In me

Kehilangan Itu Menyakitkan, kawan!


Dalam fatwa Ibnu Taymiyah dikatakan; Tidak ada baiknya orang yang tidak suka harta.
‘Laa khaira fii man laa yuhibbul maala, ya’budu bihi rabbahu wa yuaddi bihii amaanatahuu wa yashuunu bihi nafsahu ‘anil khalqi wa yastaghni bihi’.
Tidak ada kebaikan pada diri orang yang tidak suka kepada harta, yang dengannya ia menyembah Tuhannya, menjalankan amanahnya, menjaga kehormatan dirinya dari (meminta-minta) kepada orang lain dan mencukupkan untuk (kebutuhan) dirinya.
Yang dilarang Al Quran adalah hubban Jamman. Cinta yang sangat berlebih-lebihan kepada harta. Itu yang tidak boleh. Tapi, kata Ibnu Taymiyah, tidak ada kebaikan orang yang tidak suka  harta, yang dengan itu beribadah kepada Rabbnya, menunaikan tugas amanahnya, memelihara dirinya dan menjaga dirinya dari ketergantungan kepada orang lain (Fatwa Ibnu Taymiyah Juz 7).


Paragraf di atas kukutip dari buku ‘Menghilangkan Trauma Persepsi’ yang ditulis Ust. Hilmi Aminuddin. Ketika mulai tidak konsentrasi terhadap apa yang kubaca dan bertanya pada diri sendiri: Apakah  aku sedang mencari pembenaran diri atas apa yang terjadi belakangan ini? Tidak. Apakah aku sedang mencari penghiburan diri? Mungkin. Apa aku sedang mencoba mengikis rasa kehilangan? Emm...ya. Dan, apakah lantas itu semua membuat aku kehilangan harapan? Tentu saja tidak.

Yang jelas aku sedang butuh motivasi. Hingga akhirnya kuaduk-aduk buku-buku dan terambillah buku ini. Aku butuh energi untuk bangkit, dan inilah yang biasanya kulakukan ketika berada di suatu titik jenuh. Kering motivasi. Membuka kembali buku-buku penuh nasihat dan hikmah. Menenangkan.
Dan harus diakui kemudian; aku lemah. Aku takut. Berulangkali aku berkata pada diri sendiri: ’Begitu saja menyerah, baru laptop yang hilang saja langsung terpuruk! Heran. Barang bisa dicari lagi kan?Allah sedang mengujimu, seberapa sih kualitasmu? Cuma laptop, neng! Sekedar laptop. Sudahlah...’
Harapan. Begitu indah. Persis seperti yang kurasakan saat pertama kali memperoleh laptop itu dulu. Harapan yang selalu kusenandungkan di setiap doa dan ikhtiar. Yakin dan percaya. Itulah yang kulakukan. Hingga suatu hari kakak sepupu yang begitu murah hati menghadiahkannya. Toshiba satellite L655, warna merah, core i3, RAM 4GB, Win7, original OS. Lebih dari yang kubayangkan! Cuma-Cuma pula. Tepat pada saat aku begitu membutuhkannya. Benar-benar tidak disangka-sangka. Rabb, hamba begitu bersyukur, karena segalanya terasa begitu mudah. Sebelumnya.
Saya tidak sedang meratap. Sungguh, saya masih berharap. Berharap laptop itu kembali. Memang sudah satu minggu lewat dari peristiwa itu. Dan entah kenapa justru rasa kehilangan yang sangat baru saya rasakan sekarang. Beberapa menit setelah kejadian saya justru begitu pasrah. Ya sudahlah, mau gimana lagi?
Tapi sekarang, mengapa begitu menyakitkan? Saya seperti kehilangan begitu banyak. Secara nominal mungkin jumlahnya cuma tujuh juta. Tapi saya seperti kehilangan banyak hal. Karena saya sudah merasa ‘dia’ bagian dari diri saya. Rabb ampuni aku jika aku meletakkannya tidak di tanganku, tapi justru di hatiku. Dimana  dengannya aku beribadah kepada-Mu, menunaikan tugas amanahku, memelihara diriku dan menjaga diriku dari ketergantungan kepada orang lain. Kau ingin tertawa, teman? Tertawalah. Aku juga sedang menertawakan diriku sendiri. Begitu menyedihkannya aku.:((
Tapi kau perlu tahu bagaimana dengannya aku mulai memperbaiki hafalanku yang belepotan, mengerjakan tugas kantor or kuliah dengan lancar, menyimpan data penelitian, menulis sesuka hati, meng-upgrade english-literature, merencanakan segala hal, nonton film rame-rame, nge-game (hehehe...), nge-net dimanapun, download artikel, menghibur diri, menikmati me-time, dan...ah sudahlah. Semakin menyakitkan. Memangnya aku sudah tidak bisa melakukan itu semua? Masih memang, tapi tanpa kebebasan. Itu yang mungkin menyakitkan. Di situlah letak kesalahannya.
Harapan itu selalu ada, bukan?. Saya begitu percaya padanya. Cinta, takut, dan harap. Ketiga elemen yang tak terpisahkan. Tiga pilar, kata Salim A. Fillah. Mukmin bertauhid menyembah Allah dengan ketiganya. Takut, harap, dan cinta.
Harap. Satu kata yang mengingatkanku pada surat Al Hijr :56 ;”Ibrahim berkata, Tiada yang berputus asa dari rahmat Rabbnya kecuali orang-orang yang sesat”.
Rabb, mungkinkah Kau sedang menarikku untuk bertumpu hanya pada-Mu? Bukan yang lain? Apakah arti dari semua ini? Kemudahan justru melemahkanku. Membuatku lupa, hanya Kau yang membuat segalanya jadi mungkin. Kau yang  Maha Mengatur segalanya. Bagaimana aku  me-remove passwordku sebelumnya, bagaimana bisa aku mematikan lampu kamarku,padahal jarang sekali kulakukan, bagaimana bisa aku Cuma bisa teriak Tolong! Bukan Maling!, bagaimana bisa aku berpikir keluar kamar secepatnya, sebelum memastikan si pencuri keluar? bagaimana bisa tak ada seorang pun yang melihat seseorang membuka jendela kamarku? Bagaimana bisa aku begitu panik dan takut, bagaimana bisa??? Bisa! karena Engkau telah menuliskannya.
Hanya Engkau tempatku berharap.
Dan sekarang, aku sedang menanti kejutan yang Kau siapkan di balik tikungan itu. Tikunganku. Jalanku. Hidupku. Ajari aku menata langkahku, ya Rabb.
Kawan, kau boleh saja mengatakan aku cengeng, lebay, childish, atau menertawakan kebodohanku, menyalahkanku, terserah. Saat ini aku akan terus berharap dia akan kembali. Kalau ada pilihan, apakah mengeluarkan uang untuk laptopku yang lama ataukah laptop baru meski gratis, saat ini aku pilih opsi pertama.
Terima kasih atas semua perhatian dan motivasinya, teman-teman. Namun, aku sedang tidak ingin dihakimi atau bahkan dikasihani. Aku hanya ingin berbagi. Itu saja.
-Saat rasa takut itu masih ada, my room, Des 2010-

Related Articles

0 komentar:

Post a Comment

Instagram Shots

Instagram

Flickr Images

Popular Posts