In Inspirasi

Inspiration DAY


Hari ini begitu banyak hikmah, nasihat dan peringatan untukku…salah satunya?
Aku dapat inspirasi lagi untuk judul penelitian. Hurayyyy!!!
Tadi pagi kuliah teori organisasi . Nggak tahu kenapa ga pernah ngantuk kalo kuliah yang satu ini. Hehe…Salah satu topik presentasi yang dikupas adalah tentang PARADIGMA dilihat dari segi sosiologis. Bapaknya selalu berkata bahwa kita, di Indonesia, secara sistem baik pendidikan, pemerintahan, ekonomi, dll selalu berada dalam kuadran FUNGSIONALIS, dan yang namanya fungsionalis aku tangkap sebagai “Amerika bangetttt”. Kalo dilihat
dari komennya si dilihat bapaknya sudah gerah dengan kondisi ini. Secara, beliau kan lulusan British! Rada sentimen kali ya dengan Amerika punya. Hehe pisss…..(^_______^V)
Dan lama kelamaan diskusi merembet ke masalah spiritual. Dimana sekarang yang namanya spiritual itu Cuma jadi alat alias instrumen. Kenapa? Dilihat dari fenomena akhir2 ini (halah gaya…., fenomena?ngomong apa aku….) dimana spiritual emang jadi komoditi yang laris. SQ jadi pedoman atau kunci untuk meningkatkan kinerja karyawan. Mendorong motivasi dan produktivitas. Lalu dimana letak kesalahannya? Bukannya bagus?
Salahnya adalah ternyata kalau dilihat lagi yang namanya SQ itu justru ujung2nya sebagai alat untuk meningkatkan kekayaan. Harta. Laba dsb lah. Jadi sayang sekali, sesuatu yang begitu mulia, hubungan kita dengan ALLAH dimanfaatkan untuk tujuan akhir yang sangat sepele: HARTA. That’s the point!
Waow…menarik bukan? Menarik karena itu terlontar dari seorang akademisi yang notabene harus memposisikan diri secara independen. Meski ragu juga si, bapaknya independen or emang harus dituntut untuk mengkritisi segala hal? Yah whatever lah. Yang jelas aku yang tumbuh di lingkungan yang secara umum homogen, kondusif, selalu menganggap prinsipku itu benar. Titik. Tidak bisa diganggu gugat. Aku selalu menggunakan kacamataku untuk melihat segala sesuatu. Jujur, jarang aku berpikir dari sudut pandang yang berbeda. Mencoba obyektif adalah sebuah positivisme. Miskin nilai dan sebuah kesalahan.
Tapi hal ini membuatku membuka mata. Kalau selalu menganggap diri sendiri benar, kapan kita berkembang? Betul tidak? Keyakinan atau pendirian itu penting, namun itu tidak boleh membuat kita lantas tutup mata dan telinga terhadap pandangan yang lain. Cuma yang aku kurang setuju adalah : tak ada kebenaran yang absolut. Ya jelas ada lah!, kebenaran dari Allah Ta’ala. Itu adalah kebenaran mutlak. Tak dapat diganggu gugat. Yang mungkin bisa salah adalah interpretasinya saja. Dan tugas kitalah mencari ilmu untuk menginterpretasikannya secara benar.
Paradigma adalah masalah yang menarik. Apa sih paradigma sebenarnya? Paradigma adalah cara pandang. Sekilas yang pernah aku baca adalah bahwa paradigma kita adalah selera kita (Kalau terlalu berat jika kita sebut sebagai prinsip). Mudahnya bisa dianalogikan dengan bagaimana kita memilih mainan atau baju. Beberapa dari kita mungkin lebih memilih boneka sebagai mainan, teddy bear or barbie or ipin upin, (wkwkkkk…) dan  yang lain mobil-mobilan atau bahkan PS. Kemudian baju sesuai kenyamanan kita. Jika kita dipaksa memakai baju atau memilih mainan yang beda atau tidak sesuai keinginan, kita biasanya akan bilang “ ihhh bukan gue bangettt…” ya kan? Jadi intinya adalah masalah kenyamanan. Itu saja. Lingkungan atau hal yang lain yang mempengaruhi itu bisa saja merubah paradigma kita. Tapi tetap saja itu pilihan kita masing-masing. Dan pastinya, setiap pilihan membawa konsekuensi tersendiri.
Lalu bapaknya berkata lagi. Contohnya adalah; ada ekonomi konvensional lalu muncul ekonomi syariah. Ada bank konvensional ada bank syariah, kemudian bermunculan lagi instrumen lain yang tampaknya sengaja di syariahkan; asuransi syariah, JII , obligasi syariah dan segala hal yang berlabel syariah. Tapi sudahkah menyentuh kepada tujuan mendasar dari ekonomi Islam? Kesejahteraan umat? Nonsense!. Itu bukan ekonomi alternatif kata beliau. Itu Cuma tambahan. Cuma pilihan saja bagi para nasabah. Secara paradigma ya tetap saja kita masih FUNGSIONAL. Jadi apa yang terjadi saat ini belum sampai pada yang namanya Ghazwul fikri, perang pemikiran, baru sampai pada tahap perang produk saja.
