar cinta
Kamu suka bola? Suka koleksi sepatu? Suka masak? Trus apakah lantas kamu jadi pemain bola? Atau kolektor sepatu dan chef jadi profesi kamu? Kamu hanya suka dan hal tersebut membuatmu bersemangat dan hidupmu berwarna. Nah berarti ini hanya sekedar hobi, bukan passion.

#2. Enjoy, lupa waktu
Saking senangnya dan menikmati aktivitas tertentu, kamu sampai lupa waktu ngerjainnya. Tapi produktif loh yaa. Saya juga suka lupa waktu kalau main games atau nonton drakor. Tapi apa lantas passion saya di drama korea? Enggak juga kan?hehe. misalnya kamu suka gambar atau nulis. Kamu bisa melewatkan waktu berjam-jam untuk membuat suatu karya, dan kamu puas banget ngelakuinnya.

#3. Hampa jika tidak melakukannya
Ga buat tulisan dalam sehari, membuat kamu gak semangat, atau ga main musik seharian membuatmu loyo dan baperan. Bisa jadi ini passionmu.

#4. Rasa Penasaran
Ikut training kepenulisan, ikut kelas musik yang ngabisin duit, beli buku apapun tentang masak, atau beli kamera berjuta-juta buat yang suka fotografi, rela kamu lakukan demi kesukaan kamu. Dan sama sekali gak nyesel ngelakuinnnya. Dan kamu pun selalu mengasah kesukaanmu itu, keingintahuanmu selalu muncul sehingga rela mencari tahu lewat berbagai media.

#5. Kreativitas dan Inovasi
Karyamu diakui banyak orang kualitasnya, sehingga itu diakui sebagai keahlianmu. Semakin kamu menekuninya muncul beragam kreativitas dan inovasi, dan kamupun semakin semangat untuk produktif berkarya

Jadi, tentukan passionmu dan putuskan passion or opportunity?

Artikel ini dimuat di hipwee

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Instagram Shots

Instagram

Flickr Images

Popular Posts