Salahkah Jika Perempuan takut menikah?



Salahkah jikaperempuan takut menikah?

Pertanyaan ini muncul baru-baru saja di benak saya. Entah. Setelah ditelusuri, saya mencoba mengingat kembali perkembangan pemikiran (cie...) saya tentang hal ini. Hal apa? Pernikahan tentu saja.


Saya tumbuh dengan normal di lingkungan keluarga yang baik-baik saja. Secara umum tanpa perselisihan besar atau bahkan masalah perceraian (naudzubilah). Dalam waktu singkat saya mengenal konsep pernikahan yang 'benar' melalui sebuah lingkaran kecil dan lingkunganyang begitu kondusif., tak terlewatkan juga masa-masa ketika pipi yang merah dan panas jika pembicaraan tentang tema ini semakin seru. Dan saya nilai ini wajar karena saya perempuan normal. Akhirnya terbentuk pemikiran yang begitu ringan (bukan menggampangkan)tentang konsep menikah. Di pikiran saya waktu itu menikah itu suatu bagian atau fase dari kehidupan yang menentukan. Dan saya yakin cukup dengan niat dan tujuan yang benar akan melampui fase itu dengan baik. Hal lain akan kita pelajari sejalan dengan waktu.

A person in a white dress

Description automatically generated

Saya memahami konsep pernikahan dengan begitu sederhana. Maksudnya?

Saya tak terlalu menggebu-gebu atau berambisi terhadap segala sesuatu yang berbau pernikahan atau ingin secepatnya menikah. Walaupun saya akui pernah jadi fans bukunya Salim A Fillah (he.he.he).saya yakin menikah itu pasti ada waktunya. Tugas kita hanya menyiapkan kualitas diri sebaik-baiknya. Itu saja. Yang lain akan berjalan dengan sendirinya.

Kemudian satu persatu teman selingkaran saya menikah (saya belum lulus kuliah waktu itu).Saya merasa keyakinan tentang konsep pernikahan itu secara otomatis tersimpan rapi di file otak saya.Kebahagiaan itu relative ko, tergantung kita yang menjalaninya, .Tepatnya aman-aman saja. Life must goon. Dalam artian saya sepakat saja dengan konsep menikah muda, tanpa pacaran, sekufu, dsb lah. Tapi saya juga ngga ngoyo untuk meminta dicarikan ikhwan karena panas (terprovokasi) ditinggal menikah oleh saudari-saudari saya. Nggak penting banget siiii pikir saya waktu itu, toh kualitas diri saya juga belum optimal. Ya kalo ada yg langsung mau, kalo ga? Apa ga tengsin ??


Tapi tiba-tiba saja saat ini,sembilan bulan setelah saya lulus kuliah, file di otak saya tentang konsep pernikahan sedikit goyah. Dalam jeda waktu itu begitu banyak konsep dan fakta yang keluar masuk di pikiran saya. Berawal dari satu persatu kedua kakak perempuan saya menikah. Teman terdekat dari kakak kelas, teman seangkatan sampe adek kelas pun satu persatu menggenapkan setengah diennya(alhamdulillah dan barakallah semua...)


Celetukan, cerita, curhat sampe keluhan pun mengalir. Dan itu semua seolah membuka mata saya. Konsep yang begitu aman tersimpan satu persatu memunculkan pertanyaan pertanyaan yang sayaanalisa mengerucut pada satu hal : menikah tidak cukup kesamaan tujuan. Banyak sekali hal yang perlu dipertimbangkan. Seolah saya seperti diguyur air dan suara "menikah itu ga mudah non!"terus menerus berulang dan kini hal itu malah memunculkan rasa takut sekaligus benci pada makhluk yang bernama laki-laki(asli! Saya juga jadi heran sendiri bgimana ceritanya sampai melahirkan rasa risih >>ga tega bilang jijik<< sama laki-laki begitu)

Contoh kasusnya gini; suami yang begitu santainya cari nafkah karena sang istri juga berpenghasilan. Jadi mereka anteng-anteng aja tuh nyari rizkinya (ga banting tulang peras keringat,' nyante non belanda masih jauh', 'eh bini gua juga kerja kok!)


Hal ini membuat saya menyalahkan emansipasi. Kenapa? Begitu mandirinya perempuan sampe-sampe sang lelaki merasa ga perlu bekerja sepenuh tenaga mereka buat nyari nafkah sebaik-baiknya dan sah-sah aja tuh mempertahankan gengsi milih2 kerjaan dan dengan santainya makan dari duit istri.


Fenomena sang istri yang lebih mapan begitu mudah saya temui saat ini. Pun di keluarga saya.Perempuan-perempuan tangguh yang berusaha menutupi kelemahan suami, tapi kadang mereka ngerasa lemah juga karena nggak bisa membayangkan 'apa iya seumur hidup  mau gini terus. Hamil iya, ngurusin anak iya, kerja iya, disalahin pula!Mangkel benerrrr...

Kedua para suami yang ga tahu perasaannnnnn (kesel *mode on).


Taaruf singkat menimbulkan konsekuensi:penyesuaian yang cukup lama. Kebiasaan berbeda, cara pandang, atau bahkan saling memahami perasaan dengan cara yang berbeda tak jarang mamunculkan letupan-letupan rasa sakit hati. Lelaki yang begitu logis sekaligus lugas seolah menjadikan mereka tak tahu perasaan di depan perempuan. Menyentak dan perih rasanya ditegur atau dibandingkan dengan perempuan lain misalnya.Sadarkah mereka bahwa perempuan sangat benci jika dibanding-bandingkan? Apalagi ga ngerti waktu dan tempat yang tepat. Mmphhhfhh... tarik nafas dalem dalem dah gara-gara nahan tangis.


Kedua contoh di atas paling sering saya temui. Bukan berarti saya membela sepenuhnya perempuan2 tadi, dan mengakui ketidak ikhlasan mereka. Ikhlas si ikhlas tapi... ya gitu deh.

Sepertinya para suami diharap s-e-d-i-k-i-i-i-i-i-i-t saja  m-e-n-a-h-a-n ego mereka. Bukan berarti pula saya mengeneralisir semua laki-laki demikian, tapi ini sebagai masukan bahwa :hai para lelaki sebelum menikah belajarlah, jangan sok yakin gitu lah.


Bagi yang sudah menikah mulailah instrospeksi segala sesuatu yang telah dilakukakn pada istri tercintah. Belajarlah mendengarkan. Daripada keluh kesah istrididengar orang yang tidak tepat, apa g berabe nantinya? Untung mereka curhatsama saya .Weleh...


STOP! Jangan marah dulu. Saya tidak menafikan ada rumah tangga yang adem-ayem, damai-bahagia-sejahtera-sepanjang masa. Sama sekali tidak. Memang masih banyak contoh keluarga yang bisa dijadikan teladan. Tapi kok rasanya saya juga tak bisa menutup mata-telinga dari kenyataan yang begitu dekat. Sungguh nyeri rasanya mendengar saudari2terlalu sering menahan perasaan mereka, sedang saya tak mampu berbuat apapun kecuali curhat disini!

Jadi kesimpulannya : saya masih takut menikah (gubrakkk...!) 

ada yang bisa Bantu mempengaruhi pikiran saya??

 

No comments:

Post a Comment