Lalu aku berpikir, apa iya? Seingatku, sekarang jamannya do it now! Memang produk2 tadi Cuma alat. Oke, sepakat dengan itu, tapi bukannya itu baru permulaan? Ingat! Masyarakat kita adalah masyarakat visual. Dimana lebih mudah melihat hal atau pemikiran secara nyata. Yang dapat mereka lihat, sentuh, rasakan. Bukan Cuma berkutat pada pemikiran saja. Itu masalahnya. Bukankah sudah berpuluh tahun lalu pemikiran tentang ekonomi syariah itu terlontar. Dan saatnya sekarang adalah memasyarakatkannya. Dengan cara apa? Ya  mulai dari produk2 syariah yang mudah dipahami. Yang Membumi.
Memang harus diakui masih banyak hal yang harus diperbaiki. Secara kaidah fiqih atau apapun itu.Misalnya penentuan bagi hasil, dasarnya apa? Sama aja kok dengan penentuan bunga. Atau kok bagi hasil bank syariah tinggi banget kalau pinjem dana? Ah istilah bank syariah ribet, ga ngerti. Bahkan Aku pernah denger dari kakak kelas yang berkecimpung di bank syariah juga pernah berkata bahwa memang internal bank syariah masih bobrok. Dan lain-lainnya. Pendapatku?
Ya iyalah, coba deh kita lihat secara makro. Dibanding bank konvensional, LDR di bank syariah itu tinggi, NPL nya rendah. Apa artinya? Bank syariah itu berupaya keras berperan sebagai lembaga intermediasi, kawan! Dia mengoptimalkan dana nasabah dengan menyalurkannya sebagian besar melalui kredit, ke sektor riil. Sehingga tanggung jawab kepada pemilik dana juga besar karena risiko kredit itu besar. Cara menjaga dari NPL atau kredit macet  adalah dengan sangat selektif dalam memberikan kredit dan bagi hasil yang tinggi untuk bank. Karena itu dana umat yang harus disalurkan dengan hati-hati. Harus amanah. Jadi, sementara ini yang sudah ada adalah bagi hasil, bagi rugi belum ada. Kecuali kalau kita sebagai nasabah sudah siap mental dan ikhlas kalau dana yang kita tanamkan berkurang untuk mengantisipasi kerugian. Sudah sampai tahap itukah??? Jauhhhh. Jadi, inilah langkah awalnya. Dan bisa dilihat bank syariah mempan dari terjangan krisis ekonomi. Dengan anggun masih tegak berdiri. Wuihhh…keren kan? Secara awam mungkin itu yang aku tangkap.
Jadi percayalah, itu investasi kita terhadap umat. insyaAllah berkah. Amiin.  Dan itu tugas kita bersama bukan? Praktek membuktikan lebih banyak hal dibanding dengan kita berperang lewat paradigma atau cara berpikir saja. Teori saja. Omong kosong namanya.
Dan dari sinilah aku bisa menangkap bahwa yang namanya fungsional adalah pendekatan praktis. Langsung bisa digunakan. Meski lama kelamaan memang praktisnya jadi kebablasan. Segala hal di fungsikan tidak pada tempatnya. Dan tidak menyentuh hal yang fundamental karena terlalu digeneralisir penggunaannya. Tapi sifatnya yang praktislah yang membuatnya berjaya saat ini. Karena masyarakat kita adalah masyarakat yang berpikir “lihat buktinya dulu baru percaya” dibanding “percaya dulu baru lihat buktinya”.
Kemudian ketiga paradigma di luar fungsional_yang kata bapak sangat mendasar keilmuannya atau menyentuh hal-hal yang fundamental, menurutku justru sulit dilihat karena bisa dibilang Cuma “ngemeng doang”(maaf…njiplak istilahnya mita). Maksudnya? Ya bisa dilihat lah begitu banyak penelitian atau pemikiran yang ditulis tapi itu semua cuma wacana. Kita semua perlu bukti. Bisa dilihat dari ketiga presentasi hari ini yang berujung pada kata-kata sang presenter : “tidak bisa disimpulkan”, “tidak bisa dibuktikan secara empiris”, dan satu lagi “hanya wacana atau sebuah usulan” bahasa kerennya “rethinking”. Hahay… i get it!
Sehingga harus dicari jalan tengahnya dimana, kita peroleh paradigma dengan ilmu yang mendasar dan dalam sekaligus mudah atau bisa diaplikasikan. Apakah itu sebuah paradigma baru atau hanya gabungan or kombinasi dari beberapa paradigma?  Ini yang harus dicari lebih lanjut kawan!
Ada yang mau protes? Silahkan saja, ada yang kurang? Silahkan dilengkapi, ada yang salah? Tolong dikoreksi…bukankah lebih baik kita debat masalah seperti ini dari pada meributkan ‘hal lain’ yg bikin ga enak hati?
Jadi, judul yang bagus apa yaaaa???ada usul? Tolong ya… dibantu yaaa…hehehehe

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment

Instagram Shots

Instagram

Flickr Images

Popular Posts