Terbangun dari Mimpi (1)

Aku tidak pernah merasa cantik. Tapi untuk kali ini, perasaan itu membuncah sampai jantungku berdegup cepat tak seperti biasa. Begitu jernih, murni dan tulus. Putih, bersih, juga sejuk dan ups,,, dingin. Aku merasa begitu hidup, dan cantik. Di tengah kebekuan yang menyelimuti setiap sudut, aku hidup, hangat, dan bernafas! Seuntai kalimat melintas, lebih baik mati, daripada sehari saja hidup dalam kegelapan dan kebekuan. Kegembiraan ini tak bisa ditahan, menarik-narik ujung mulutku untuk tertawa, tersenyum, menakjubkan. Aku berwarna, aku merona, aku bahagia.

Tapi ada yang sedikit mengganggu, suara itu. Bergema dari kejauhan dan lama kelamaan semakin jelas. Suara berdering, semakin dekat, semakin nyaring.
KRIIIINGGG!!! KRIIINGG!!!
Pipit tersentak, didepan matanya gelembung-gelembung screensaver menari-nari.



KRIIINGG!!! Suara itu semakin memekak. Sejenak ia kehilangan arah, sedetik kemudian tangannya terulur dan otomatis terucap dari mulutnya:

Selamat siang, vixitel, ada yg bisa dibantu?
Suara terkekeh di seberang, menariknya kembali ke bumi.
Malem mbak pipit,, dah ngantuk ya? Seraut wajah muncul di kepala pipit dan ia benar-benar bangun sekarang.
Eh Pak Brama? uhm iya nih, ketiduran. Pipit mengerjapkan matanya.
Oalahh, emang bener kata orang-orang, ada jin penunggu marketing nih, hehe.
Pipit menggaruk kepalanya,jin? Haduuhh.

Udah mau jam sebelas loh, mbak, jangan malem-malem pulangnya. Tapi nanti kalo mau pulang saya minta tolong ya, mbak.
Oh, gimana pak? Sebentar lagi saya pulang, mata pipit melirik jam sekilas.sepuluh menit lagi.
Kata Pak Hendar kan kunci ruang data ada sama mba pipit, nah minta tolong ya sekalian ambilkan data WB2001, trus anter ke ruang saya ya.
Oh, berkas, apa pak? W duaribu...

WB2001, Doubleyou Beta duaribu satu, pak brama mengulang,
kalo gak salah di rak paling kanan, sekitar nomor 3 dari depan. Kalo mbak pipit udah capek or takut kemaleman, ya minta pak warno, securiti loby suruh anter ke ruangan. Oke mbak?
Mmm, sebentar pak, pipit meraih kertas dan spidol terdekat, WB2001, rak kanan no 3 dari de-pan. Ia menulis sambil memastikan,
He-eh, kalo ga ketemu, hubungi saya lagi ya, makasih lho mbak, kalo capek nitip pak warno aja ya.
Baik pak. Iya nanti saya anter. Jawab pipit, meski di kepalanya sudah terbayang kamarnya yang hangat, pulang-pulang-pulang.

Bergegas pipit mengaduk-aduk tasnya, kunci berlabel biru akhirnya dia temukan di saku depan tas besarnya. Dengan gerakan cepat ia matikan PC dan membereskan meja kerjanya, keluar dari kubikel hijau lumutnya. Ruangan yang tadinya senyap, berubah hidup dengan gerakan gadis itu yang terburu2, derak kursi, gemerincing kunci, tumpukan buku dan kertas yang ditata sekenanya.

Plisss jangan rindukan aku besok yaa,,, teriak pipit semakin memecah kesunyian.
Besok hari minggu, dan sekarang malam minggu jam sebelas malam, ia masih ada di kantor. Teman seruangannya sudah pulang dari magrib tadi. Pipit tertahan karena laporan bulanannya belum selesai, menunggu email laporan terakhir dari Semarang. Sebenarnya email sudah ia terima dari jam sembilan, dan setelah merampungkan tugasnya, begitu lega malah tertidur di mejanya.
Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Pipit bergegas keluar menyusuri koridor yang biasanya tak pernah lengang, sekalipun malam hari. Departemen tersibuk di gedung ini. Marketing. Apalagi tiga bulan terakhir, ia lalui tanpa henti. Kegiatan memuncak justru di akhir pekan. Masih terdengar orang bercakap2 di ruangan sebelah, di ujung kanan ia masih melihat Pak Cokro, kepala bagian sedang bercakap di ponselnya. Berbelok ke kiri pipit melangkah menuju ruang data yang terletak di sebelah ruang administrasi yang terlihat gelap. Dengungan singkat terdengar ketika tangannya menggesek kartu identitasnya, ia mendorong pintu kaca dengan mudah. Pintu kedua ia buka dengan kunci yang ia bawa. Ruangan seluas 5 kali 5 meter selalu dalam keadaan terang. Data dan arsip perusahaan terpusat di sini. Petugas ruangan ini, tadi siang menitipkan kunci padanya, dua minggu terakhir ia memang berkutat di ruangan ini. Kekacauan data base, membuatnya harus mencari data secara manual.
Hufff, ia menghembuskan nafas, arsip WB2001 yang dimaksud Pak Brama, bukan cuma sebuah, tapi setumpuk. Ia harus mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil arsip itu dari rak. Meski tak seberat penampakannya, pipit tetap harus menggunakan dua tangan untuk membawanya. Nampaknya arsip WB2001 seperti laporan audit internal tahunan.
Ruangan Pak Brama berada dua lantai di atas ruangannya, Pipit memutuskan untuk menitipkan saja ke satpam, ia melirik jam tangannya, 23.16.
Baru saja ia mengucapkan terima kasih pada Pak Warno yang langsung mengacungkan jempol padanya, tasnya bergetar, ponselnya kini yang meraung2, Pak Dito, bosnya. Ia menahan nafas.
Dah pulang pit? Pipit berteriak dalam hati, sudaaaaaah, tapi yang keluar dari mulutnya adalah masih di loby pak.

