In #30hariMenulis Hidup me

Hidup Untuk Belajar Atau Belajar Untuk Hidup?

Beberapa minggu yang lalu saat saya pulang ke rumah, saya sempat kaget, ketika mendapati keponakan saya (anak kakak sepupu) mengerjakan PR sekolahnya dibantu Buliknya (kakak sepupu saya yang lain). Yang membuat saya kaget adalah, dua orang keponakan saya, Iza ,kelas 3 SD dan kakaknya Nana, kelas 5 SD mengerjakan soal matematika yang saya nilai cukup sulit untuk anak seumuran mereka. Iza mengerjakan soal perkalian pecahan dengan bilangan puluhan, dan Nana mengerjakan soal bangun ruang, yang seingat saya sering keluar di soal ujian PNS atau Tes Potensi Akademik level S1 sodara2.

Meski kedua keponakan saya ini termasuk anak yang cukup pintar, dilihat dari prestasi di sekolahnya yang selalu masuk 3 besar, saya melihat keduanya juga mengalami kesulitan dalam memahami soal-soal tersebut. Dan ketika saya mencoba mengingat kembali jaman SD saya dulu (20 tahun yang lalu), saya merasa pelajaran sekolah level SD saat ini jauh lebih sulit. Entah apakah saya yang lupa atau memang demikian adanya. Ada yang tahu?
Terlepas dari tuntutan perkembangan jaman yang mungkin merubah sistem pendidikan kita, saya generasi yang lahir tahun 80an merasa porsi bermain saya masih banyak. Waktu istirahat yang cukup lama, kemudian pulang sekolah masih bisa bermain sejenak sebelum mengaji di masjid. Bermain dalam hal ini benar-benar bermain di luar ruangan, main sepeda, main kasti di lapangan, layangan, dsb. Sedangkan saat ini, anak SD bersekolah di sekolah terpadu yang pulang sore, dengan setumpuk PR atau hafalan Quran, dilanjutkan dengan les mata pelajaran. Waktu bermainnya? Hanya nonton tv atau main games di gadget.
Tidak, saya sedang tidak mengkritik kurikulum atau pun sistem pendidikan saat ini, karena saya sadar sama sekali tidak punya kapasitas atau kapabilitas untuk membahas sistem pendidikan. Tapi saya mencoba menganalisis dari dampak pendidikan yang saya alami dulu pada kehidupan saat ini, dibandingkan dengan apa yang anak-anak, generasi saat ini, peroleh dari pendidikan sekolahnya dan mencoba membayangkan apa efeknya pada kehidupan mereka di masa yang akan datang.
Anak usia SD menurut saya sangat penting ditanamkan nilai-nilai dasar hidup, seperti kejujuran, kesantunan, keberanian, kesabaran, toleransi, kerja sama, bersosialisasi dan berbagi. Bukan hanya berfokus pada kurikulum atau mata pelajaran yang mengasah otak kiri saja.
Saya sama sekali tidak ingat pelajaran saat SD dulu, tidak ada yang berkesan. Namun yang saya ingat adalah bagaimana saya dan teman-teman ikut Jambore tingkat Kabupaten, berlatih berminggu-minggu untuk ikut lomba ansambel musik, jadi dokter kecil, berantem sama teman sekelas gara-gara ngeributin syair lagu Tanah Air, hahaha. Dan baru saya sadari disinilah nilai hidup mulai diasah dan diajarkan, disinilah kita mulai belajar untuk hidup.
Dan membicarakan pendidikan tidak hanya seputar sekolah saja, lingkungan keluarga dan masyarakta tempat kita bertumbuh juga sangat membentuk diri kita. Saya tumbuh di lingkungan pengajar atau pendidik. Orang tua saya guru, Bulik, Pakde dan sebagian besar saudara sekitar 80 persen berkecimpung di dunia pendidikan. Dan ada beberapa hal menarik yang saya pelajari dari bagaimana orang tua saya mendidik anak-anaknya.

1.      Orang Tua saya tidak pernah membandingkan anak-anaknya
Dibanding kedua kakak saya, saya menyadari secara akademis prestasi saya paling rendah. Kedua kakak saya sejak kecil sering jadi Juara Umum di sekolah, nilai matematika dan bahasa inggris bagus, populer, dsb. Saya, paling banter juara kelas, belum pernah juara umum, hehe. Tapi tidak pernah sekali pun orang tua saya membandingkan kemampuan saya yang biasa aja dengan kedua kakak saya. Saya sendiri lama kelamaan yang malu dengan prestasi belajar saya, tulisan tangan saya juga tidak serapih kedua kakak saya. Tapi orang tua saya tidak pernah memaksa saya untuk belajar. Saya sudah bisa membaca sebelum TK karena  ayah saya sering membawa saya ke toko buku untuk memilih buku bacaan. Begitulah ayah saya mengajari saya belajar dengan menyenangkan. Bahkan saya mengerjakan PR di meja makan saat sarapan, haha. Sedangkan untuk pendidikan formal saya belajar dari melihat kakak-kakak saya.

2.      Pendidikan Agama Nomor 1
Di lingkungan keluarga saya, agama menjadi hal wajib untuk dipelajari sejak kecil. Orang tua saya jarang menyuruh saya belajar pelajaran sekolah, tapi jika tiba waktu sholat atau mengaji tidak boleh terlambat. Waktu Maghrib tidak ada TV, jadi sore sampai malam kami beraktivitas di musholla dekat rumah. Meski ujung-ujungnya yang namanya anak kecil ya tetep main-main haha. Saat SD juga saya dimasukkan ke Taman Pendidikan Al-Quran di Masjid Agung untuk belajar Al agama. Pernah sewaktu SMP ayah saya menawarkan untuk masuk pesantren, tapi tanpa pikir panjang  langsung saya tolak, haha. Dan sekarang saya menyesalinya.

3.      Perencanaan itu penting
Ayah saya selalu mengajarkan saya selalu terstruktur dan rapi dalam merencanakan sesuatu. Tidak ada istilah hidup mengalir seperti air. Kalau mau berhasil harus direncanakan dengan baik. Apa yang saya lakukan setiap hari direncanakan, dicatat, dijadwal. Nah mungkin berawal dari itu, kebiasaan mencatat dan merencanakan segala hal terbawa sampai sekarang.

4.      Aktif berorganisasi dan kegiatan sosial
Saat Ramadhan tiba saya yang masih krucil diajak dan dilibatkan dalam kegiatan Ramadhan di Musholla dekat rumah. Yah meski Cuma bantuin gelar karpet or ikut menakar beras zakat, dari sini orang tua saya mengajarkan untuk aktif di kegiatan masyarakat. Di sekolah saya juga didorong untuk aktif di ekstra kurikuler; Pramuka, Basket, musik atau majalah dinding sekolah. Sehingga hal ini terbawa saat saya kuliah dan bekerja.


Dari keempat hal di ataslah saya banyak belajar menjalani hidup sampai saat ini. Sekalipun dalam perjalanannnya banyak hal juga yang kadang tidak sependapat dengan orang tua saya, dan itu wajar saja terjadi. Baiklah, selamat hari pendidikan dan semangat belajar kawan! 

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment

Instagram Shots

Instagram

Flickr Images

Popular Posts