Ibuk dan Bapak, apa kabar?
ternyata begini rasanya hidup sebagai manusia dewasa. Apa yang kita pikirkan belum tentu terjadi, belum tentu menjadi nyata. Tidak semua mudah, dan semakin kesini jalannya makin sunyi, makin sepi.
Aku suka sendirian, mungkin karena terlalu lama dan menjadi biasa. Tapi ternyata kesepian itu lain hal. Pikiran ku semakin hari semakin berisik, tapi tidak ada tempat untuk berbagi keriuhan ini.
Perlahan kuselesaikan satu per satu urusan, target, kewajiban. Sudah. Tidak ada apresiasi selain dari diri sendiri. Sungguh aku sudah berhenti mencari validasi, dari apapun dari siapapun. Tapi kenapa rasanya tetap hampa ya, Buk?
Dan aku pun bingung mau maju ke arah mana lagi, untuk apa? Atau untuk siapa?
Ternyata sudah 6 tahun sudah berlalu, sejak aku resmi jadi yatim piatu. Dan aku merasa belum ada perubahan signifikan. Lebaran tahun ini akhirnya kami bertiga ngumpul di rumah Bapak Ibu, aku kira akan jadi semangat baru atau pun arah baru. Ternyata aku salah juga.
Semuanya sibuk sendiri.
Maaf ya Pak, maaf ya Buk. Ternyata dewasa itu berjuang tanpa henti, dan aku baru paham. Sedikit.
Dan aku baru menyadari kalian hebat, bersama membesarkan 3 anak Perempuan, bisa tumbuh dengan sehat, dididik dengan baik, diajarin sopan santun, selesai sekolah dan kuliah, menikah, berumah tangga. Ya meski tidak mungkin semuanya berjalan sempurna tanpa masalah.
Jujur, aku pernah kecewa sama bapak ibuk. Sebagai anak bungsu, aku merasa tidak pernah diusahakan sebegitunya. Iya aku sadar aku tidak sepintar dan sepotensial Mbak H dan Mbak F. Cari sekolah saja misalnya, aku merasa tidak pernah dicarikan, dipilihkan, diusahakan. Bapak sampai nyariin sekolah jauh-jauh ke Bogor buat mba F, sedangkan aku mau sekolah di Purwokerto aja ndak boleh. Bapak sampe nganterin mbak H kemana-mana buat tes CPNS, sedangkan aku? aku si anak bungsu ini ke Bogor, ke Jakarta, ke Jogja sendiri loh Pak. Aku cari sendiri aku pilih sendiri. Dan hingga akhirnya aku berhasil lolos CPNS pun, Bapak masih sempat mempertanyakan, dikira aku bohong. Sedih.
Tapi meski begitu, aku yakin itu semua juga berkat doa-doa Ibuk sama Bapak yang rajin sholat malam. Aku yakin itu semua karena sedekah dan tirakat Bapak dan Ibuk juga.
Dan ternyata kalo dipikir lagi, karena sering kesana sini sendiri itu lah yang buat aku kuat ya, Buk. Kalo gak karena rasa kesel dan kecewa itu, mana berani aku kemana-mana sendiri, belajar dari pengalaman, mencoba segala hal, berani mengambil risiko dan pilihan.
Apakah itu tanda dewasa?
Dewasa itu harusnya mampu menerima kenyataan, sepelik apa pun. Bukan terus menerus menghibur diri dan lari dari masalah. Iya itu aku, Buk. Yang belum dewasa secara mental.
Aku lari.
Aku Lelah terus optimis.
Aku kemarin mencoba dan gagal lagi Pak, Buk.
Aku sempat merasa lega, akhirnya aku akan nikah tahun ini, ternyata salah. Lagi.
Salah Paham paling memalukan adalah mengira kita sedang dicintai, sedang diusahakan.
Deg.
Aku sudah mencoba menyesuaikan ritme, membuka diri dan membuka hati. Satu sisi pengen nangis, satu sisi juga pasrah. Ternyata aku tidak seberharga itu untuk diperjuangkan.
Trus mau gimana lagi? Harus gimana tepatnya?
Entahlah.
Aku berupaya menyusun lagi rencana-rencana baru, meski terbesit sedikit rasa pesimis. Aku mencoba bangkit kok.
Tapi pelan-pelan saja ya.



No comments:
Post a Comment