Oh, Pak Brama dah nelpon?

Ya ni baru ngambil datanya, baru mau diant...

Oh saya nitip ya, ambilkan proposal di Pak Brama, barusan saya sudah bilang ke beliaunya ko, Pipit yang ngambil, hari senin kan kamu ke medan, sekalian bawa itu proposalnya, minggu besok Pak brama mau medical check up ke Singapura, ok?

Arrrggghhh,, pipit bersungut dalam hati,,,Tuhaaan tolong hentikan waktu untukku.
Pak warno cuma memandangnya heran, ketika dengan lemas ia meraih berkas itu lagi tanpa kata-kata dan berbalik menuju lift.

Baru kali ini ia merasa muak berdiri di dalam lift, melihat angka bergerak begitu perlahan sambil mengingat-ingat apa ia sudah makan malam atau belum. Magrib tadi ia baru selesai rapat, langsung ke ruang akomodasi mengecek perlengkapan untuk acara konser promosi goes to campus, lalu seingatnya Lena rekannya membagi setengah capucinonya. Pantes perutnya mulai berkriuk kriuk lapar. Sekarang ia menatap dirinya sendiri di dinding lift, matanya terlihat lelah dan bahkan nyaris depresi. Terkadang ia merasa begitu beruntung ada dalam gedung megah ini, menara kedua terbesar di Jakarta, menjadi bagian yang penting dalam setiap denyut aktivitasnya, namun terkadang pula, ia merasa cuma sekrup kecil yang tak berarti, dipindah kesana kemari tanpa perasaan. Bahkan akhir tahun kemarin, seminggu full di pagi hari jadi tukang foto kopi, malam harinya jadi leader event.

Lift berdenting di lantai tujuh. Lelaki memakai setelan santai masuk, dengan ransel di punggung. Melirik ke arah pipit sekilas, lalu kembali sibuk dengan tabletnya. Tipikal manusia di gedung ini sama. Individualis. Pipit yang bersandar di dinding cukup leluasa untuk memperhatikan makhluk di depannya. Tingginya sekitar sepuluh senti di atasnya,Pantalonnya terlihat mahal, kemeja putih yang digulung sampai siku juga terlihat bermerek, matanya menyusuri sampai ke ujung kaki dan terhenti, waow, pipit memandang tak berkedip. Sepatu kets dengan merek yang selalu ia impikan. Matanya menyipit, original apa KW? Pipit tersenyum masam. Hya heyalahhh pit pit, emang kamu yang level kw 2 or 3. Ckckckkk. Duniaaa oh dunia.

Sebenarnya apa sih yg ada dipikiran para orang kaya? Prestise? Seni? Kemeja tak bermerek tak membuatmu jatuh sakit kan? Setelan jutaan rupiah juga tak memastikan jutaan kebahagiaan. Pipit tersenyum kecut. Menertawakan dirinya sendiri. Alah, pikiran orang miskin, ya cuma bisa menyalahkan orang kaya. Kalau sudah jatuh kaya juga pasti akan melakukan hal yang sama. Dasar manusia. Sama seperti orang jelek yang mengalihkan alasan pada inner beauty dan berpikir orang cantik selalu bodoh dan gak tau apa-apa. Begitu tak adilnya hidup ini kalau demikian.

Greg. Tiba-tiba lift berhenti. Layar penunjuk lantai berwarna merah berkedip-kedip sejenak. Tangan Lelaki di depannya terulur ke arah tombol, namun gerakannya terhenti karena lift terasa bergerak kembali. Pipit menarik nafas. Berusaha menghilangkan pikiran-pikiran aneh segala kemungkinan yg terjadi. Berdua saja dengan lelaki tak dikenal di dalam lift lantai sepuluh nyaris tengah malam.

Pipit merasa lift meluncur begitu pelan, namun ia tak bergerak sedikitpun.
Pliss, anter gue sampe lantai 20.
Greg greg.
Lift bergerak. Tapi sebentar, jantungnya berdegup kencang. Ada yang salah. Lift memang bergerak, tapi bukan naik melainkan turun. Begitu pelan tapi masih bisa ia rasakan.
Pipit menelan ludah, ia bahkan tak berani mengedipkan matanya. Orang yang bersamanya juga menatap ke atas, karena lampu berkedip2, tangannya berulang kali memencet tombol untuk membuka pintu yang tetap bergeming.

TAP! Gelap gulita.
Dan tiba-tiba ia merasa lift meluncur cepat, pipit refleks menutup matanya, jantungnya berdesir seketika,
Tuhaan tolong aku, aku mohon, jika aku harus mati bukan dengan cara seperti ini ya Rabb,
tolong aku ,
ampuni aku...
tolong aku...
aku mohon....

(...bersambung)

No comments:

Post a Comment